JAKARTA, DISWAY.ID-- Pusing, mudah lelah, jantung berdebar, sesak napas, pandangan menggelap, hingga hampir pingsan bisa jadi bukan sekadar kelelahan, tetapi tanda bradikardia, yaitu detak jantung yang lebih lambat akibat gangguan sistem kelistrikan jantung, sehingga pasokan darah ke tubuh berkurang.
Pada kondisi tertentu, bradikardia dapat ditangani dengan pacemaker (alat pacu jantung) yaitu perangkat elektronik kecil yang berfungsi mengirimkan impuls listrik untuk menjaga irama jantung tetap normal.
BACA JUGA:Astra Dorong Rumah Koran Kanreapia Jadi Sentra Sayuran Terbesar di Sulawesi Selatan, Perkuat Ekonomi Warga
Lantas, kapan pacemaker dibutuhkan? Dokter Agung Fabian, Sp.JP(K), dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Tangerang menjelaskan, “Pacemaker dipasang ketika detak jantung terlalu lambat atau sistem kelistrikan jantung gagal menghantarkan impuls listrik.
Kebutuhannya juga bergantung pada penyebab bradikardia, seperti gangguan pada sinus node yang menghasilkan impuls listrik jantung, heart block atau hambatan penghantaran sinyal listrik di jantung, serta efek obat-obatan, proses penuaan, maupun penyakit jantung tertentu.”
Pacemaker berbentuk bulat pipih menyerupai permukaan jam tangan, dengan diameter sekitar 4–6 cm. dan berbahan logam.
BACA JUGA:Cegah Korupsi, Komisi II DPR Usulkan Remunerasi Kepala Daerah Berbasis Kinerja
Alat ini ditanam di bawah kulit dada, sedangkan kabelnya dimasukkan melalui pembuluh darah vena hingga mencapai ruang jantung. Alat ini memiliki berbagai macam jenis yang digunakan sesuai kondisi pasien.
"Misalnya, pada pasien gagal jantung dengan kontraksi jantung yang tidak sinkron, dokter dapat menggunakan terapi resinkronisasi jantung (Cardiac Resynchronization Therapy/CRT) atau Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) untuk mendeteksi gangguan irama jantung (aritmia) dan menghentikan aritmia yang mengancam nyawa," lanjut dr. Agung.
Untuk menentukan kebutuhan pemasangan pacemaker, pasien perlu menjalani evaluasi menyeluruh. Dokter Rerdin Julario, Sp.JP(K) dari Mayapada Hospital Surabaya, menjelaskan
BACA JUGA:Kuasa Hukum Eks Jampidsus Sebut Ada Kejanggalan dalam Proses Penahanan dan Penetapan Tersangka Febrie
“Penilaian dilakukan melalui EKG untuk merekam aktivitas listrik jantung, Holter yang memantau irama jantung selama 24–48 jam, event monitor untuk merekam irama jantung saat keluhan muncul, serta ekokardiografi, tes darah, dan evaluasi penggunaan obat.”
“Lalu, jika pasien memang harus menggunakan pacemaker, alat ini umumnya tidak membatasi aktivitas sehari-hari. Namun, kontrol rutin tetap diperlukan untuk memantau fungsi alat dan kondisi jantung,” lanjut dr. Rerdin.
Bradikardia sendiri sering kali tidak bergejala, sehingga masyarakat perlu lebih waspada dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan jantung untuk membantu mendeteksinya sejak dini dan menentukan penanganan yang tepat, termasuk kebutuhan pemasangan pacemaker.
Karena itu, Mayapada Hospital menyediakan Cardiovascular Center untuk perawatan jantung komprehensif mulai dari skrining, diagnosis, intervensi, bedah jantung, hingga rehabilitasi, didukung tim dokter multidisiplin dan teknologi mutakhir, serta pendampingan Cardiac Advisor bagi pasien dan keluarga sejak awal perawatan hingga pemulihan.
- 1
- 2
- »





