Washington (ANTARA) - Jajak pendapat yang dilakukan Bentley University dan Gallup mengungkapkan bahwa 39 persen warga AS percaya kecerdasan buatan (AI) lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaatnya, meningkat dari 31 persen pada 2025.
Pada saat yang sama, 9 persen responden mengatakan AI lebih banyak memberikan manfaat daripada kerugian, sementara 52 persen melihat jumlah manfaat dan kerugian teknologi tersebut sama, menurut hasil jajak pendapat yang dirilis pada Selasa.
Sikap pesimistis tersebut terutama terlihat di kalangan warga Amerika yang lebih muda, dengan 47 persen responden berusia 18 hingga 29 tahun mengatakan bahwa AI lebih berbahaya daripada manfaatnya.
Persentase tersebut meningkat signifikan dari 36 persen pada 2025, menurut jajak pendapat itu.
Selain itu, 79 persen warga AS memperkirakan AI akan mengurangi jumlah total lapangan kerja, dengan hanya 6 persen yang berpendapat sebaliknya.
Selain itu, hanya 27 persen responden yang percaya bahwa bisnis atau dunia usaha menggunakan AI secara bertanggung jawab, dengan 3 persen menyatakan "sangat" percaya dan 24 persen "agak" percaya, ungkap jajak pendapat tersebut lebih lanjut.
Survei tersebut dilakukan dari 4-11 Mei.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: China siap bahas AI dengan Amerika di tataran kepala negara
Baca juga: Trump akan bahas AI dengan Xi Jinping pada KTT September
Baca juga: Indonesia tegaskan tak berpihak ke China maupun AS di bidang AI
Pada saat yang sama, 9 persen responden mengatakan AI lebih banyak memberikan manfaat daripada kerugian, sementara 52 persen melihat jumlah manfaat dan kerugian teknologi tersebut sama, menurut hasil jajak pendapat yang dirilis pada Selasa.
Sikap pesimistis tersebut terutama terlihat di kalangan warga Amerika yang lebih muda, dengan 47 persen responden berusia 18 hingga 29 tahun mengatakan bahwa AI lebih berbahaya daripada manfaatnya.
Persentase tersebut meningkat signifikan dari 36 persen pada 2025, menurut jajak pendapat itu.
Selain itu, 79 persen warga AS memperkirakan AI akan mengurangi jumlah total lapangan kerja, dengan hanya 6 persen yang berpendapat sebaliknya.
Selain itu, hanya 27 persen responden yang percaya bahwa bisnis atau dunia usaha menggunakan AI secara bertanggung jawab, dengan 3 persen menyatakan "sangat" percaya dan 24 persen "agak" percaya, ungkap jajak pendapat tersebut lebih lanjut.
Survei tersebut dilakukan dari 4-11 Mei.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: China siap bahas AI dengan Amerika di tataran kepala negara
Baca juga: Trump akan bahas AI dengan Xi Jinping pada KTT September
Baca juga: Indonesia tegaskan tak berpihak ke China maupun AS di bidang AI





