Sepeda motor Honda Astrea Grand berwarna hijau itu tampak mengilap seperti baru keluar dari pabrik. Motor tersebut merupakan salah satu hasil restorasi Bengkel Bebek Restorasi di Kalurahan Sidoarum, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman.
Di balik bengkel tersebut ada Dana Brata Fitriawan Kusuma (24), lulusan Teknik Manufaktur Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Usaha yang dirintis sejak masih duduk di bangku SMK itu tak hanya membiayai kuliahnya hingga lulus, tetapi kini juga membuka lapangan pekerjaan.
Dana memulai usaha restorasi motor pada 2018 saat masih bersekolah di SMK Negeri 3 Yogyakarta. Bengkel pertamanya hanya memanfaatkan garasi rumah berukuran 4x5 meter.
"Dulu tempat bengkel ini hanya berukuran 4x5 meter. Hanya garasi kecil di samping rumah yang saya bangun pelan-pelan, saya besarkan pelan-pelan supaya cukup muat untuk restorasi banyak motor," kata Dana saat ditemui di bengkelnya, Kamis (30/7).
Pelanggan pertamanya adalah anggota keluarga sendiri sebelum kemudian berkembang melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
"Pertama kali motor saudara, kemudian merambah ke motor teman. Dari teman terus ke temannya lagi, jadi mulai dari mulut ke mulut," ujarnya.
Dana mengatakan dasar ilmu perbengkelan diperolehnya dari sang ayah. Dengan modal sendiri, ia memilih fokus pada restorasi motor lawas karena sesuai hobi sekaligus melihat peluang pasar yang terus berkembang.
Pesan Ibu Menjadi PenyemangatPada 2021, Dana mulai menempuh pendidikan di UNY. Di tahun yang sama, ibunya meninggal dunia akibat pandemi.
Menurut Dana, keinginan menyelesaikan kuliah merupakan pesan yang selalu diingat dari sang ibu.
"Ceritanya ya sebuah perjuangan bagi saya bisa kuliah sambil turut menjalankan bengkel ini. Itu sebuah pesan dari almarhum Ibu. Bahwa saya ketika lulus SMK, dengan hobi saya yang menekuni otomotif ini, ibu itu risau, kalau anaknya terlena dengan kesenangannya terus kemudian melupakan cita-cita yang digantungkan oleh almarhum Ibu untuk kuliah," katanya.
"Dan di situ, di tahun 2021 saya kehilangan almarhum Ibu karena pandemi, sehingga saya pada waktu itu bertekad kuliah saya harus selesai," lanjutnya.
Dana mengaku seluruh biaya kuliah berasal dari hasil usahanya sendiri.
"Saya tidak pernah meminta uang sepeser pun (kepada bapak saya) untuk urusan kuliah, selama saya menjalani pendidikan kuliah," katanya.
Bahkan, skripsinya juga mengangkat tema perancangan produk otomotif yang masih berkaitan dengan dunia perbengkelan.
Dari Garasi Kecil Menjadi Bengkel yang RamaiSeiring waktu, usaha Dana berkembang. Kini Bengkel Bebek Restorasi mempekerjakan lima orang karyawan dan melayani pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia.
"Alhamdulillah untuk saat ini bisa membuka lapangan pekerjaan," katanya.
Menurut Dana, salah satu tantangan terbesar dalam merestorasi motor lawas adalah mencari suku cadang asli yang sudah tidak lagi diproduksi.
"Karena mengingat spare part-spare part motor ini sudah mulai stop produksi, sudah tidak ada di pasaran lagi. Jadi mulai hunting barang-barang yang ori itu cukup mahal dan susah," ujarnya.
Proses restorasi pun dilakukan secara menyeluruh, mulai dari mesin, kelistrikan, hingga baut-baut kendaraan.
"Semua komponen unit ini kita bongkar semua, termasuk baut-baut, mesin, kelistrikan, semua komponen kita treatment ulang," katanya.
Satu unit motor membutuhkan waktu pengerjaan minimal satu bulan dengan biaya mulai Rp10 juta, termasuk jasa dan suku cadang.
Pelanggannya datang dari berbagai daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, hingga Riau.
"Untuk saat ini kita reservasi booking. Karena setiap bulan kapasitas kita hanya bisa mengerjakan empat sampai lima unit," ujarnya.
Ke depan, Dana berharap usahanya terus berkembang agar dapat menjangkau lebih banyak penghobi motor lawas sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
"Ke depan harapannya bengkel ini lebih bermanfaat, lebih besar, bisa menjangkau para kebutuhan penghobi motor-motor lawas, dan juga dapat membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya dan seprofesional mungkin," pungkasnya.





