The Odyssey dan Moralitas Perang di Dalamnya

detik.com
16 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Film The Odyssey (2026) karya sutradara Christopher Nolan resmi tayang di seluruh bioskop nasional sejak 15 Juli lalu. Film ini menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral.

Jika epos Mahabharata diklaim sebagai kitab rujukan bagi para politisi dunia untuk memahami seluk-beluk dan beragam intrik politik, kisah The Odyssey yang diangkat dari 24 buku karya Homeros merupakan rujukan utama dunia untuk memahami filosofi kemanusiaan dalam perang.

The Odyssey tidak hanya bertutur tentang bagaimana perang dikonsolidasikan, strategi disusun untuk dijalankan oleh para prajurit, atau bagaimana muslihat digunakan untuk mengelabui musuh. The Odyssey bercerita lebih jauh tentang bagaimana dampak perang dapat menjadi penyesalan terdalam bagi para pelakunya. Kisah The Odyssey sangat relevan untuk disimak kembali di tengah kecamuk perang global yang tak kunjung usai hari ini.

Penyesalan Odysseus

Adalah Odysseus, Raja Ithaca yang termasyhur, yang menjadi tokoh sentral dalam kisah ini. Ia dan ribuan prajuritnya berlayar mengarungi laut untuk menyerang Kerajaan Troy. Odysseus tak mengalami kesulitan berarti untuk menaklukkan Troy. Berkat muslihat membangun patung kuda raksasa yang dapat dimasuki oleh seluruh pasukan Ithaca, mereka dengan mudah menyerbu Kerajaan Troy pada malam hari. Pasukan Troy tertipu dan menyeret patung kuda tersebut hingga ke halaman kerajaan.

Malam itu bukan saja menjadi malam yang mudah bagi mereka untuk menembus benteng dan melempangkan jalan bagi Agamemnon dan pasukannya-junjungan Ithaca-untuk masuk ke dalam Kerajaan Troy, melainkan resmi menjadi malam pembantaian.

Seluruh pasukan dan warga Troy dibantai tanpa ampun, tidak peduli perempuan maupun anak-anak. Darah membanjiri seluruh Kerajaan Troy. Prajurit Ithaca yang memenangi perang berpesta dan mabuk-mabukan merayakan kemenangan mereka.

Namun, kemenangan Odysseus atas Troy menjelma menjadi sebuah kutukan. Dalam perjalanan pulang, Odysseus dan pasukannya tersesat. Mereka menghadapi hambatan berat yang akhirnya hanya menyisakan Odysseus sebagai satu-satunya "pahlawan" perang Ithaca yang masih hidup. Mereka harus berhadapan dengan monster bermata satu, Polyphemos, yang membuat banyak pasukan Ithaca tewas.

Mereka juga harus berhadapan dengan penyihir Circe yang mengubah pasukan Ithaca menjadi hewan ternak sebagai simbolisasi sifat tamak mereka.

Hambatan demi hambatan terus menggerus jumlah pasukan yang berlayar pulang. Puncaknya adalah ketika mereka berhadapan dengan monster laut Scylla dan Charybdis yang menghancurkan kapal dan hanya menyisakan Odysseus yang selamat. Ia terdampar seorang diri di sebuah pulau. Odysseus terdampar selama tujuh tahun di Pulau Ogygia. Berkat bantuan para dewa, ia akhirnya bisa berlayar pulang menuju kerajaannya yang dilanda kekacauan dan pemberontakan selama ditinggalkannya.

Bukan Sekadar Fiksi, melainkan Sarat Pesan Moral

Betul bahwasanya kisah The Odyssey adalah fiksi belaka. Namun, Homeros sang pengarang dan Christopher Nolan sang sutradara mengisahkannya dengan sangat hidup dan sesuai dengan realitas zaman-baik pada zaman Homeros hidup maupun dalam dinamika dunia saat ini. Ada banyak pesan moral yang bisa dipetik dari kisah ini.

Perang memang bisa secara lugas dan asertif menentukan siapa yang menjadi pemenang (the winner) dan siapa yang menjadi pecundang (the loser). Namun, sebuah keniscayaan yang menjadi fakta adalah siapa yang menang jadi arang dan siapa yang kalah jadi abu.

Seisi Kerajaan Troy memang menjadi abu karena kedigdayaan prajurit Ithaca yang meluluhlantakkan mereka. Namun, para prajurit Ithaca yang termasyhur karena kehebatan perangnya justru karam dan tewas di laut akibat kecongkakan mereka sendiri.

Odysseus, sang Raja Ithaca, serta Agamemnon, jenderal perang yang tiada tanding, harus dibekap oleh penyesalan yang mendalam atas perang yang telah terjadi. Odysseus terus dihantui rasa bersalah karena melakoni perang tak adil terhadap Troy dan mengabaikan ribuan pasukannya yang tewas tanpa penghormatan yang layak.

Kisah The Odyssey yang ditulis oleh Homeros pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Sebelum Masehi menjadi tamparan keras bagi kemanusiaan hari ini bahwa perang telah menjadi ritus, bahkan habitus, yang selalu membersamai kehidupan umat manusia sejak dahulu kala. Perang menjadi jalan yang dipilih nyaris tanpa dialektika bagi pihak-pihak yang berselisih. Perang juga selalu menjadi cara untuk menahbiskan siapa yang paling kuat dan paling berkuasa di atas segalanya.

