Di tempat itu, tak jauh dari sebuah monumen, perjalanan yang semula hanya ditujukan untuk melihat penanda batas dua benua berubah menjadi perjumpaan dengan hutan, orang-orang, dan kisah tentang bagaimana alam terus menghidupi kehidupan.
Kota-kota di Eropa, termasuk di Rusia, kerap memikat wisatawan melalui jejak arsitektur klasiknya. Gereja berkubah, bangunan bergaya Kekaisaran Rusia, hingga deretan gedung tua menjadi lanskap yang sulit dilewatkan.
Salah satunya, Ekaterinburg, kota terbesar keempat di Rusia, di kawasan Pegunungan Ural. Berjarak sekitar 1.667 kilometer atau sekitar empat jam penerbangan dari Moskwa, kota ini menyimpan wajah sejarah sekaligus menjadi gerbang menuju batas geografis yang memisahkan dua benua.
Satu hari sebelum kembali ke Moskwa dan melanjutkan penerbangan ke Indonesia, kami berkesempatan rehat sejenak dari agenda pameran industri internasional Innoprom 2026 di Ekaterinburg.
Pada pameran yang berlangsung pada 6-9 Juli 2026, Indonesia melalui Kementerian Perindustrian menjadi partner country atau negara mitra pada pameran industri internasional Innoprom 2026.
Perjalanan kami tidak hanya di kota yang dikelilingi oleh bangunan bersejarah. Kami berkesempatan untuk sedikit menjauh dari pusat kota.
Bersama dua jurnalis lain dan seorang pendamping, Dandi Efendi (27), mahasiswa magister asal Indonesia yang menempuh studi di Ekaterinburg, kami melaju sekitar 40 menit menuju kaki Pegunungan Ural di Oblast Sverdlovsk.
Tujuan kami adalah Obelisk Eropa–Asia. Obeliks yang didirikan pada 1837 itu sebuah monumen yang menandai batas imajiner antara Benua Eropa dan Asia. Pada 1873, pilar yang awalnya terbuat dari kayu lalu diganti dengan obelisk marmer.
Obelisk itu berdiri menjulang di tengah kawasan hutan yang menjadi salah satu tujuan wisata paling populer di sekitar Ekaterinburg. Wisatawan datang untuk berdiri dengan satu kaki di Eropa dan satu kaki di Asia, mengabadikan momen di batas dua benua yang membentang sepanjang Pegunungan Ural. Bagi banyak orang, tempat itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan simbol pertemuan dua dunia.
Kami semula mengira kunjungan hanya akan berlangsung singkat. Berfoto di depan obelisk, berswafoto, lalu kembali ke kota.
Rupanya, perjalanan hari itu baru saja dimulai.
Saat hendak meninggalkan lokasi, kami berpapasan dengan seorang pria sambil membawa beberapa tangkai kecil di tangan kirinya. Pada ranting-ranting itu bergelantungan buah mungil berwarna merah dan ungu.
”Di sana ada banyak beri. Masuklah agak ke dalam,” katanya sambil menunjuk ke arah hutan di belakang obelisk.
Pria itu bernama Nikolai, wisatawan lokal asal Vyatka, wilayah Kirov. Ia mengaku baru pertama kali mengunjungi Obelisk Eropa–Asia.
”Kami juga datang seperti wisatawan dan mengunjungi berbagai tempat menarik. Salah satunya di sini. Sebelumnya kami hanya pernah mendengar tentang tempat ini. Ada teman yang mengajak kami melihat-lihat daerah ini,” ujarnya.
Ajakan spontan itu terlalu menarik untuk diabaikan. Tanpa banyak berpikir, kami mengikuti arah yang ditunjukkan Nikolai. Jalur tanah dan berumput membawa kami masuk ke hutan. Udara semakin dingin, sementara pepohonan rapat membuat sinar matahari hanya menembus di sela-sela dedaunan.
Belum sampai sepuluh menit berjalan, hamparan tumbuhan beri liar mulai terlihat. Buah-buah kecil berwarna merah dan ungu memenuhi semak-semak rendah.
Saya bersama Dandi segera merunduk. Satu demi satu buah dipetik. Sebagian langsung masuk ke mulut, sebagian lagi kami kumpulkan untuk bekal perjalanan pulang menuju kota.
