Pemerintah Singapura Gelontorkan Bansos, Warga Dapat Rp 4 Juta untuk Belanja

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah Singapura hampir menggandakan nilai paket bantuan untuk meredam dampak kenaikan biaya hidup akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7), tambahan stimulus senilai S$ 900 juta membuat total paket bantuan yang digelontorkan pemerintah mencapai hampir S$ 2 miliar. Berdasarkan pernyataan pemerintah pada Rabu (29/7), tambahan bantuan tersebut difokuskan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah serta usaha kecil dan menengah (UKM). Paket ini melengkapi bantuan yang sebelumnya diumumkan pada April lalu. Dalam skema terbaru, setiap rumah tangga di Singapura akan menerima voucher senilai S$ 300 pada Januari 2027. Voucher tersebut dapat digunakan untuk berbelanja di supermarket maupun pusat jajanan atau hawker center. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan hibah tunai bagi UKM serta bantuan sewa untuk kios pasar dan hawker center. Tambahan stimulus diberikan ketika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas sehingga mengganggu pasokan energi dan berbagai komoditas yang diimpor Singapura dari kawasan Timur Tengah. Kondisi itu turut mendorong inflasi negara tersebut pada Juni, terutama akibat kenaikan harga pangan dan biaya transportasi. Bank sentral Singapura juga memperingatkan tekanan inflasi masih berpotensi meningkat pada bulan ini dan diperkirakan tetap tinggi hingga pertengahan 2027. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik 3,6 persen menjadi US$ 87,12 per barel pada Rabu. Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga minyak sepanjang Juli menjadi hampir 20 persen, meski masih berada di bawah level US$ 100 per barel yang sempat tercapai sebelum AS dan Iran menghentikan aksi saling serang. “Situasi di Timur Tengah masih bergejolak, dan kita terus merasakan dampaknya di dalam negeri,” kata Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam unggahan di Facebook. “Langkah-langkah ini melengkapi bantuan yang telah kami berikan sebelumnya, dan saya berharap dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih besar kepada warga Singapura saat kita bersama-sama menghadapi periode penuh ketidakpastian ini,” lanjutnya. Sebelumnya, pada Juni, Wong telah mengingatkan bahwa Singapura belum sepenuhnya merasakan dampak ekonomi dari perang AS-Iran, khususnya terhadap biaya listrik, pangan, dan pupuk. Tarif listrik di negara itu bahkan dijadwalkan naik 17 persen mulai bulan ini, yang menjadi kenaikan terbesar sepanjang sejarah. Sementara itu, Menteri Keuangan Kedua Singapura Jeffrey Siow mengatakan kondisi ekonomi negaranya sejauh ini masih lebih baik dari perkiraan. Meski begitu, ia menilai tekanan tidak dirasakan secara merata karena pelaku usaha skala kecil menghadapi kenaikan biaya yang lebih berat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dokter Internship Tewas Diduga Loncat dari Lantai 18 Apartemen, Sebelumnya Sempat Menolak Diajak Pergi
• 16 jam lalugrid.id
thumb
Didukung Danantara Nasabah Bullion BSI Melonjak 700%, Fee-Based Income Bisnis Emas Naik 712%
• 13 jam laludisway.id
thumb
AI hingga Data Center Bikin Prospek Timah Makin Cerah, TINS Bidik Momentum Semester II
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
LIVE! Polisi Selidiki Kematian Pekerja Eks Jampidsus, Hasil Olah TKP Masih Ditunggu | KOMPAS SIANG
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Bersiap Menghadapi Fase El Nino Kuat...
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.