Semarang: Musim kemarau mulai berdampak pada sektor peternakan sapi perah di Kota Semarang. Ketersediaan hijauan pakan yang menurun membuat produksi susu ikut berkurang.
Meski demikian, para peternak memastikan kualitas susu tetap terjaga berkat pemberian pakan tambahan dan pengawasan rutin.
Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu di Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, merasakan dampak langsung musim kemarau. Produksi susu sapi perah di kelompok ini mengalami penurunan. Ketua Kelompok Tani Ternak, Nursi, menyebut pada musim hujan rata-rata produksi susu bisa mencapai 15 liter per hari per ekor.
"Kalau musim hujan, produksi bisa 15 liter per ekor per hari. Sekarang karena hijauan susah, turun sekitar satu setengah liter," ujar Nursi, Kamis, 30 Juli 2026.
Untuk menjaga kondisi ternak, peternak menggunakan pakan tambahan berupa ampas tahu, bungkil kelapa, dan konsentrat sebagai pengganti sebagian hijauan yang sulit diperoleh selama musim kemarau.
Baca Juga :
Krisis Air Melanda Perbukitan Menoreh Kulon Progo, Sekolah Ikut Terdampak
Meski produksi menurun, peternak memastikan kualitas susu tetap baik. Hal ini dibuktikan dengan uji laboratorium yang dilakukan secara berkala oleh dinas terkait setiap tiga bulan sekali.
Saat ini, produksi susu rata-rata mencapai 15 liter per ekor per hari. Pada awal masa laktasi, produksi dapat mencapai 20 liter per hari.
Ilustrasi Medcom.id
Petani juga tetap menanam rumput pakan sendiri. Namun, pertumbuhan tanaman melambat akibat keterbatasan air, sehingga masa panen rumput yang biasanya satu bulan sekali kini menjadi sekitar dua bulan sekali.
Meskipun volume produksi berkurang, hingga saat ini tidak ada keluhan dari pembeli. Kualitas susu segar yang dihasilkan dinilai tetap memenuhi standar. Peternak berharap musim kemarau segera berakhir agar produksi susu dapat kembali normal. (Dewanto)




