Anak Nelayan Papua Barat Ini Ikut Panahan Agar Terhindar dari Pergaulan Kriminal

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Aris Awom, seorang remaja sekaligus atlet panahan asal Papua Barat, lahir dan besar di sebuah kampung di Kelurahan Sanggeng, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari. Sebuah kampung yang menurutnya akrab dengan berbagai aksi kriminalitas.

Aris menceritakan, tempat tinggalnya dekat dengan pasar. Ia mengaku kerap melihat orang mabuk minuman keras, mencopet, mabuk lem, menodong, dan hal lainnya.

Di usianya 16 tahun saat ini, Aris memilih panahan sebagai jalan hidup sekaligus agar terhindar dari kegiatan tak terpuji dari lingkungan sekitarnya. Ia berkeinginan mengubah stigma negatif pandangan orang terhadap masyarakat Papua.

Pemuda seusianya juga banyak yang mencopet. Bahkan contoh terdekat ada dalam keluarganya sendiri. Ia menyampaikan bahwa kakak kandungnya juga akrab dengan minuman keras dan akhirnya meninggal pada 2025.

"Terkenal sebagai kampung kriminal. Ada yang minum, copet, dan ngelem. Kakak saya juga peminum. Tetapi saya tidak ikutan," katanya kepada kumparan, Sabtu (25/7).

Ia mengaku ingin menjadi pribadi yang baik. Salah satu kegiatan positif yang diikutinya yakni dengan mengikuti perlombaan olahraga lari. Sampai pada akhirnya ia mencoba ke cabang olahraga panahan melalui seleksi program bernama pembinaan Sentra Pemusatan Olahraga Pelajar Nasional (SPOBNAS).

Remaja kelahiran 11 Agustus 2009 itu mulai mengenal panahan sejak lima bulan lalu. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 pada divisi Compound U18 menjadi ajang mencari jam terbang untuknya.

"Memilih panahan karena panahan ini kan tradisi masyarakat Papua. Mereka berburu pakai panahan. Saya juga ingin menjadi atlet panahan," sambungnya.

Lewat cabang olahraga panahan inilah ia seakan pergi dari kebiasaan yang kerap dilakukan orang-orang di kampungnya. Aris mengaku tak mau menyentuh perbuatan tak terpuji.

"Sekarang saya tinggal di asrama bersama teman-teman atlet. Setiap hari hanya fokus latihan dan sekolah. Cita-cita saya ke depan ingin menjadi atlet panahan," terangnya.

Anak ketujuh dari tujuh bersaudara itu juga memiliki tekad untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Ayah dan ibunya bekerja sebagai nelayan. Aris merasa kasihan dengan orang tuanya yang harus banting tulang memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Saya ingin mengubah nasib keluarga karena saya melihat orang tua saya kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Manajer Tim Papua Barat, Arya Kurniatmaja, membenarkan kondisi di kampung halaman Aris. Bahkan, Arya mengalami sendiri kejadian tak menyenangkan yang dialaminya.

"Saya punya pengalaman pribadi ditodong pakai obeng dan dikepung tiga orang. Hal yang bikin ironis satu di antaranya masih remaja," ungkapnya.

Saat itu ia ditodong Rp 50 ribu. Ia merasa miris karena penodong tersebut hendak membeli minuman keras. Kejadiannya itu dialaminya pada siang hari.

"Saya dimintai Rp 50 ribu. Cuma kata-katanya yang miris. Bahasanya, abang kasih Rp 50 ribu dulu kita mau pakai untuk beli minuman. Itu yang bagi saya miris. Ya saya kasih karena ditodong obeng dari belakang satu orang dan dua di depan," jelasnya.

Arya sudah 44 tahun berada di Papua. Sepemahaman dirinya kawasan tersebut memang akrab dengan kriminalitas. Ia bersyukur Aris tidak terpengaruh dengan kebiasaan negatif di kampung itu. Jalan hidup menjadi atlet panahan yang dipilih Aris disyukuri olehnya. Sebab, lingkungan saat ini lebih positif.

"Anak seusia Aris ada yang copet. Bahkan yang usianya lebih muda lagi juga ada. Saya senang Aris tidak terpengaruh. Selama berada di asrama, pribadi Aris terbentuk sebagai anak baik dan bahkan anak-anak tetangganya ingin menjadi atlet panahan seperti Aris," ungkap Arya.

Ketika Aris mendaftar SPOBNAS, hasil tesnya juga bagus. Mulai dari tes fisik, tes kesehatan, tes psikologi, dan tes keterampilan memanah dinyatakan lolos.

"Tidak ada pengaruh alkohol juga pada hasil tes medisnya. Semoga Aris bisa terus berkembang dan menjadi atlet profesional," kata Arya.

Arya juga mengapresiasi MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 ini. Menurutnya, digelarnya event ini bermanfaat untuk atlet usia dini.

"Bisa menjaring atlet-atlet usia dini meningkatkan prestasi serta menjaring atlet panahan potensial. Selain itu fasilitas di sini juga sangat wah," ucapnya.

Segala sarpras yang tersedia di Supersoccer Arena, Kudus disebutnya sudah bagus. Ia tak pernah kesulitan akses selama mendampingi atletnya. Ia berharap ke depannya event ini bisa hadir di Indonesia Timur.

"Kami dari kontingen Indonesia bagian timur untuk sampai ke Pulau Jawa di Kudus ini kesulitan biaya. Jadi, alangkah baiknya mungkin bisa digelar di tengah-tengah Indonesia. Supaya peserta dari barat bisa ke tengah dan peserta Indonesia dari timur juga bisa ke tengah," imbuhnya.

Reporter: Vega M. Ula


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Akuntan di Jakbar Minta Maaf Usai Rekayasa Begal Terbongkar Polisi
• 22 jam laludetik.com
thumb
Spare Part Murah Mulai Terancam, Raksasa Jerman Turun Gunung ke Indonesia
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
IHSG Awal Pekan Depan Diprediksi Melemah hingga 6.074, Cermati Empat Saham Ini
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Ribuan Warga Jepang Alami Heatstroke, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
GKR Mangkubumi Terima Anugerah Bintang Semangat Rimba Emas dari Malaysia
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.