Homeros mengisahkannya dengan sangat baik dalam rentetan puisinya yang berjumlah 24 buku. Namun, seperti postulat kaum realis bahwasanya manusia adalah homo homini lupus-serigala bagi sesamanya-dan animus dominandi-makhluk yang selalu ingin mendominasi-isyarat dan peringatan Homeros hanya menjadi kisah yang kerap diabaikan.

Syair-syair Homeros sekadar menjadi kisah masa lalu dan hiburan di tengah perang yang telah menimbulkan kerusakan masif serta menggerus kemanusiaan. Perang Salib yang terjadi pada rentang 1095-1272 Masehi, Perang Dunia I pada 1914-1918 yang dipantik oleh pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria, serta Perang Dunia II pada 1939-1945 akibat invasi Nazi Jerman terhadap Polandia menjadi sekelumit dari sekian banyak perang yang menegasikan isyarat dan peringatan Homeros.

Perang Hari Ini

Dewasa ini, perang kembali berkecamuk dan merusak tatanan perdamaian dunia. Dunia tidak lagi diwarnai oleh multipolarisme yang dicirikan oleh kerja sama antarkekuatan global-baik negara maupun non-negara-melainkan pekat oleh warna rivalitas dan ambisi negara-negara besar (major powers) untuk menyeret tata politik dunia ke mode awal: unipolar, koersif, anarkis, dan konfliktual.

Israel dengan mudah melanggar hukum internasional dan nyaris tanpa hukuman dari komunitas global ketika menginvasi dan merampas kedaulatan bangsa Palestina. Di bawah komando Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan kelompok non-kombatan-perempuan, anak-anak, tenaga medis, hingga wartawan-dilakukan secara sewenang-wenang demi mencapai tujuannya.

Israel bahkan mengulangi habitus serupa di Lebanon yang dianggap mendukung Iran, hingga menumpahkan darah pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) yang bertugas di sana.

Situasi yang sama juga terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak 28 Februari lalu. AS yang teragitasi oleh Israel-yang merasa terancam-terjerumus ke dalam peperangan tanpa ujung dengan Iran. AS dapat dikatakan terjerumus karena memulai perang tanpa motivasi dan basis argumentasi yang jelas.

AS terjerumus pada kebodohan sejarah yang sama ketika mereka mengobarkan perang di Irak pada 2003 dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction). Pasca-perang, tuduhan tersebut tidak terbukti sama sekali.

Dalam konteks Iran, AS terprovokasi oleh Israel yang menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir yang dapat menimbulkan dilema keamanan bagi kawasan. Padahal, Iran sudah sangat terbuka untuk diinspeksi oleh IAEA sebagai otoritas global. Selain itu, Iran memiliki hak untuk menentang, bahkan melawan sikap hipokrit AS dan Israel yang memiliki senjata nuklir namun tak kunjung melakukan perlucutan senjata (nuclear disarmament) demi perdamaian. Sayang sungguh sayang, AS lebih memilih terjerumus demi membela sekutu yang menunggangi mereka.

Harapan

Publik dunia dan para pembaca tentu berharap agar para pemimpin agresor, seperti Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mendapatkan bimbingan kesadaran dan pencerahan sebagaimana Odysseus pasca-kemenangan Ithaca atas Troy dalam palagan peperangan. Bimbingan kesadaran dan pencerahan ini menjadi barang mahal karena tidak semua pelaku peperangan beruntung mendapatkannya.

Terkadang pencerahan tersebut hanya dapat diperoleh jika kuasa ilahi berkehendak, sebagaimana Odysseus yang mendapatkan hukuman terlebih dahulu selama 10 tahun di lautan sebelum memperoleh pencerahan dan kembali ke jalan yang benar.

Itu pun tak serta-merta membawa kedamaian karena ia harus membereskan terlebih dahulu sampah persoalan yang ditimbulkannya. Hal yang perlu digarisbawahi adalah fakta bahwa tidak semua penjahat perang mendapatkan kesempatan memperoleh pencerahan sebagaimana yang dialami Odysseus. Tokoh seperti Hitler dan Mussolini bahkan harus tewas secara mengenaskan-bunuh diri atau tewas dipopor oleh lawan politik. Kira-kira, Trump dan Netanyahu akan berakhir seperti apa?

Boy Anugerah. Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan Geopolitik di DPR RI & Founder Think Tank Senayan Geopolitical Forum (SGF).




(rdp/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rekayasa Lalin Jalan Raya Bekasi-Cilincing Diperpanjang
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Dugaan Monopoli TikTok Shop Bakal Disidangkan, APLE Sebut Potensi Kerugian Rp1.750 Triliun
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Laurin Ulrich Disebut Masuk Radar Pembahasan dan Rumor Naturalisasi Timnas Indonesia
• 5 jam lalubola.com
thumb
Mendiktisaintek Tegaskan URI Tak Akan Bawahi Seluruh Kampus
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri Ribka Tegaskan Penyaluran Dana Otsus Papua Tahap II Harus dengan Prinsip 5T
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.