Liputan6.com, Jakarta - Headphone perlahan terpasang di telinga. Sesaat kemudian, suara pemandu wisata mengalun jernih, mengiringi laju bus yang mulai meninggalkan kawasan Kota Tua.
Advertisement
Dari kursi paling depan di lantai atas, Jakarta menghadirkan wajah yang berbeda. Pandangan terbentang tanpa halangan, memperlihatkan deretan bangunan hingga lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti. Sesekali semilir angin menyapu wajah, membuat perjalanan terasa lebih santai di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Setiap ruas jalan yang dilalui menawarkan pemandangan yang berubah-ubah. Bangunan tua berganti gedung-gedung modern, sementara aktivitas warga terus mengalir di bawah. Dari ketinggian dek terbuka, kota seolah menjadi panggung yang menampilkan cerita-ceritanya sendiri.
Sesekali, penumpang beranjak dari kursinya menuju area berdiri yang telah dilengkapi pagar pengaman. Ada yang mengangkat ponsel untuk membingkai lanskap kota, ada pula yang memilih menikmati pemandangan tanpa tergesa.
Salah satu momen yang paling memikat hadir ketika bus memasuki kawasan Glodok menuju Kota Tua. Di sisi kanan dan kiri jalan, deretan bangunan tua berarsitektur kolonial berdiri kokoh, berpadu dengan museum-museum yang menyimpan jejak sejarah Jakarta.
Dari dek terbuka, setiap detail fasad bangunan terlihat lebih dekat, menghadirkan suasana seolah kembali ke masa ketika kawasan ini menjadi pusat perdagangan Batavia.
Meski bus melaju di tengah padatnya lalu lintas ibu kota, penjelasan pemandu Bus Open Top Tour rute Jakarta Batavia yang disajikan oleh Transjakarta tetap terdengar jernih melalui headphone.
Suara klakson dan deru kendaraan seolah menghilang, berganti dengan kisah-kisah tentang bangunan, kawasan, dan sejarah yang tengah dilewati.
"Di sisi kiri kita terdapat Museum Bank Indonesia, bangunan bersejarah yang dulunya menjadi pusat kegiatan perbankan pada masa Hindia Belanda," tutur Pemandu itu.
Saat senja perlahan berganti malam, wajah Jakarta kembali berubah. Cahaya lampu jalan, gedung-gedung yang mulai berkilau, hingga lalu lintas yang masih ramai menciptakan panorama khas ibu kota selepas matahari terbenam.
Untuk menikmati ini semua, masyarakat harus rela merogoh kocek Rp 75.000, yang nantinya akan dimulai dari Sarinah hingga menuju ke Kota Tua.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, mengatakan, peluncuran rute Jakarta Batavia merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan layanan yang tidak hanya berfungsi sebagai moda transportasi publik, tetapi juga menawarkan pengalaman baru bagi pelanggan.
"Transjakarta terus berinovasi menghadirkan layanan yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Melalui rute Jakarta Batavia, kami ingin mengajak masyarakat menikmati Jakarta dari perspektif yang berbeda sekaligus mengenal sejarah, budaya, dan perkembangan kota yang menjadi identitas ibu kota," tuturnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan sejarah panjang Jakarta merupakan bagian yang tak terpisahkan dari identitas kota.
Karena itu, Open Top Tour Jakarta Batavia dihadirkan sebagai cara baru untuk mengajak masyarakat dan wisatawan menikmati sekaligus memahami perjalanan Jakarta dari masa ke masa.
"Kita melintas setiap hari, tetapi jarang benar-benar melihat. Di sinilah letak arti penting rute ini. Open Top Tour of Jakarta bukan sekadar bus wisata dengan atap terbuka. Ia adalah cara kita mengajak warga dan pengunjung untuk duduk, memandang, dan mendengarkan kembali kisah kota tempat mereka tinggal," tutur Rano.




