Pekan lalu Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menahan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya periode 2016-2024 Choirul Anwar. Penahanan tersebut terkait dugaan korupsi selama Choirul Anwar memimpin KBS sehingga merugikan keuangan negara lebih dari Rp 10,209 miliar.
Kasus bermula dari laporan masyarakat yang kemudian diperkuat oleh laporan resmi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada 2025. Laporan tersebut memicu penyelidikan terhadap pengelolaan keuangan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya selama kepemimpinan Direktur Utama Choirul Anwar.
Terlepas dari dugaan kasus korupsi yang saat ini membelit, Kebun Binatang Surabaya (KBS) telah melalui perjalanan panjang sebagai salah satu lembaga konservasi satwa luar habitat (ex-situ) yang tertua di Indonesia.
Kebun Binatang Surabaya lahir atas inisiatif jurnalis Belanda, HFK Kommer, yang pada mulanya menawarkan sejumlah burung dan satwa liar koleksinya untuk dirawat. Keinginan itu terwujud melalui perkumpulan Vereeninging Soerabaische Planten-en Dierentuin yang mendapat pengesahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 31 Agustus 1916.
Pada awalnya kebun binatang menempati lokasi di Kaliondo. Oleh karena tempat di Kaliondo tidak memenuhi syarat, pada 1918-1920 kebun binatang dipindahkan ke Groedo. Pada 1918 itulah untuk pertama kalinya Kebun Binatang Surabaya dibuka untuk umum dengan dikenai tiket masuk.
Terkait kebutuhan lahan, pada 1921 lokasi KBS dipindah ke Darmo Wonokromo (lokasi saat ini) dengan menempati areal seluas 3,2 hektar. Kemudian pada 1939, KBS mendapat perluasan lahan atas inisiatif Dewan Kotapraja Surabaya sehingga luasnya menjadi 15 hektar dan bertahan hingga sekarang.
Di lokasi terakhir ini, Kebun Binatang Surabaya tumbuh dan mengalami banyak kemajuan dengan jumlah pengunjung yang meningkat pesat. Arsip berita Kompas mencatat, jika pada 1918 jumlah pengunjung KBS berjumlah 12.800 orang, pada 1940 sudah mencapai 173.230 orang. Kemudian, pada 1971 meningkat menjadi 1.011.327 pengunjung.
Kurun 1970-1980 menjadi salah satu era kejayaan Kebun Binatang Surabaya. Dari 13 kebun binatang yang ada di Indonesia saat itu, ada tiga yang menonjol, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Dari ketiganya, yang paling berhasil adalah Kebun Binatang Surabaya.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, Kebun Binatang Surabaya berkembang untuk pendidikan, riset, dan pembiakan. Satu hal yang menonjol di KBS adalah keberhasilan pembiakan satwa. Salah satu contoh keberhasilan itu adalah pembiakan babi rusa dari enam menjadi 30 ekor, anoa dari sepasang menjadi 15 ekor serta satwa lain, seperti bekantan, rusa bawean, dan kuda nil (Kompas, 16 Juli 1974).
Komodo di KBS, 12 Februari 1989. KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Jalak bali atau curik putih (Leucopsar rothschildi). KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Bayi kuda nil besar (Hippopotamus amphibius) lahir di KBS, 7 Januari 2005. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Pada 15 November 1978 Kebun Binatang Surabaya mencatatkan sejarah dengan hadirnya penghuni baru, seekor gorila jantan asal Zaire, Afrika. Gorila bernama Makua itu merupakan pemberian dari Kebun Binatang ”Blijdorp” Rotterdam, Belanda.
Makua diterbangkan dari Belanda menggunakan pesawat Garuda DC-10 dan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin 13 November 1978. Turut serta dalam penerbangan itu adalah Ir Dirk van Dam, Direktur Kebun Binatang ”Blijdorp” Rotterdam sekaligus pengasuh Makua.
Menurut Van Dam, Makua dibawa ke Rotterdam dari Zaire pada 1955 ketika masih berusia dua bulan. Saat dibawa ke Jakarta gorila jantan itu telah berusia 24 tahun dengan tinggi 1,8 meter dan berat 300 kilogram. Gorila merupakan jenis kera terbesar dan banyak terdapat di wilayah ekuator Afrika.
Kehadiran Makua menjadi primadona baru di Kebun Binatang Surabaya dan mampu menarik perhatian banyak pengunjung. Sejak pertama kali Makua diperkenalkan, jumlah pengunjung di KBS rata-rata meningkat empat hingga lima kali lipat. Sekretaris Kebun Binatang Surabaya Bambang Suhardjito mengatakan kepada Kompas, jumlah pengunjung pada Minggu, 19 November 1978, mencapai 42.000, padahal pada hari Minggu biasanya hanya sekitar 10.000 pengunjung.
