Lima Langkah Praktis Memulai Riset Medis Dibagikan Pakar Belanda di FK Unair

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Memulai penelitian medis sering menjadi tantangan bagi peneliti pemula, terutama dalam menentukan topik dan menyusun proposal. Menjawab tantangan tersebut, Divisi Neonatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menghadirkan dua pakar pediatri asal Belanda dalam pelatihan Clinical Research and Scientific Publication yang berlangsung pada 25–26 Juli 2026.

Pelatihan yang didukung Nutricia Research Foundation ini menghadirkan Prof. Pieter J.J. Sauer dari Groningen, Visiting Professor Unair sejak 2016 dengan H-index 56, serta Prof. Jacques Bindels dari Utrecht University, pakar Pediatric Nutrition sekaligus Wakil Ketua Nutricia Research Foundation dengan H-index lebih dari 30.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah, khususnya bagi mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), sekaligus memperkuat budaya penelitian di lingkungan FK Unair.

Dokter Mahendra dari Divisi Neonatologi FK Unair sebagai Ketua Penyelenggara, menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari riset yang berkelanjutan.

“Suatu pelayanan kesehatan itu hanya bisa bagus kalau ada penelitian. Tanpa adanya riset berkelanjutan, kualitas pelayanan kesehatan tidak akan pernah maksimal,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (27/7/2026).

Pelatihan diikuti peserta dari berbagai jenjang, mulai PPDS Anak Spesialis 1, PPDS Konsultan, mahasiswa sarjana, hingga mahasiswa kebidanan. Mereka mendapatkan materi lengkap mulai dari merumuskan masalah penelitian, menyusun proposal, memahami etika penelitian, menjaga integritas ilmiah, memilih jurnal yang tepat, hingga menyikapi masukan editor.

Peserta juga dibekali pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu proses penulisan manuskrip secara lebih efisien tanpa mengabaikan etika akademik.

 

Lima Langkah Memulai Riset Medis

Dalam sesi pelatihan, kedua pakar membagikan lima langkah praktis bagi peneliti muda untuk memulai penelitian medis.

Langkah pertama adalah selalu memulai dengan pertanyaan “why“. Pertanyaan tersebut muncul dari pengamatan terhadap masalah yang ditemui di lapangan dan menjadi dasar lahirnya ide penelitian.

Langkah kedua adalah banyak membaca literatur ilmiah (read a lot) untuk mengetahui apakah topik tersebut telah diteliti sebelumnya serta menemukan informasi terbaru.

Selanjutnya, peneliti harus mampu menemukan research gap, yakni mengidentifikasi celah pengetahuan yang belum terjawab oleh penelitian sebelumnya.

Langkah keempat adalah memastikan penelitian memiliki nilai manfaat. Hasil riset harus mampu memberikan dampak nyata bagi dokter, tenaga kesehatan, pasien, maupun sistem kesehatan, bukan sekadar memenuhi rasa ingin tahu.

Terakhir, para peneliti diimbau untuk tidak ragu meminta bantuan (ask for help) kepada mentor, supervisor, atau peneliti senior agar ide penelitian dapat berkembang menjadi karya ilmiah yang berkualitas.

 

Empat Proposal Terbaik Didampingi Pakar Dunia

Keunggulan pelatihan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Empat proposal terbaik akan mendapatkan pendampingan langsung dari Prof. Sauer dan Prof. Bindels hingga proses publikasi. Bahkan, kedua pakar tersebut bersedia menjadi penulis pendamping (co-author) dalam publikasi ilmiah peserta.

“Dengan joint writing antara peneliti muda kita dan peneliti kelas dunia, kualitas riset dan publikasi akan meningkat secara signifikan. Hal ini tentu akan memperkuat reputasi Unair di kancah global,” kata dr. Mahendra.

Menurutnya, melimpahnya kasus klinis di RS Unair menjadi modal besar bagi peneliti muda untuk menghasilkan penelitian yang relevan dan berdampak.

Sementara itu, Prof. Eighty Mardiyan Kurniawati Dekan FK Unair, mengingatkan bahwa seorang dokter harus terus mengembangkan kapasitas melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang peneliti agar apa yang kita teliti itu bisa lebih berkualitas,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas.

“Penelitian terbaik sering kali lahir dari kolaborasi yang bermakna antarlembaga, antardisiplin ilmu, bahkan antarnegara,” tandasnya.(ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Inong-inong Penjaga Hutan Adat Aceh
• 16 jam lalukompas.id
thumb
Usai Ditunjuk Jadi Pj Gubernur Sementara BI, Destry Bakal Rapat dengan Purbaya
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Lemonilo Rayakan Hari Anak Nasional Bersama KemenPPPA di Ciliwung, Shinta: Jangan Cuma Sekali
• 6 jam laludisway.id
thumb
Perpanjangan Kontrak PPPK Paruh Waktu Justru Membuat Galau Massal
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Yusril: Penangkapan Abdul Karim tak dapat didasarkan dengan KUHAP RI
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.