15.000 Mangrove Ditanam di Bali, Konservasi Berbasis Masyarakat Terus Dikembangkan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Di Hari Mangrove Sedunia, 15.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata ditanam dalam kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Penanaman ini menjadi bagian dari upaya memulihkan ekosistem pesisir sekaligus memperkuat pengelolaan mangrove berbasis masyarakat.

Sejak pukul 07.30 WITA, Minggu (26/7/2026), pada tamu undangan diberangkatkan menggunakan speedboat menuju lokasi penanaman. Kawasan rehabilitasi mangrove tersebut berada di tengah hutan mangrove Batu Lumbang sehingga hanya dapat diakses melalui jalur perairan. Sesampai di sana, mereka bersama-sama menanam mangrove sebagai bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir.

Ekowisata Mangrove Batu Lumbang merupakan salah satu kawasan konservasi mangrove penting di Indonesia yang memiliki koleksi mangrove terlengkap di Bali dengan 18 jenis mangrove asli dan 15 jenis mangrove asosiasi.

Selain menjadi habitat berbagai flora dan fauna pesisir, kawasan ini juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, melindungi wilayah pesisir dari abrasi, serta berkontribusi dalam penyerapan karbon.

Namun, kawasan tersebut masih menghadapi tantangan berupa sampah kiriman, tekanan terhadap ekosistem pesisir, serta perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Penanaman mangrove pun dilakukan menyambut Hari Mangrove Sedunia. Kegiatan itu diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup, didukung Pemerintah Provinsi Bali, dan difasilitasi PLN Indonesia Power itu dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, dan Gubernur Bali Wayan Koster.

Ekowisata Mangrove Batu Lumbang seluas 1.373,5 hektare merupakan kawasan yang didampingi PLN Indonesia Power melalui Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Bali. Bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Segara Guna Batu Lumbang, kawasan tersebut dikembangkan sebagai kawasan konservasi mangrove berbasis masyarakat.

Program pendampingan meliputi pembibitan, penanaman, dan perawatan mangrove, pengembangan ekowisata berbasis digital, edukasi lingkungan, hingga pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dengan melibatkan nelayan dan kelompok perempuan.

Direktur Manajemen Human Capital dan Administrasi PT PLN Indonesia Power Ridho Hutomo mengatakan, keberhasilan konservasi mangrove bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam mengelola dan menjaga kawasan.

”Keberhasilan konservasi mangrove sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat sebagai pengelola kawasan,” kata Ridho.

Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan telah menjadikan Batu Lumbang sebagai salah satu pusat pembelajaran konservasi mangrove berbasis masyarakat di Provinsi Bali. ”Ekowisata Mangrove Batu Lumbang merupakan destinasi ekowisata berkelanjutan yang menjadi bukti bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat,” ujar Ridho,

Ridho menambahkan, pengelolaan mangrove tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat. Karena itu, PLN Indonesia Power akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar model konservasi berbasis masyarakat di Batu Lumbang dapat diterapkan di kawasan lain.

Pendampingan

Senior Manager Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Bali PT PLN Indonesia Power, I Made Harta Yasa, mengatakan, saat ini, pengelolaan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang melibatkan sekitar 41 nelayan dan 250 warga setempat yang berperan dalam menjaga sekaligus mengembangkan kawasan tersebut.

Menurut Harta Yasa, rehabilitasi mangrove yang dilakukan secara berkelanjutan mulai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain mendorong berkembangnya ekowisata, membaiknya kondisi ekosistem pesisir juga berdampak pada meningkatnya hasil tangkapan nelayan.

”Manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat. Ekosistem yang membaik berdampak pada peningkatan hasil tangkapan nelayan, sementara aktivitas ekowisata juga terus berkembang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendampingan yang dilakukan PLN Indonesia Power bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Segara Guna Batu Lumbang tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga pengelolaan kawasan secara menyeluruh agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Program tersebut mencakup pembibitan, penanaman, dan perawatan mangrove, pengembangan ekowisata berbasis digital, serta penyelenggaraan edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Selain itu, pihaknya juga mendorong pemberdayaan nelayan dan kelompok perempuan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu serta pengembangan berbagai produk dan layanan ekowisata yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

”Kami percaya, ketika masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga ekosistem mangrove dan merasakan manfaatnya secara langsung, maka upaya konservasi akan semakin berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujarnya.

Baca JugaMenyemai Mangrove, Menjaga Dunia
Peran warga

Wakil Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Segara Guna Batu Lumbang, Wayan Pasek Pastika (44), mengatakan dirinya telah terlibat dalam kegiatan konservasi mangrove sejak 2005. Baginya, menjaga mangrove merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dari keluarganya yang berprofesi sebagai nelayan.

Menurut Wayan, konservasi yang dilakukan kelompoknya mencakup pembibitan, penanaman, perawatan mangrove, hingga menjaga kawasan dari kerusakan dan sampah. Selain itu, kelompoknya juga aktif mengedukasi masyarakat agar memahami pentingnya hutan mangrove sebagai pelindung pesisir.

”Kami ingin masyarakat datang, mengenal mangrove, dan memahami manfaatnya bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat pesisir,” kata Wayan.

Ia mengatakan, kehadiran pengunjung juga memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan dan warga yang tergabung dalam kelompok. Wisatawan umumnya memanfaatkan berbagai fasilitas yang dikelola masyarakat, seperti jasa transportasi menggunakan kano dan speedboat untuk menyusuri kawasan mangrove.

Selain itu, pengunjung dapat mengikuti kegiatan di balai edukasi yang memberikan pembelajaran mengenai pembibitan, penanaman, hingga perawatan mangrove.

Baca JugaMangrove Serangan, Benteng Pesisir Bali dari Bencana dan Sumber Hidup Warga

Sepanjang 2026, lebih dari 100.000 bibit mangrove telah ditanam di kawasan Batu Lumbang. Wayan mengatakan, jumlah bibit yang ditanam setiap tahun tidak memiliki target tertentu karena disesuaikan dengan kondisi cuaca.

”Kalau musim hujan aktivitas penanaman menjadi lebih sulit. Jadi jumlah yang ditanam menyesuaikan kondisi di lapangan,” katanya.

Saat ini, minat berbagai pihak untuk ikut menanam mangrove juga terus meningkat. Selain pemerintah, banyak perusahaan swasta, sekolah, hingga komunitas yang datang untuk berpartisipasi.

”Ada yang membawa bibit sendiri lalu menanam langsung, ada juga yang memberikan bibit kepada kami untuk ditanam,” ujarnya.

Ke depan, Wayan berharap kawasan mangrove di Batu Lumbang dapat terus diperluas. Meski demikian, ia mengakui pengelolaan kawasan masih menghadapi tantangan, terutama sampah kiriman yang meningkat saat musim hujan. Sampah yang menumpuk di sekitar bibit mangrove dapat menghambat pertumbuhan.

”Kalau bibit mangrove yang masih kecil tertutup sampah, daunnya tidak bisa mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis sehingga pertumbuhannya terganggu,” kata Wayan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kementerian Kebudayaan Berencana Merekonstruksi Rumah Proklamasi
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tanda Tangan Digital Indonesia Siap Diakui Global, Ini Strategi Kemkomdigi
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sebuah Rumah dan 3 Motor Hangus Terbakar di Matraman
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sembunyikan Sabu di Selangkangan, Kurir Narkoba Dibekuk di Bandara Pekanbaru
• 1 jam laludetik.com
thumb
Bimantoro Soroti Penahanan Febrie: Jangan Ada Keistimewaan dalam Penegakan Hukum
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.