EtIndonesia.com – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengalami eskalasi signifikan. Setelah lebih dari sepekan melancarkan serangan udara secara beruntun, Washington kini memasuki gelombang serangan militer putaran ke-10 dengan sasaran yang semakin strategis.
Jika pada fase awal operasi target utama adalah pangkalan militer, sistem pertahanan udara, serta fasilitas rudal Iran, kini fokus serangan mulai bergeser ke jaringan komunikasi strategis, infrastruktur energi, hingga fasilitas yang diduga berkaitan dengan program nuklir Teheran.
Di tengah tekanan militer yang terus meningkat, Iran dilaporkan secara diam-diam kembali berupaya membuka jalur diplomasi. Namun, upaya tersebut langsung ditolak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang justru mengeluarkan ancaman paling keras sejak konflik kembali memanas.
Iran Diam-Diam Mengusulkan Perundingan Baru
Setelah berhari-hari menghadapi gempuran udara dari militer Amerika Serikat, posisi Iran dinilai semakin tertekan, baik dari sisi militer maupun diplomatik.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa di bawah tekanan tersebut, pemerintah Iran secara tertutup kembali menyampaikan usulan kerangka negosiasi baru kepada Washington.
Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan pembentukan koridor pelayaran internasional di tengah Selat Hormuz, tepatnya di wilayah perairan yang berada di antara Oman dan Iran.
Koridor itu diharapkan dapat menjadi jalur aman bagi kapal-kapal dagang internasional sehingga aktivitas perdagangan global dapat kembali berjalan normal di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Namun, proposal tersebut tidak mendapat sambutan dari Gedung Putih.
Pada 21 Juli 2026, Presiden Donald Trump dilaporkan menolak usulan tersebut dan tidak menunjukkan keinginan untuk kembali membuka pembicaraan selama Iran dinilai belum memenuhi tuntutan utama Amerika Serikat.
Menurut sejumlah analis, sikap Washington menunjukkan bahwa pemerintah AS kini lebih memilih mempertahankan tekanan militer dibandingkan kembali memasuki meja perundingan.
Amerika Serikat Memulai Gelombang Serangan Militer Putaran ke-10
Pada 21 Juli 2026, militer Amerika Serikat kembali melancarkan operasi udara besar-besaran terhadap Iran dalam apa yang disebut sebagai gelombang serangan putaran ke-10 sejak konflik kembali meningkat.
Berbeda dengan operasi-operasi sebelumnya yang lebih banyak menghantam:
- pangkalan militer;
- sistem pertahanan udara;
- radar;
- gudang rudal;
- serta fasilitas drone, kali ini sasaran utama bergeser menuju infrastruktur komunikasi strategis Iran.
Menurut berbagai laporan militer, pasukan Amerika berhasil memutus jaringan kabel serat optik utama yang menghubungkan daratan Iran dengan sejumlah pulau strategis di Teluk Persia.
Jalur komunikasi menuju Pulau Khark serta sekitar sepuluh pulau strategis lainnya dilaporkan mengalami gangguan berat akibat serangan tersebut.
Pulau Khark sendiri merupakan pusat ekspor minyak terpenting Iran, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung industri energi negara itu.
Sistem Komunikasi Iran Terpaksa Beralih ke Mode Darurat
Akibat rusaknya jaringan komunikasi utama tersebut, pemerintah Iran segera mengaktifkan sistem komunikasi darurat.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa militer Iran terpaksa mengalihkan komunikasi ke:
- jaringan radio militer;
- terminal komunikasi satelit;
- serta sistem komunikasi cadangan.
Langkah cepat tersebut dilakukan untuk menjaga agar koordinasi antara markas komando dengan berbagai satuan militer tetap dapat berlangsung.
Para analis menilai bahwa apabila sistem cadangan itu gagal berfungsi, Iran berpotensi mengalami gangguan serius terhadap:
- komando militer;
- pengawasan wilayah laut;
- komunikasi sipil;
- hingga koordinasi distribusi energi nasional.
Mengapa Amerika Menargetkan Kabel Serat Optik ke Pulau Khark?
Menurut sejumlah pengamat pertahanan, pemutusan jaringan komunikasi menuju Pulau Khark bukan sekadar upaya mengganggu koneksi internet atau komunikasi sipil.
