Dari Rumah Kecil Antang, Ruang Alternatif Seni Tumbuh di Pinggir Kota Makassar

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

HARIAN FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Di tengah menjamurnya kafe dan ruang komersial di Kota Makassar, sebuah rumah panggung sederhana di kawasan Antang perlahan menemukan identitasnya sendiri.

Rumah itu tidak menjual tiket masuk, tidak menawarkan panggung permanen, dan tidak memiliki fasilitas pertunjukan yang mewah. Namun pada Selasa malam, 28 Juli 2026.

Rumah Kecil Antang membuktikan bahwa ruang sederhana pun dapat menjadi tempat lahirnya percakapan, karya, dan harapan bagi dunia kesenian.


Rumah Kecil menjadi lokasi penyelenggaraan perdana Jumpa SEMALAM (Selasa Malam), forum bulanan yang diinisiasi Sanggar Merah Putih Makassar (SMPM).

Puluhan seniman, pegiat budaya, mahasiswa, hingga penikmat seni berkumpul tanpa sekat menikmati musik, puisi, monolog, dan diskusi mengenai masa depan kebudayaan di Makassar.

Berbeda dengan pertunjukan yang lazim digelar di gedung kesenian, Jumpa SEMALAM berlangsung dalam suasana yang intim. Penampil dan penonton berbagi ruang yang sama. Tidak ada jarak yang tegas antara panggung dan kursi penonton.

Percakapan berlangsung spontan, sesekali diselingi tawa, lalu kembali menjadi diskusi serius tentang karya dan kehidupan.


Pemilik Rumah Kecil, Adi Rucil, mengatakan tempat itu sejak awal memang dibangun sebagai ruang untuk bertemu. Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan seni dan kepecintaalaman, ia terbiasa menghabiskan awal pekan bersama teman-temannya untuk berdiskusi atau sekadar menikmati malam.


“Saya punya kebiasaan menjadikan Senin dan Selasa sebagai waktu berkumpul bersama teman-teman seni. Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul ide membuat Jumpa SEMALAM.

Kami berpikir, mengapa tidak membuka ruang ini agar lebih banyak orang bisa ikut menikmati dan berdialog,” katanya.


Menurut Adi, gagasan tersebut berkembang setelah berdiskusi dengan Andi Makmur Burhanuddin dan sejumlah pengurus Sanggar Merah Putih Makassar. Dari percakapan yang semula bersifat informal, lahirlah kesepakatan menjadikan Rumah Kecil sebagai ruang ekspresi yang terbuka bagi siapa saja.


Direktur Eksekutif SMPM, Ale Deep, menilai pemilihan Rumah Kecil bukan semata soal lokasi, melainkan bagian dari cara pandang terhadap seni itu sendiri.


“Kami ingin menunjukkan bahwa kesenian tidak harus selalu berlangsung di gedung pertunjukan. Selama ada ruang untuk bertemu, berdialog, dan berkarya, di situlah kesenian bisa hidup,” ujarnya.


Semangat itu terasa sepanjang malam. Musisi indie Evan Survival membuka acara dengan lagu-lagu bertema alam, kehidupan, dan cinta. Setelah itu, pembacaan puisi oleh Irwan AR, Bahar Merdhu, Moch Hasymi Ibrahim, serta Sanggar Seni dan Budaya Esa UIN Alauddin Makassar menghadirkan berbagai tema, mulai dari refleksi personal hingga kritik terhadap kekerasan seksual terhadap perempuan.


Di sela-sela pertunjukan, peserta terlibat dalam diskusi mengenai proyek artistik Rumah Ingatan. Berbagai gagasan bermunculan, mulai dari pemanfaatan pepohonan sebagai bagian dari karya, pelibatan warga Lorong 100, hingga eksplorasi bunyi yang memanfaatkan seluruh kawasan sekitar Rumah Kecil.

Bagi Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, Dr. Arifin Manggau, ruang-ruang seperti Rumah Kecil memiliki arti penting dalam perjalanan kesenian.


“Komunitas seni selalu lahir dari ruang-ruang yang sederhana. Yang membuatnya bertahan bukan kemegahan tempatnya, tetapi semangat orang-orang yang menghidupkannya,” ujarnya.


Pandangan itu diamini Direktur Artistik SMPM, Irwan AR. Menurutnya, banyak gagasan kebudayaan lahir bukan dari forum resmi, melainkan dari percakapan panjang yang berlangsung tanpa protokol.

“Rumah Kecil memberi kemungkinan itu. Orang datang bukan karena diwajibkan, tetapi karena ingin bertemu. Dari pertemuan yang tulus biasanya lahir karya-karya yang jujur,” katanya.

Malam semakin larut ketika komposer Maskur Alief Dg Esa memainkan komposisi musik seruling dan violin yang berkolaborasi dengan pembacaan puisi Asia Ramli Prapanca.

Selama hampir dua puluh menit, halaman Rumah Kecil dipenuhi bunyi yang mengalir pelan, sesekali disambut desir angin dan suara pepohonan di sekitarnya.

Suasana itu seolah mempertegas bahwa Rumah Kecil bukan sekadar alamat penyelenggaraan sebuah acara. Ia mulai menjelma menjadi ruang budaya yang tumbuh dari kebersamaan, tempat berbagai disiplin seni saling bertemu tanpa batas-batas formal.


Sanggar Merah Putih Makassar berencana menjadikan Jumpa SEMALAM sebagai agenda bulanan. Bagi komunitas ini, menjaga keberlangsungan ruang seperti Rumah Kecil merupakan bagian dari upaya merawat ekosistem kebudayaan kota.

Sebab di tengah perubahan Makassar yang terus bergerak, selalu diperlukan tempat-tempat yang memungkinkan orang berhenti sejenak, berbincang, mendengarkan, lalu kembali menciptakan sesuatu bersama.(#)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Sebut Gas Whip Pink Tak Penuhi Standar BPOM, Berpotensi Sebabkan Kematian
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Prabowo ke Lulusan IPDN: Rakyat Tak Butuh Birokrasi Berbelit-belit
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Aplikasi Belanja SOCA Catat Lonjakan Pengguna, Tawarkan Model Belanja dengan Imbal Hasil
• 4 menit laluerabaru.net
thumb
Pramono Tegaskan Pembayaran Obligasi Rp3,5 Triliun Tak Akan Jadi Beban Keuangan Jakarta
• 23 jam laludisway.id
thumb
Timnas Italia Tunjuk Roberto Mancini sebagai Pelatih Kepala, Proyek Baru Gli Azzurri Dimulai
• 13 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.