Rasanya segar, sedikit asam dengan manis yang muncul belakangan. Tetapi, ada beberapa yang manis.
Selain beri, ada pula jamur liar tumbuh di lantai hutan. Kami memilih tidak menyentuhnya. Pengetahuan kami tentang jamur yang aman dikonsumsi terlalu minim. Buah beri terasa jauh lebih bersahabat dan dapat langsung dimakan sembari menikmati perjalanan.
Pengalaman itu seketika membawa ingatan saya kembali ke Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Semasa libur sekolah, saya bersama kakek masuk hutan untuk mencari buah-buahan dan sayuran hingga ikan di sungai sisi hutan. Hasil yang didapat di hutan itu untuk bahan makanan bersama keluarga. Sebagian lagi dijual untuk menambah penghasilan.
Di dua tempat yang dipisahkan benua dengan jarak ribuan kilometer itu, hutan menghadirkan pelajaran yang sama, alam menyediakan kehidupan bagi mereka yang mengenalnya.
Begitu pula bagi masyarakat di sekitar Pegunungan Ural.
Hutan bukan sekadar kawasan konservasi atau tujuan wisata. Di kawasan itu, juga menjadi ”pasar” alami yang menyediakan buah beri dan aneka jamur setiap musim.
Warga bebas memetik hasil hutan untuk kebutuhan rumah tangga. Ketika panen melimpah, buah-buah itu dijual karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Beri liar tidak hanya dikonsumsi dalam keadaan segar. Di Rusia, khususnya di Ekaterinburg, buah itu lazim menjadi pelengkap berbagai makanan dan minuman. Salah satunya teh.
Secangkir teh hangat dengan campuran beri merah, beri biru, atau keduanya menghasilkan rasa manis alami tanpa tambahan gula. Aroma buahnya lembut dan menenangkan, sangat cocok dinikmati saat sedang santai atau di sela-sela kegiatan. Di rak minimarket atau pusat perbelanjaan, banyak sekali teh beri ini dijual.
Selain teh, sebagian hasil panen juga dimanfaatkan sebagai campuran minuman tradisional, termasuk vodka.
Setelah puas memetik buah beri liar, kami bertemu Alena, perempuan paruh baya yang baru saja keluar dari hutan dengan jamur di tangannya. Dengan ramah ia memperlihatkan jamur itu.
”Jamur ini bisa dimakan,” katanya sambil tersenyum.
Alena dan warga lokal kerap masuk hutan untuk mencari beri, jamur, dan hasil hutan lainnya untuk kebutuhan rumah tangga mereka.
Bagi Alena, kawasan hutan itu dan daerah di sekelilingnya menjadi begitu bermakna untuk kehidupannya. Bukan saja karena hasil hutannya, melainkan juga kehidupan romansanya.
”Tempat ini sangat berarti bagi saya. Saya menikah di sini. Pernikahan kami sudah 46 tahun,” ujar Alena tersenyum manis.
Kalimat itu menjadi akhir obrolan kami sekaligus perpisahan. Dan, kami pun berfoto bersama.
”Spasibo (terima kasih),” kami saling bersahutan.
Pepohonan, semak beri, dan jamur liar bukan sekadar bagian dari bentang alam Pegunungan Ural. Semuanya menyimpan kisah manusia yang tumbuh bersama alam, menggantungkan hidup, sekaligus menyimpan kenangan di dalamnya.
Perjalanan yang semula hanya ditujukan untuk melihat penanda batas Eropa dan Asia akhirnya berubah menjadi pengalaman yang jauh lebih membekas.
Kami memang datang untuk mencari sebuah monumen. Namun, yang kami bawa pulang justru cerita tentang kemurahan hutan, keramahan orang-orang yang kami temui, dan pengingat bahwa kekayaan sebuah tempat tidak selalu berdiri megah dalam bentuk bangunan.
Kadang-kadang, ia tumbuh diam-diam di balik semak-semak, berupa buah beri liar yang dipetik bersama orang-orang yang baru beberapa menit saling mengenal.
Di Pegunungan Ural, hutan bukan hanya menghidupi manusia melalui hasil alamnya. Ia juga menghidupkan perjumpaan, kenangan, dan kisah-kisah kecil yang membuat sebuah perjalanan layak untuk terus diingat.
Spasibo Rusia, spasibo Ekaterinburg, dan spasibo Alena!