Serangan tersebut diyakini merupakan bagian dari strategi yang jauh lebih besar.
Beberapa tujuan utama operasi tersebut diperkirakan meliputi:
- melumpuhkan sistem pengawasan maritim Iran;
- memutus koordinasi pertahanan Angkatan Laut Iran;
- mengganggu distribusi logistik energi;
- serta melemahkan kemampuan komando militer di kawasan Teluk Persia.
Dengan terganggunya jaringan komunikasi utama, kemampuan Iran dalam mengendalikan operasi militer maupun aktivitas ekspor energi diperkirakan ikut menurun secara signifikan.
Pabrik Drone Terbesar Iran Ikut Menjadi Sasaran
Selain menghancurkan jaringan komunikasi strategis, Amerika Serikat juga memperluas daftar targetnya.
Dalam operasi terbaru tersebut, pesawat tempur Amerika dilaporkan menyerang pabrik pesawat nirawak (drone) terbesar milik Iran.
Serangan lain juga diarahkan ke sebuah kompleks bawah tanah di dekat Kota Chabahar, Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara.
Menurut berbagai laporan intelijen, pesawat tempur Amerika membombardir pintu masuk terowongan bawah tanah yang diyakini merupakan bagian dari fasilitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), khususnya pangkalan Angkatan Laut mereka.
Kompleks bawah tanah tersebut diduga digunakan sebagai lokasi penyimpanan berbagai aset militer penting yang selama ini mendapatkan perlindungan sangat ketat.
Intelijen Israel: Ribuan Mesin Sentrifugal Dipindahkan ke Bawah Gunung
Perkembangan paling mengejutkan muncul pada 21 Juli 2026 ketika The Wall Street Journal menerbitkan laporan eksklusif yang mengutip informasi dari intelijen Israel.
Menurut laporan tersebut, Iran diduga telah memindahkan ribuan mesin sentrifugal pengayaan uranium menuju jaringan terowongan bawah tanah di kawasan pegunungan dekat fasilitas nuklir Natanz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meyakini bahwa fasilitas tersebut diperkuat oleh lapisan batu granit yang sangat tebal.
Kondisi itu dinilai membuat kompleks tersebut jauh lebih sulit dihancurkan dibanding fasilitas nuklir biasa.
Israel khawatir langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Iran untuk mempercepat kemampuan melakukan nuclear breakout, yaitu kondisi ketika suatu negara mampu menghasilkan bahan fisil untuk senjata nuklir dalam waktu yang sangat singkat.
Karena itu, Netanyahu dilaporkan kembali mendesak Presiden Donald Trump agar segera menyetujui operasi militer terhadap lokasi tersebut sebelum fasilitas itu benar-benar siap beroperasi.
Pengamat Menilai Iran Sedang Mengulur Waktu
Perkembangan ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat keamanan internasional.
Sebagian analis menilai bahwa upaya Iran membuka kembali jalur negosiasi kemungkinan hanya bertujuan memperoleh tambahan waktu.
Selama proses diplomasi berlangsung, Iran diduga berusaha menyelesaikan pemindahan berbagai aset nuklir penting menuju lokasi yang jauh lebih aman dan lebih sulit dijangkau.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap mempertahankan posisi yang sama, yaitu bahwa Iran tidak boleh memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir.
Karena itu, sejumlah analis memperkirakan operasi militer berikutnya akan semakin berfokus pada penghancuran fasilitas strategis yang berkaitan langsung dengan program nuklir Iran.
Trump Keluarkan Ancaman Terbuka terhadap Fasilitas Nuklir Iran
Pada 22 Juli 2026, Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang menarik perhatian dunia.
Dalam komentarnya, Trump mengatakan: “Sampaikan kepada rakyat Iran agar mereka bersiap. Saya benar-benar akan menghancurkan kompleks itu.”
Pernyataan tersebut dinilai sebagai salah satu ancaman paling langsung yang pernah disampaikan Trump selama konflik berlangsung.
Pada hari yang sama, sejumlah pesawat pembom strategis B-1 Lancer milik Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan lepas landas dari RAF Fairford, Inggris, menuju kawasan operasi di Timur Tengah.
