Jakarta, CNBC Indonesia - Ribuan pekerja sejumlah teknologi dunia bergerak untuk mengingatkan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh AI. Mereka meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) dapat membuat aturan terkait laju perkembangan teknologi.
"Kami meminta agar pemerintah AS mendukung upaya internasional mengembangkan perangkat teknis dan tata kelola yang dibutuhkan untuk mengatur laju perkembangan AI otomatis," kata petisi yang ditandatangani lebih dari 1.100 pekerja, dikutip dari Engadget, Rabu (29/7/2026).
Para pekerja itu berasal dari perusahaan-perusahaan teknologi yang tengah mengembangkan AI secara masif, seperti Microsoft, OpenAI, Anthropic, Google, hingga Meta.
Mengutip First Post, petisi itu meminta pemerintah bisa bekerja sama dengan mitra internasional agar dapat menetapkan standar teknis dan kerangka kerja tata kelola AI.
Para pekerja itu juga mengingatkan risiko pada sistem AI. Teknologi disebut pula memiliki kemampuan untuk melampaui manusia dalam memamahami, bahkan mengendalikan manusia.
- Bos OpenAI Pencipta ChatGPT Sebut AI Buatannya di Luar Kendali Manusia
- Bukan Alibaba, Ini Perusahaan Paling Mahal di China Incaran Apple
- WhatsApp Mulai Pungut Rp 700 Per Chat Untuk Pesan Jenis Ini
Kekhawatiran ini makin sering terdengar seiring dengan model AI yang kian canggih.
Perkembangan AI memang kian masif beberapa tahun terakhir. Dana besar disiapkan agar perusahaan bisa bergerak lebih bebas dalam pengembangan model yang canggih.
Para perusahaan juga saling bersaing untuk bisa menghadirkan kemampuan lebih canggih, agar dapat mengungguli para penantangnya.
Dengan protes ini mencerminkan adanya perpecahan di dalam industri AI. Perusahaan yang tengah berinovasi besar-besaran menghadapi peneliti dan karyawan yang berpendapat soal keamanan dan tata kelola juga harus berkembang seiring dengan terobosan yang terjadi di dunia teknologi.
Gelombang protes ini juga menandakan kekhawatiran bukan lagi hanya berasal dari orang-orang luar industri.
(dem/dem) Add as a preferred
source on Google




