Jerat TPPO di Balik Layar Gawai Kian Canggih, Anak Muda Wajib Kenali "Red Flags" dan Berani "Pause"

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

”Kita harus mendobrak stigma bahwa ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada kita. TPPO di era digital justru menargetkan anak muda berpendidikan dengan literasi digital tinggi”.

Ajakan sekaligus peringatan kepada anak-anak muda agar mewaspadai modus-modus jaringan perdagangan orang disampaikan secara lantang oleh Putu Aisyah Raswati. Ajakan tersebut disampaikan aktivis kemanusiaan dan Miss International Indonesia 2020 itu dalam sesi talkshow pada Puncak Peringatan Hari Dunia Anti Perdagangan Orang 2026 di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Putu dihadirkan pada acara yang mengusung tema ”Melawan TPPO di Era Digital” yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan sejumlah lembaga internasional yang bergerak dalam melawan perdagangan orang. Bersama sejumlah anak muda lain, dia menyampaikan pesan-pesan penting pada anak muda, menyusul kian maraknya perdagangan orang.

Karena itu, Putu dengan tegas mengingatkan anak muda untuk menyadari bahwa para pelaku perdagangan orang saat ini adalah mastermind yang memahami algoritma dan memanfaatkan data untuk mencari titik lemah calon korban. ”Mereka memahami algoritma, tahu kapan kita sedang lemah, atau kapan kita baru lulus dan butuh pekerjaan,” ungkapnya

Baca JugaPerdagangan Orang di Era Tanpa Batas
Baca JugaPerdagangan Orang Berubah, Saatnya Memperbarui UU TPPO

Karena itulah Putu membagikan beberapa tanda peringatan (red flags) yang harus diwaspadai masyarakat terutama kaum muda agar tidak terjebak. Tanda peringatan ini penting diperhatikan, karena hal itu sering kali luput dari perhatian karena tertutup iming-iming menggiurkan.

Tanda peringatan itu antara lain adanya tawaran pekerjaan yang terlalu indah (too good to be true) yakni pekerjaan dengan gaji sangat tinggi untuk cakupan tugas yang sederhana. Selain itu, proses rekrutmennya sangat instan yakni proses yang sangat cepat dan langsung ditugaskan tanpa seleksi yang jelas.

Tanda-tanda itu terlihat dari tekanan waktu (rushing moment) di mana pelaku memaksa korban mengambil keputusan dalam waktu singkat, misalnya terbatas dalam waktu 24 jam, dengan alasan kuota hampir habis. Pelaku juga memanipulasi psikologis korban, bertindak seolah-olah sangat peduli dan dapat dipercaya guna menjaring korban lewat love scam atau romansa palsu.

Ambil langkah ’berhenti sejenak’

Oleh karena itu, menurut Putu sangat penting untuk menerapkan kekuatan ’jeda’ (pause) sebelum mengambil keputusan apa pun terkait tawaran pekerjaan, magang, atau beasiswa daring.

Selama masa jeda tersebut, langkah-langkah verifikasi yang harus dilakukan meliputi, melakukan riset mandiri melalui situs web sumber terpercaya atau memeriksa profil perusahaan di platform profesional seperti LinkedIn; Menghubungi pusat panggilan (call center) resmi atau pihak berwenang untuk memastikan legalitas tawaran tersebut; serta Berdiskusi dengan keluarga atau orang-orang terdekat mengenai peluang yang didapat agar mendapatkan sudut pandang lain.

Ambil waktu untuk berpikir. Verifikasi melalui sumber resmi, cek profil perusahaan di LinkedIn, hubungi call center, dan bicarakan dengan keluarga.

Baca JugaModus Kejahatan Perdagangan Orang Berkembang, Pelaku Kini Menyasar Korban Lewat Daring
Baca JugaMengatasi TPPO Membutuhkan Sinergi Lintas Sektor dan Internasional

Langkah ”Pause” atau berhenti sejenak sangat penting sebagai tameng utama mencegah menjadi korban. