Bondowoso (beritajatim.com) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Bondowoso menggelar Pameran dan Festival Literasi 2026 sebagai upaya meningkatkan budaya baca sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
Kegiatan yang mengusung tema “Mas BoCil” (Masyarakat Bondowoso Cinta Literasi Menuju Bondowoso Berkah) itu berlangsung di Kantor Disperpusip Bondowoso mulai 25 Juli hingga 9 Agustus 2026, sementara Festival Literasi digelar pada 27-31 Juli.
Kepala Disperpusip Bondowoso, Nunung Setyaningsih, mengatakan festival tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap informasi dan pengetahuan.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi, penerbit, penulis, media, hingga masyarakat dalam membangun ekosistem literasi yang lebih kuat di Bondowoso.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat di semua kelompok usia, memperkenalkan layanan perpustakaan, menumbuhkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis, serta memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan budaya literasi,” ujar Nunung dalam laporannya.
Berbagai kegiatan digelar selama festival, di antaranya pameran literasi bekerja sama dengan Gramedia Jember, ngobrol literasi bersama Bupati dan Bunda Literasi Daerah, bedah buku, talkshow, mendongeng, hingga lomba bertutur tingkat SD/MI, lomba resensi buku, dan lomba perpustakaan desa.
Sementara itu, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menilai literasi merupakan bekal utama untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Menurutnya, dunia pendidikan saat ini memiliki tantangan besar karena harus menyiapkan generasi yang akan hidup pada zaman yang belum dapat diprediksi.
“Rumitnya kita adalah kita hidup di masa lalu, mendidik di masa sekarang untuk masa depan yang kita tidak tahu ke depan itu seperti apa. Tapi kita mengupayakan bagaimana peningkatan literasi ini untuk mewarnai dan bertahan di peradaban. Kita harus mewariskan pendidikan bagi anak-anak kita agar menjadi generasi unggul dalam membangun negeri ini di masa yang akan datang,” kata Hamid.
Ia mengatakan Indonesia telah menargetkan lahirnya Generasi Emas 2045, bertepatan dengan satu abad kemerdekaan Republik Indonesia.
“Indonesia menargetkan Generasi Emas 2045. Kalau kata Pak Harto ini generasi tinggal landas. Kehidupan itu siklus 100 tahun. Kita merdeka tahun 1945. Diharapkan generasi emas Indonesia akan memimpin Indonesia 100 tahun setelah kemerdekaan,” ujarnya.
Hamid menambahkan, sejarah menunjukkan berbagai peristiwa besar dunia kerap berulang dalam siklus tertentu. Ia mencontohkan pandemi Covid-19 pada 2020 yang didahului Flu Spanyol sekitar 1920, pandemi kolera sekitar 1820, hingga wabah besar di Marseille, Prancis, sekitar 1720.
Karena itu, ia menegaskan penguatan literasi tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga membangun daya pikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan karakter generasi muda agar mampu menghadapi tantangan zaman serta membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju pada 2045. (awi/kun)




