Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan, saat dolar AS melemah menanti kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 29 Juli 2026, rupiah berada di level Rp18.099 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 16 poin atau setara 0,09 persen dari Rp18.083 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.083 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp17.990 per USD.
Baca Juga :
Dolar AS Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga Fed(Ilustrasi. Foto: Dok MI) Rupiah masih fluktuatif cenderung melemah Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah akan fluktuatif namun diprediksi melemah pada perdagangan hari ini. Rupiah diprediksi bergerak di rentang Rp 17.960 - Rp 18.020 per dolar AS.
Ibrahim mengungkapkan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi besar Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga. CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen untuk skenario suku bunga tetap dipertahankan.
Namun, prospek kebijakan moneter cenderung fluktuatif bulan ini di tengah situasi yang dinamis di Timur Tengah, mengingat harga minyak sempat melonjak sekitar 20 persen dalam dua pekan saat AS dan Iran saling melancarkan serangan terkait kendali atas Selat Hormuz.
Di dalam negeri, pengunduran diri Perry Warjiyo meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepimpinan yang baru di tengah depresiasi nilai tukar rupiah, derasnya outflow dana asing, serta potensi tren kenaikan suku bunga global.
"Namun, penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan," ungkap dia.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada penunjukan Gubernur BI secara definitif. Pasar berharap BI dapat menjaga kredibilitas dan independensi dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.




