Investor kawakan Lo Kheng Hong terpantau memborong hingga 5,18 juta saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), baru-baru ini. Pembelian itu dilakukannya tatkala emiten manufaktur ban dan otomotif itu mencetak laba hampir Rp 800 miliar pada paruh pertama tahun ini.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham, Lo Kheng Hong menyerok saham GJTL di harga Rp 1.140 pada 21 Juli lalu. Jika dikalkulasikan, ia menggelontorkan dana hingga Rp 5,90 miliar untuk transaksi tersebut.
Alhasil, kepemilikannya di GJTL bertambah dari 239,92 juta saham atau 6,88% menjadi 245,10 juta saham atau setara 7,03% dari total saham beredar.
“Tujuan transaksi ini adalah untuk menambah investasi,” ungkap Lo Kheng Hong dalam laporannya yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (29/7).
Berdasarkan RTI Business, harga saham GJTL sudah melesat 17,22% secara year to date (ytd) dan terangkat 10,91% dalam sebulan terakhir. Dan jika menilik riwayat dividennya, GJTL menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 80 per saham untuk Tahun Buku 2025 dengan total nilai mencapai Rp 278,78 miliar.
GJTL membukukan penjualan bersih sebesar Rp 8,99 triliun pada semester I 2026, naik 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,52 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan di pasar domestik yang mampu mengimbangi perlambatan penjualan di pasar ekspor.
Berdasarkan keterangan resminya, perseroan juga mencatat peningkatan profitabilitas seiring turunnya biaya bahan baku utama pada semester I 2026. Margin laba kotor naik menjadi 21,1% dari 18,7% pada semester I 2025, meski masih tertekan karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kenaikan penjualan dan membaiknya margin mendorong kinerja operasional GJTL. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) meningkat dari Rp 1,13 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp 1,46 triliun pada semester I 2026.
Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 76,97% dari Rp 450 miliar menjadi Rp 796,36 miliar. Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja operasional yang lebih kuat, penurunan beban keuangan, dan keuntungan selisih kurs yang terutama berasal dari translasi aset perseroan dalam mata uang asing.




