Menengok Kampung Bengek Jakut, Permukiman dengan Keterbatasan Air Bersih dan Sanitasi

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kampung Bengek di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, bukanlah permukiman yang mudah ditemukan. Lokasinya bahkan tidak tercantum di aplikasi peta digital.

Berdasarkan penelusuran Kompas.com di lokasi, Selasa (28/7/2026), pendatang yang ingin memasuki Kampung Bengek perlu berjalan kaki dari Kampung Marlina.

Setelah itu mereka harus melewati tembok berlubang yang menjadi penanda batas antara Kampung Bengek dan permukiman di sekitarnya.

Baca juga: PWI Cabut Laporan terhadap Hotman Paris soal Dugaan Hina Wartawan

Di area Kampung Bengek, jalan permukiman hanya berupa gang selebar sekitar dua meter yang hanya dapat dilalui pejalan kaki.

KOMPAS.com/Omarali Dharmakrisna Soedirman Kampung Bengek di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (28/7/2026)
Di ujung gang, terdapat lapangan tanah yang menjadi tempat anak-anak bermain sepak bola pada sore hari. Di sisi lapangan, sampah terlihat berserakan di selokan.

Di balik tanggul Muara Baru, warga mengaku masih menghadapi keterbatasan fasilitas rumah tangga, salah satunya air bersih.

Sumaena (55), atau yang akrab disapa Mak Nelly, mengatakan, pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan air bersih bisa mencapai puluhan ribu rupiah per hari, bergantung pada jumlah air yang digunakan.

"Rp 30.000 sehari ya kali sebulan lumayan juga," ujar dia saat ditemui Kompas.com di sekitar tempat tinggalnya, Selasa (28/7/2026).

Menurut Mak Nelly, jaringan Perusahaan Air Minum (PAM) belum menjangkau permukiman Kampung Bengek.

Akibatnya, mereka harus membeli air atau menyambung selang dari rumah warga yang telah memiliki sambungan PAM di wilayah sekitar.

Selain persoalan air bersih, sebagian warga mengaku masih mengandalkan sambungan listrik dari rumah lain karena permukiman mereka masih tidak terdaftar secara administrasi.

Baca juga: Jakarta Ubah Strategi Tekan Pengangguran, Job Fair Kini Digelar hingga Tingkat Kecamatan

Menurut dia, warga yang menggunakan sambungan tersebut harus mematikan aliran listrik ketika ada pemeriksaan. Hal itu juga terjadi apabila terjadi pemadaman listrik.

"Kalau orang belakang ya air pun nyalur, listrik pun nyalur. Kemarin itu kan ada pemadaman, ya mati dulu," jelas dia.

Ia menuturkan, kondisi tersebut pernah berlangsung hingga sekitar dua pekan sehingga aktivitas warga menjadi semakin sulit.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kalau orang gedongan satu jam aja kalau mati lampu kan udah gerah ya, nah kita dua minggu coba," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR Tampung Keluhan Warga Bandung soal Pertanian hingga Kehutanan
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Kepala BGN Sudaryono Resmikan Pusat Pelayanan Terpadu dan Media Center, Komitmen Kawal Program MBG
• 5 jam laludisway.id
thumb
Aldila Sutjiadi Andalkan Permainan Agresif demi Tiket Semifinal DC Open 2026
• 14 jam lalupantau.com
thumb
OTT Bupati Pemalang Terkait Korupsi Proyek dan Jual Beli Jabatan
• 11 jam laludetik.com
thumb
Awan Api Melanda Perancis, Menguat di Era Krisis Iklim
• 16 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.