REPUBLIKA.CO.ID, Ikhlas merupakan ruh dari setiap amal ibadah. Sebesar apapun ibadah yang dilakukan seseorang, nilainya di sisi Allah SWT sangat ditentukan oleh keikhlasan yang bersemayam di dalam hati.
Lantas, apakah semua bentuk ikhlas memiliki kedudukan yang sama? Ulama besar Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni menjelaskan bahwa keikhlasan memiliki tiga tingkatan, mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sesuai dengan tujuan yang melatarbelakangi seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT.
Baca Juga
Kemenhut dan Masyarakat Selamatkan Lutung Jawa dan Alap Jambul
Mengenal Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy'ari yang Ditugaskan Maju Jadi Caketum PBNU
Rahasia di Balik Kesuksesan Rudal Murah Iran Terobos Pertahanan Udara Pangkalan Militer AS
Dalam kitab Nurudh Dholam, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan tingkatan pertama, ikhlas karena Allah. Ikhlas karena Allah menempati posisi pertama dan utama. Ikhlas dalam kelompok ini adalah seorang mukmin ketika beribadah kepada Allah dan melakukan amal saleh, sama sekali tidak mengharapkan apapun kecuali ridha Allah, tidak juga mengharapkan pahala surga atau untuk menghindari siksa neraka. .rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Syekh Nawawi, ikhlas seperti ini berada pada tingkatan tertinggi. Tingkat kedua, ikhlas karena akhirat. Tingkatan tersebut yakni beribadah dan beramal saleh karena mengharapkan pahala, mendapatkan surga, dan takut pada siksa neraka. Menurut Syekh Nawawi, tingkatan ikhlas ini berada pada tingkatan menengah.
Ketiga, ikhlas karena dunia. Tingkatan ikhlas ini adalah beribadah karena mengharapkan balasan di dunia, misalnya seseorang melakukan ibadah membaca Surat Al-Waqi'ah dengan harapan bisa mendapat kekayaan, mengeluarkan sedekah berharap mendapat rezeki yang berlipat ganda, dan seterusnya.