Grid.ID - Aksi Dedi Mulyadi beri hadiah Rp 50 juta dalam sayembara tangkap begal, rampok, dan pelaku kejahatan mendapat kritikan. Kali ini berasal dari Menko Kumhamimipas, yakni Yusril Ihza Mahendra.
Dimana menurut Yusril hal itu tidak perlu dilakukan. Pasalnya hal itu dikhawatirkan bisa mendorong masyarakat melakukan tindak kriminal lain. Salah satunya yakni main hakim sendiri.
"Kalau saya boleh menyampaikan nasihat dengan segala hormat kepada Pak Gubernur Jawa Barat, sebaiknya jangan membuka sayembara seperti itu karena dikhawatirkan akan mendorong masyarakat melakukan tindakan main hakim sendiri," tutur Yusri Ihza Mahendra dikutip Grid.ID dari Kompas.com, Kamis (30/7/2026).
Lebih lanjut, Yusril juga menyoroti perihal hadiah yang diberikan Gubernur Jawa Barat itu. Yakni memberikan uang mulai dari nominal Rp 5 juta atau Rp 10 juta, hingga Rp 50 juta yang dianggap mendorong orang bertindak hal di luar koridor hukum.
Belum lagi kalau-kalau ada korban salah tangkap yang langsung dihajar massa.
"Misalnya ada hadiah Rp 5 juta atau Rp 10 juta, orang bisa saja kemudian membawa senjata dan berjaga-jaga untuk menangkap begal.
Yang dikhawatirkan, orang yang sebenarnya bukan begal justru dipukuli karena dikira begal," imbuhnya.
Yusril sendiri mengungkapkan untuk mengatasi masalah begal yang sedang marak di Jawa Barat adalah kewenangan dari aparat penegak hukum. Yakni kepolisian.
"Menurut saya, yang harus dilakukan adalah law enforcement atau penegakan hukum. Dalam hal ini, polisi yang berwenang melakukan penangkapan dan pengejaran terhadap orang-orang yang diduga melakukan pembegalan," beber Yusril.
Tak berhenti sampai di situ, selain mengkritik aksi Dedi Mulyadi beri hadiah Rp 50 juta dalam sayembara tangkap begal, sebenarnya Yusril sudah menemukan solusinya. Yakni dimana masyarakat tetap dapat berperan membantu aparat dengan memberikan informasi atau membantu menangkap pelaku apabila terjadi tindak kejahatan di lokasi sebelum polisi tiba.
"Masyarakat tentu dapat membantu polisi atau memberikan laporan. Kalau misalnya tidak ada polisi di lokasi, kemudian ada korban begal berteriak dan warga membantu menangkap pelaku, itu boleh saja. Tetapi jangan kemudian main hakim sendiri," tandas Yusril.
Sementara itu, sebelumnya Dedi Mulyadi beri hadiah Rp 50 juta dalam sayembara tangkap begal, rampok, dan pelaku kejahatan di Jabar.
Pria yang akrab disapa KDM itu juga mengaku telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian khususnya Polda Jabar. Yang sengaja ditempatkan untuk bersiaga dan membuat kejahatan di Jabar dapat diberantas.
"Siaga menghadapi begal. Kami terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian khususnya Polda Jabar dan Polda Metro Jabar untuk siaga menghadapi berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," ungkap Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Instagram @dedimulyadi71 pada 24 Juli 2027 lalu.
Dan gongnya, apabila ada yang berhasil melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, hingga rampok, Dedi Mulyadi siap memberikan hadiah yang tak main-main. Yakni berupa uang senilai Rp 50 juta.
"Bagi yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, hingga rampok, kami siapkan hadiah dari Rp5 juta sampai Rp 50 juta," beber Dedi Mulyadi
"(Untuk warga) yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya ke kepolisian dalam keadaan hidup. Terima kasih, mari kita bersama waspada, berani, kita lawan berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," tandasnya. (*)
Artikel Asli




