Harga minyak mentah melonjak dan kembali menembus level USD 100 per barel pada penutupan perdagangan Kamis (23/7), untuk pertama kalinya sejak Mei 2026.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kenaikan harga minyak tersebut masih sesuai dengan asumsi yang digunakan pemerintah dalam penyusunan APBN.
“Artinya sekarang, kalau balik lagi ke (harga di atas USD 100), ruangnya semakin terbatas aja, tapi nggak membahayakan APBN sendiri, kan udah karena ini bukan keadaan baru, kan,” kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (24/7).
Purbaya menilai kondisi itu bukan merupakan situasi baru, sehingga pemerintah dapat kembali menyesuaikan anggaran seperti sebelumnya tanpa menimbulkan guncangan yang berarti.
Purbaya menekankan kenaikan harga minyak tidak memengaruhi anggaran program stimulus yang telah disiapkan untuk semester II karena penyusunannya juga menggunakan asumsi harga minyak sebesar USD 100 per barel.
“Cuman yang yang mau saya tambahin ke beberapa ke Kementerian/Lembaga maupun ke daerah, mungkin enggak seluas yang sebelumnya itu aja,” ucap Purbaya.
Purbaya mengatakan pemerintah tengah menyiapkan berbagai simulasi sesuai arahan Presiden Prabowo di tengah potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut. Katanya, simulasi tersebut mencakup sejumlah skenario harga minyak, termasuk apabila harganya melampaui asumsi APBN, untuk menghitung dampaknya terhadap anggaran negara.
“Cuman kemarin waktu di rapat kabinet Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda, bukan 100 aja, atau lebih, jadi gimana anggarannya, sedikit kita sedang hitung tadi,” jelas Purbaya.
Mengutip Reuters, Minyak mentah Brent ditutup naik USD 6,62 atau 7 persen menjadi USD 100,69 per barel, level penutupan tertinggi sejak 22 Mei. Sejak perang Iran pecah pada Februari, harga minyak acuan global tersebut telah melonjak hampir 40 persen, dengan hampir seluruh kenaikannya terjadi sepanjang bulan ini.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup menguat USD 5,36 atau 6,2 persen ke USD 92,19 per barel, sekaligus menjadi level penutupan tertinggi sejak 4 Juni.





