JAKARTA, KOMPAS – Perguruan tinggi swasta terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dan penelitian. Langkah ini dilakukan agar kampus swasta tetap menjadi pilihan utama untuk jenjang sarjana hingga pascasarjana.
Meskipun persaingan antara perguruan tinggi negeri dan swasta kian ketat, pimpinan kampus swasta dituntut tidak hanya berfokus pada jumlah mahasiswa. Mereka juga harus mampu mengembangkan pendapatan kampus di luar biaya kuliah.
Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal, di Jakarta, Rabu (29/7/2026) menyebut Universitas Yarsi ingin terus meningkatkan penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Target mahasiswa baru jenjang sarjana dipatok minimal 5.000 hingga 8.000 orang per tahun, sedangkan jenjang pascasarjana ditargetkan mencapai 2.000 orang per tahun.
“Pada tahun 2019, kami bisa menerima hingga 1.100 mahasiswa baru per tahun. Saat itu kami makin yakin bisa mencapai target 5.000 mahasiswa baru per tahun,” kata Fasli dalam acara serah terima jabatan dan baiat Rektor Universitas Yarsi yang baru, Ratna Sitompul.
Namun, pandemi Covid-19 menekan angka penerimaan hingga turun ke kisaran 700-an mahasiswa. "Saat ini kondisi terus membaik. Ini menjadi tantangan bagi PTS untuk terus meningkatkan mutu agar bisa menjangkau lebih banyak mahasiswa,” lanjutnya.
Fasli menilai kompetisi menjaring mahasiswa baru saat ini semakin agresif. Menurutnya, PTN Badan Hukum bergerak sangat masif seperti 'kapal keruk'. Oleh karena itu, PTS harus berjuang keras meningkatkan mutu agar tidak tersingkir dari persaingan.
Berdasarkan analisis Kompas terhadap data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Kemendiktisaintek periode 2014–2025, PTN—terutama PTNBH—terus meningkatkan jumlah student body dengan menambah program studi baru. Strategi ini membuat daya tampung PTNBH meroket dalam sepuluh tahun terakhir untuk merespons tingginya minat masyarakat.
Data penerimaan mahasiswa baru menunjukkan porsi PTN terhadap total mahasiswa nasional naik dari 34,4 persen pada 2014 menjadi 47,3 persen pada 2025. Angka ini melonjak hampir 13 poin persentase dalam 11 tahun.
Sebaliknya, PTS mengalami stagnasi bahkan penurunan. Rata-rata penerimaan mahasiswa baru PTS turun dari 533 orang per kampus pada 2014 menjadi 376 orang per kampus pada 2025.
Guna menghadapi tantangan ini, Universitas Yarsi memperkuat potensi berbagai program studi. Selain menambah kapasitas S-1 Kedokteran hingga 300 mahasiswa per tahun, Yarsi juga mengembangkan pascasarjana kesehatan serta memperkuat prodi teknik dan sosial humaniora demi mendukung pendidikan multidisiplin.
Ketua Pembina Yayasan Yarsi, Jurnalis Uddin, mengapresiasi kepemimpinan Fasli Jalal yang dinilai berhasil memperkuat pembenahan internal berbasis nilai-nilai keislaman. Pembenahan tersebut membuahkan peningkatan akreditasi prodi dan universitas menjadi Unggul, hingga meraih akreditasi internasional.
Jika kita terus berinovasi, turbulensi yang terjadi justru akan memperkuat kita.
Meski demikian, Jurnalis mengingatkan bahwa PTS masih menghadapi tantangan dalam menambah jumlah guru besar. "Peningkatan kualifikasi dosen tidak bisa ditawar. Hal ini penting agar riset yang dihasilkan berdampak luas dan publikasi ilmiah makin diperhitungankan,” tegas Jurnalis.
Mulai Agustus 2026 hingga 2031, Universitas Yarsi akan dipimpin oleh Ratna Sitompul. Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini merupakan dokter subspesialis infeksi dan imunologi. Pengalamannya di PTNBH menjadi modal penting untuk mengoptimalkan potensi pendanaan PTS melalui riset dan kapasitas dosen.
Ratna menegaskan, PTS tidak boleh hanya berpatokan pada penambahan jumlah mahasiswa. Kampus harus tetap berkomitmen pada mutu dan pengembangan kapasitas lulusan agar siap kerja.
“Pengembangan SDM seperti dosen peneliti tidak sekadar untuk publikasi ilmiah. Riset tersebut juga harus membuka peluang kerja sama dengan industri sebagai bentuk monetisasi yang perlu dikuatkan PTS,” ujar Ratna.
Terkait maraknya pembukaan Fakultas Kedokteran baru oleh pemerintah, Ratna menilai persaingan sehat tetap bisa dilakukan melalui peningkatan kualitas. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan pendekatan lintas disiplin ilmu ke dalam pendidikan kedokteran.
“Tidak semua masalah kesehatan bisa diselesaikan dokter saja. Penanganan diabetes melitus, misalnya, membutuhkan inovasi deteksi dini dan pembuatan obat agar pasien lebih patuh berobat. Perlu juga keterlibatan ilmu psikologi agar komunikasi dokter dan pasien lebih efektif. Penguatan multidisiplin ini makin penting,” papar Ratna.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan pentingnya inovasi saat menghadiri Munas IV ABPPTSI, Rabu (15/7/2026). Menurutnya, inovasi adalah kunci adaptasi terhadap disrupsi teknologi serta tantangan sosial-ekonomi global.
“Pendidikan adalah untuk mencetak talenta unggul sebagai tulang punggung kemajuan bangsa. Jika kita terus berinovasi, turbulensi yang terjadi justru akan memperkuat kita,” tegas Brian. Ia memastikan Kemendiktisaintek akan terus mendukung peningkatan kualitas PTS melalui riset dan inovasi yang solutif.
Data PDDikti mencatat sekitar 63 persen (2.713 lembaga) dari total perguruan tinggi di bawah Kemendiktisaintek dikelola oleh swasta. Sektor ini menampung lebih dari empat juta mahasiswa.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menyampaikan pentingnya penguatan tata kelola melalui pembinaan yang proporsional. Pendekatan ini disesuaikan dengan karakteristik tiap kampus agar pengembangan kapasitas PTS berjalan efektif dan berkelanjutan.
Ketua Umum ABPPTSI, Thomas Suyatno, menambahkan bahwa tantangan PTS saat ini memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. "Kami berharap rumusan yang dihasilkan dalam Munas dapat memberi manfaat bagi PTS serta memperkuat kolaborasi dengan PTN,” ujar Thomas.