Sayangnya, kehadiran Makua di KBS tidak berlangsung lama. Gorila itu mati pada 8 Desember 1979 sekitar pukul 20.30 WIB. Kematiannya hanya berselang sekitar satu tahun setelah resmi menjadi penghuni baru KBS. Dari pemeriksaan kesehatan diketahui kematian Makua disebabkan kelemahan/sakit jantung yang sudah lama ia derita.
Sakit jantung yang diderita Makua tampaknya diperparah oleh kondisi iklim dan kejiwaan. Tidak adanya teman gorila lain membuat Makua malas bergerak dan rekreasi. Hal itu membuat kesehatan dan kesegaran tubuhnya tidak optimal. Pihak KBS sendiri sebenarnya sudah mengupayakan kawan atau jodoh bagi Makua, tetapi hingga ajalnya hal itu belum sempat terwujud.
Di sisi lain, pengelolaan Kebun Binatang Surabaya juga tidak lepas dari konflik. Dalam catatan Kompas, jejak konflik pengelolaan KBS setidaknya mulai muncul dalam kepengurusan dwitunggal Ketua Pleno Mohammad Said dan Ketua Harian Stany Soebakir kurun 1981-2001. Adanya konflik memaksa Stany mundur pada 1997 sehingga jabatan ketua harian dirangkap oleh Said.
Kurun 2003-2006, kepengurusan diambil alih oleh Stany melalui rapat umum anggota luar biasa. Di sini terbentuk Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya (TFSS) sebagai pengelola KBS. Lalu, dalam rapat umum 2006, Stany kembali dipercaya menjabat Ketua Perkumpulan TFSS sampai masa jabatan 2011.
Namun, rapat umum anggota pada 2009 menolak laporan pertanggungjawaban kepengurusan Stany sampai membentuk komisi verifikasi beranggotakan sembilan orang. Di tahun itu, diadakan rapat umum anggota luar biasa yang menyerahkan kepengurusan kepada Basuki Rekso Wibowo selaku ketua. Setahun kemudian atau 2010, kelompok Stany kembali mengambil alih kepengurusan itu.
Konflik pengurus yang berlarut-larut sejak tahun-tahun sebelumnya berimbas pada kondisi satwa. Banyak satwa yang tidak terurus dan sakit. Selain itu, kondisi kandang dan lingkungan di dalam KBS juga memprihatinkan.
Ironisnya, di tengah kemelut di dalam tubuh Perkumpulan KBS, satu per satu satwa mati secara misterius. Peristiwa matinya gajah bernama Guruh (23) adalah salah satu contoh. Kematian gajah asal Way Kambas, Lampung, ini sengaja dirahasiakan. Bahkan, Pengurus KBS saling lempar tanggung jawab atas matinya gajah, satwa keempat yang mati dalam dua pekan terakhir, termasuk raibnya enam jalak bali (Kompas, 15 September 2001).
Induk babi rusa menjaga anaknya yang baru berumur tiga hari di KBS. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Alifa (10 bulan) bayi orangutan (Pongo pygmaeus) diberikan susu formula di ruang perawatan KBS, 17 Agustus 2010. KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Kemelut kepengurusan KBS akhirya memaksa pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan mengambil alih KBS dengan membentuk tim pengelola sementara. Kurun 2010-2013, pengurusan KBS dilaksanakan oleh tim pengelola sementara yang ditunjuk dari Kementerian Kehutanan.
KBS kemudian dikelola oleh Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) berdasarkan Perda Kota Surabaya Nomor 19 Tahun 2012 pada Juli 2012. Saat itu total satwa di Kebun Binatang Surabaya mencapai 249 jenis, dengan jumlah 4.025 ekor.
Pada 2019 PDTS KBS resmi mengantongi izin sebagai lembaga konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Izin Lembaga Konservasi itu tertuang dalam surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 340/Menlhk/Setjen/KSA.2/5/2019.
Korupsi KBS yang sedang ditangani Kejati Jatim kini menjadi perhatian luas karena dampaknya tidak berhenti pada kerugian negara saja. Penyidikan atas kasus ini membuka tabir bagaimana praktik penyalahgunaan kewenangan berdampak langsung terhadap pengelolaan satwa.
Penyidik menemukan adanya penyimpangan dalam pengelolaan dana operasional, termasuk anggaran pakan satwa, yang selama ini menjadi kebutuhan paling mendasar bagi ratusan koleksi hewan di KBS.
Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pihaknya tidak ingin pengelolaan KBS karut-marut. ”Satwanya sehat, pakannya terpenuhi, kesejahteraan pegawai tercukupi, dan masyarakat Surabaya bangga memiliki dan menjaga KBS,” ujar Eri (Kompas.id, 26 Juli 2026).
Masyarakat kini menanti perbaikan tata kelola KBS, apalagi pada 31 Agustus nanti Kebun Binatang Surabaya akan genap berusia 110 tahun.