Menurut berbagai laporan, kompleks bawah tanah yang menjadi perhatian tersebut berada sekitar 138 meter di bawah permukaan tanah, sehingga termasuk salah satu target militer paling sulit dihancurkan menggunakan amunisi konvensional.
Menanggapi keraguan mengenai kemampuan Amerika menghancurkan fasilitas sedalam itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa banyak kemampuan militer Amerika Serikat masih bersifat rahasia.
Ia menegaskan bahwa apabila ada negara yang mampu menjangkau dan menghancurkan target di mana pun di dunia, maka negara tersebut adalah Amerika Serikat.
Israel: Operasi Militer Berikutnya Akan Jauh Lebih Besar
Pemerintah Israel juga mengindikasikan bahwa Washington tengah menyiapkan fase operasi berikutnya terhadap Iran.
Menurut sejumlah pejabat Israel, rencana operasi tersebut telah selesai disusun dan diperkirakan akan memiliki intensitas yang jauh lebih besar dibanding seluruh serangan sebelumnya.
Pada 22 Juli 2026, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memimpin rapat kabinet keamanan yang berlangsung hampir enam jam.
Selama rapat itu, Netanyahu juga melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio.
Berdasarkan penilaian Israel, selama sekitar sepuluh hari terakhir Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) telah menghantam sekitar 1.000 target di berbagai wilayah Iran.
Iran Melancarkan Serangan Balasan
Di tengah meningkatnya tekanan militer, Iran kembali melakukan serangan balasan.
Pada 22 Juli 2026, Iran dilaporkan menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di:
- Bahrain;
- Kuwait;
- dan Yordania.
Selain itu, pemerintah Iran mengklaim telah meluncurkan rudal jelajah (cruise missile) yang menargetkan salah satu pusat data milik Amazon.
Dalam kurun 24 jam yang sama, Iran juga dilaporkan menyerang empat kapal yang sedang berlayar di kawasan Selat Hormuz.
Insiden tersebut kembali meningkatkan ketegangan di jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Tiga Drone Bermuatan Peledak Ditembak Jatuh di Irak
Menurut laporan Reuters pada 22 Juli 2026, tiga pesawat nirawak bermuatan bahan peledak berhasil ditembak jatuh di dekat Konsulat Amerika Serikat di Erbil, ibu kota Wilayah Kurdistan, Irak.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kepentingan Amerika Serikat kini semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Washington Mengeluarkan Peringatan Global
Sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan resmi bagi seluruh warga negaranya di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah meminta warga Amerika untuk:
- meningkatkan kewaspadaan;
- mengantisipasi pembatalan penerbangan;
- bersiap menghadapi penutupan wilayah udara secara mendadak;
- serta mengantisipasi berbagai gangguan perjalanan internasional.
Washington juga mengingatkan bahwa ancaman tidak hanya berada di kawasan Timur Tengah.
Fasilitas diplomatik Amerika Serikat maupun lokasi yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan Amerika di berbagai negara dinilai berpotensi menjadi sasaran serangan dari Iran atau kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya.
Pentagon: Hampir 100 Prajurit Amerika Terluka
Pada 22 Juli 2026, Pentagon mengonfirmasi bahwa sejak konflik kembali meningkat bulan ini, hampir 100 personel militer Amerika Serikat mengalami luka-luka.
Meski demikian, sekitar 96 persen dari mereka telah menyelesaikan perawatan medis dan kembali menjalankan tugas operasional.
Menurut sejumlah pejabat pertahanan Amerika, data tersebut menunjukkan bahwa serangan-serangan Iran terhadap personel militer AS telah melewati salah satu garis merah yang selama ini berulang kali ditegaskan Presiden Donald Trump.
Washington sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap serangan yang mengakibatkan korban di pihak militer Amerika akan dibalas dengan tindakan yang jauh lebih besar. Dengan perkembangan terbaru ini, banyak analis menilai konflik Amerika Serikat-Iran kini memasuki fase yang semakin berbahaya, di mana sasaran operasi tidak lagi terbatas pada instalasi militer konvensional, tetapi telah bergeser menuju infrastruktur strategis dan fasilitas yang dianggap vital bagi kemampuan pertahanan maupun program nuklir Iran. (***)





