Kafe Jadi Etalase Revitalisasi Jamu

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Penyajian jamu dengan sentuhan gastronomi kekinian bisa menjadi etalase bagi modernisasi jamu Indonesia. Dengan sentuhan seni, kuliner jamu dapat diolah, disajikan, dan dipasarkan di kafe-kafe secara modern, berkelas, dan bertanggung jawab. Strategi ini relevan dengan gaya hidup masa kini dan diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk jamu Nusantara.

Salah satu kafe yang menyajikan jamu dengan konsep kekinian adalah Kafe Jamu Acaraki. Saat ini, Acaraki memiliki enam cabang yang tersebar di Pantai Indah Kapuk 2, Kota Tua, Grand Indonesia, AEON Mall Tanjung Barat, dan Acaraki Landmark di Jakarta, serta Acaraki Universitas Gadjah Mada di DI Yogyakarta. Pada Jumat (24/7/2026), Tommy, seorang barista jamu, berkesempatan menunjukkan kepiawaiannya meracik aneka bahan jamu di Kafe Acaraki Kota Tua.

Dengan cekatan, Tommy menghaluskan kunyit kering menggunakan alat penggiling kopi yang telah dimodifikasi. Begitu digiling, aroma kunyit segera menguar. Kunyit kemudian dicampur dengan asam jawa, lalu diekstraksi menggunakan alat rok presso. Ekstraksi dengan air panas bertekanan ini menghasilkan kunyit asam murni atau shot kunyit asam yang pekat.

Baca JugaJamu Menjadi Mesin Baru Pariwisata

Shot kunyit asam inilah yang selanjutnya digabungkan dengan soda menjadi golden soda, atau dipadukan dengan yogurt menjadi golden yogurt. Shot kunyit asam juga bisa dipadukan dengan susu, es krim, vanila, ataupun varian minuman lainnya. Itu baru base (bahan dasar) menggunakan shot kunyit asam, belum termasuk shot beras kencur, jahe, sambiloto, dan macam-macam bahan jamu lainnya.

Challenge-nya (tantangannya) sebenarnya, kalau dari saya pribadi, adalah belajar tentang produknya. Pada awalnya harus menghafal dan membedakan mulai dari temulawak hingga kunyit. Jahe juga, kan, ada jahe merah dan jahe gajah,” ujar Tommy yang sebelumnya berprofesi sebagai barista kopi.

Sesaat kemudian, Tommy mengambil ”jahe kapsul” yang bentuknya mirip dengan kopi kapsul. Wadah kemasan kecil ini berisi bubuk jahe siap pakai yang dirancang khusus untuk mesin kopi kapsul. Mesin tersebut juga telah dimodifikasi agar sesuai untuk seduhan jahe. Dengan jahe kapsul ini, minuman jahe bisa dibuat secara instan, bersih, dan praktis dalam sekejap.

Eksplorasi teknik yang berbeda ternyata menghasilkan cita rasa yang juga berbeda. ”Kita lihat di industri kopi, bagaimana kopi yang diseduh dengan V60 atau dengan alat siphon. Cita rasanya beda. Kita sudah coba terapkan pada jamu kita, dan cita rasanya benar-benar beda juga,” papar pendiri dan Direktur PT Acaraki Nusantara Persada Jony Yuwono.

Melalui Kafe Acaraki, Jony memiliki mimpi besar untuk menghadirkan jamu dalam berbagai bentuk yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat, tanpa meninggalkan nilai budaya yang menjadi fondasinya. Jony, yang juga merupakan generasi penerus PT Sinde Budi Sentosa, memang mencintai jamu sejak kecil dan ingin mengembangkan jamu sebagai salah satu kebanggaan warisan budaya Indonesia.

Meski ada irisan kolaborasi dengan PT Sinde yang juga telah mengolah bahan baku jamu sejak 1978—antara lain memproduksi Larutan Penyegar Cap Badak—Acaraki menjadi perusahaan tersendiri karena bergerak di bidang food service. Berawal dari keisengan mengeksplorasi sudut lain dari jamu, ide Kafe Acaraki muncul pada 2014. Nama Acaraki sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yang bermakna ’peracik jamu’, dan mulai beroperasi penuh sejak 2018.

Jembatan revitalisasi

Dari survei internal yang sempat dilakukannya, Jony menemukan bahwa masyarakat Indonesia mengakui jamu itu sehat dan telah mengakrabinya secara turun-temurun. ”Dari sisi teori marketing-nya terasa agak aneh. Awareness tentang kata jamu sudah mendekati 99 persen, sudah sangat tinggi dan positif. Tetapi, ketika ditanya, apakah Anda minum jamu? (Jawabannya) oh, dulu pas kecil. Belakangan minum enggak? Enggak,” ungkap Jony yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu).

Sebanyak 70 persen responden survei mengaku tak lagi mengonsumsi jamu karena pahit, aromanya tidak sedap, atau trauma karena dicekoki minum jamu saat kecil. Sebanyak 20 persen lainnya memilih tak minum jamu karena ragu pada keamanan proses, higienitas, dan integritas bahan. Sisanya, yakni sebanyak 10 persen responden, menyebutkan bahwa jamu masih sulit dijumpai di lingkungannya.

​Jony lantas berupaya mengeksplorasi cita rasa (flavor) jamu dengan pendekatan yang mirip industri kopi. Aroma yang dihirup ketika mengonsumsi jamu menjadi hal penting, sebab flavor merupakan perpaduan antara rasa di lidah dan aroma yang diterima hidung. Seperti halnya saat menyeruput kopi, aktivitas minum jamu pun harus bisa diapresiasi melalui hidung. Konsep ini sangat berbeda dengan pengalaman minum jamu pada masa lalu yang umumnya diteguk sembari memencet hidung.

Baca JugaBagaimana Mempromosikan Jamu Menjadi Pariwisata Baru?


Perjalanan jamu ke depan diharapkan bisa mengikuti jejak perkembangan kopi. Kopi yang awalnya sekadar digerus dan digodok di rumah, kemudian bergerak menuju gelombang pertama industri kopi instan. Gelombang kedua, menurut Jony, adalah menjamurnya kafe-kafe kopi yang antara lain dipelopori oleh merek global, seperti Starbucks.

Tren kopi kemudian bergerak ke gelombang ketiga seiring kemunculan kedai kopi yang mengusung lokalitas dan lebih mengedepankan cerita tentang asal-usul kopi, kesejahteraan petani, hingga tren organik. ”Kalau kita lihat, industri jamu ini masih stuck di gelombang pertama: jamu instan saset. Kenapa tidak kita bawa masuk ke gelombang kedua di mana jamu bisa diseduh di kafe, ataupun gelombang ketiga?” kata Jony.


Jony berharap Acaraki bisa menjadi layaknya Starbucks, yakni sebagai jembatan yang memopulerkan jamu tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. Literasi terkait asal-usul jamu sejatinya sangat menarik. Kunyit, misalnya, memiliki cita rasa yang bervariasi bergantung pada lokasi penanamannya. Terdapat sekitar 64 varietas kunyit di Indonesia yang masing-masing memiliki keunikan cita rasa.

”Kita melihat industri jamu saat ini, kalau tidak berskala kecil sekali, ya besar sekali. Yang kelas menengah ini tidak ada. Artinya apa? Tidak ada jembatannya. Mirip seperti zaman gelombang pertama kopi instan dulu, lalu muncul tukang-tukang kopi jalanan. Di tengah-tengahnya kosong. Terus, hadirlah Starbucks yang masuk sebagai jembatan,” terang Jony.

Kini, Acaraki telah melebarkan sayap hingga ke mancanegara, salah satunya dengan membuka kafe di Brunei Darussalam. Sejak pertama kali dibuka, baik di dalam negeri maupun luar negeri, Acaraki terbukti mampu menarik minat konsumen anak muda. Apalagi pascapandemi Covid-19, tren konsumsi pangan sehat terus mengalami peningkatan.

Meski demikian, masyarakat umum masih cenderung beranggapan bahwa jamu sebatas obat atau minuman herbal yang hanya dikonsumsi ketika sakit. Padahal, jika ditelusuri akar sejarah dan filosofinya, kata jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno, yakni jampi yang berarti ’doa’ dan usada yang berarti ’kesehatan’. Dengan demikian, jamu sejatinya bermakna ’doa kesehatan’.

Daya tahan

Jamu diyakini mampu menjawab kebutuhan masyarakat dunia yang kini tengah beralih ke gaya hidup sehat. Mereka, antara lain, mulai mencari alternatif untuk mengurangi konsumsi minuman berkafein. ”Pembelajaran berharga dari pandemi adalah bahwa virus terus berevolusi. Satu-satunya cara untuk menangkal itu adalah dengan mendongkrak daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh tidak bisa dibangun secara instan, tetapi dengan hidup sehat, olahraga teratur, dan mengonsumsi jamu secara rutin,” kata Jony.

Ketika meresmikan grand opening Kafe Jamu Acaraki di PIK 2, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan, bahwa kehadiran kafe jamu modern merupakan manifestasi nyata dari pengakuan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dunia oleh UNESCO. Kafe jamu telah berhasil keluar dari stigma ”kuno” menjadi hal yang ”keren” dan relevan bagi generasi masa kini.

BPOM juga mengapresiasi konsistensi Acaraki dalam memodernisasi pemasaran jamu dengan senantiasa mematuhi regulasi serta standar pengolahan yang baik. BPOM berkomitmen untuk terus melakukan asistensi dan pendampingan guna membantu UMKM dalam memproduksi jamu yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan manfaat. Pengawasan ini dilakukan bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan untuk memberikan ’segel keamanan’ agar produk kreatif tersebut memiliki daya saing yang tinggi.


Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azhari menambahkan bahwa jamu berpotensi menjadi magnet pariwisata baru. Pascapandemi Covid-19, sejak 2023 hingga sekarang, tren pariwisata lebih mengarah pada customized tourism (pariwisata berbasis minat/kustomisasi). ”Perilaku pengunjung bergeser menjadi lebih mencari wisata yang mengutamakan keselamatan (safety), keamanan (security), lalu kesehatan. Ini yang sekarang sangat dibutuhkan oleh para turis,” paparnya.

Salah satu contoh customized tourism adalah pariwisata minat khusus seperti wisata kesehatan (health tourism). Wisata ini terbagi menjadi empat kategori, yaitu wisata medis (medical tourism), wisata penyembuhan (rehabilitation tourism), wisata kebugaran (wellness tourism), dan wisata lansia (geronto/grey/senior tourism). ”Khusus wisata jamu atau herbal, fokusnya lebih ditekankan pada wisata gastronomi yang bisa masuk ke dalam ranah wisata kebugaran maupun wisata medis,” tutup Azril.







Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Anung Resmikan Cara Baru Bayar Tiket MRT
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Harga Emas Dunia Turun, Pasar Perhatikan Potensi Kenaikan Suku Bunga The Fed
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Tamatkan Lautan Cinta dan Sebening Cinta, SCTV Hadirkan 2 Sinetron Baru Mulai Hari Ini
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
KPK Sita Rp 2 Miliar dalam OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Danantara Masuk KSSK, Ekonom Ingatkan Risiko Kaburnya Batas Kewenangan
• 23 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.