Bagi seorang ”kicau mania” alias pehobi burung, jangkrik wajib tersedia. Serangga famili Gryllidae itu adalah ”menu wajib” di dunia burung pekicau. Di kalangan pehobi burung kicau, jangkrik dikenal sebagai extra fooding, yaitu pakan tambahan selain pur (voer) dan biji-bijian.
Kandungan protein yang tinggi membuat jangkrik dipercaya membantu menjaga kondisi tubuh, stamina, dan performa burung, terutama saat memasuki masa lomba atau pemulihan setelah mabung atau berganti bulu. Karena itu, di balik riuh kontes burung dan hobi memelihara burung yang makin menggeliat, sesungguhnya terdapat mata rantai lain yang jarang terlihat: peternak jangkrik.
Meski jarang terekspose, peternak jangkrik skala rumahan memastikan pasokan pakan burung tetap tersedia. Dari halaman belakang rumah mereka, rantai pasok itu bergerak pelan, menghubungkan kandang-kandang sederhana dengan sangkar-sangkar burung di berbagai penjuru Jabodetabek. Seperti yang dilakukan Eka (50) bersama enam peternak lain di Kampung Pasiron, Kelurahan Curug, Depok, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026).
Siang itu, terpal biru yang memayungi peternakan jangkriknya seolah tak mampu sepenuhnya menahan sengatan matahari. Menjelang tengah hari, Eka kembali menyemprotkan air ke boks-boks kayu di hadapannya. Bukan untuk mendinginkan dirinya, melainkan menjaga ribuan jangkrik tetap hidup sampai masa panen. Eka berunglang kali membasahi boks berukuran 1 meter x 2,5 meter dengan menyemprotkan air. Boks adalah kotak yang digunakan sebagai media budidaya jangkrik, mulai dari telur hingga jangkrik berumur 30-35 hari yang siap panen. Dalam kandang itu terdapat 30 boks milik tujuh peternak.
Di masing-masing boks terdapat tumpukan tray telur (wadah telur yang terbuat dari kertas daur ulang) dan klaras (daun pisang yang sudah mengering) sebagai media pembibitan jangkrik. Di samping kanan kirinya diletakkan gedebok pisang yang sudah diris tipis. Tumpukan itu diletakkan di tengah memanjang. Di atasnya ditaruh semacam papan untuk tempat makan jangkrik, yakni pur dan daun singkong. Dari situlah jangkrik bertumbuh dari menetas sampai siap panen.
Menurut Eka, setiap boks diisi sekitar setengah kilogram telur jangkrik yang didatangkan dari Tulungagung, Jawa Timur. Harga telur mencapai Rp 300.000 per kilogram. Dari setengah kilogram telur, rata-rata dihasilkan sekitar 15 kilogram jangkrik dalam satu siklus budidaya. Hasil panen masih bisa lebih banyak apabila pemberian pakan ditingkatkan dan kondisi lingkungan tetap terjaga. Namun, menjaga kondisi ideal bukan perkara mudah. Cuaca panas membuat suhu kandang cepat meningkat sehingga peternak harus lebih sering menyemprotkan air agar kelembaban tetap terjaga. Selain itu, hama ulat juga menjadi ancaman karena dapat memangkas hasil panen hingga separuhnya.
Di tingkat peternak, jangkrik dijual sekitar Rp 26.000 per kilogram. Sementara itu, di tingkat pengepul harga kini mencapai sekitar Rp 50.000 per kilogram, naik sekitar Rp 10.000 dibandingkan sebelumnya akibat pasokan yang berkurang selama musim panas.
Meski harga jangkrik di pasaran sedang naik, kondisi itu tidak otomatis meningkatkan pendapatan peternak. Eka mengatakan, selama tiga tahun terakhir harga jual ke pengepul bertahan di kisaran Rp 26.000 per kilogram. Ketika pasokan melimpah, harga itu menjadi jaminan bagi peternak. Sebaliknya, saat pasokan menurun dan harga pasar melonjak, harga yang diterima peternak tetap tidak berubah. Dilematis. Ia memiliki lima boks yang akan menjadi penopang hajat hidup keluarganya.
Kampung Pasiron terkenal dengan julukan ”Kampung Jangkrik”. Sejak tujuh tahun silam banyak warga membudidayakan jangkrik sebagai salah satu mata pencarian. Menurut Eka, dahulu terdapat 300 peternak jangkrik di kampung ini. Seiring waktu, kini yang bertahan tinggal sekitar 20 orang. Mengutip data Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Curug, wilayah ini memiliki potensi produksi hingga satu ton jangkrik pada lahan seluas sekitar 200 meter persegi.
Meski jumlah peternak terus menyusut, Eka belum berniat meninggalkan usaha yang telah digelutinya selama lima tahun terakhir. Baginya, selama masih ada orang yang memelihara burung, kebutuhan akan jangkrik tidak akan hilang.
Saat matahari mulai bergeser perlahan, Eka lalu kembali mengambil semprotan air. Puluhan boks di hadapannya masih harus dijaga agar tetap lembab. Sekitar sebulan lagi, jika cuaca bersahabat, ribuan jangkrik di dalamnya siap dipanen.





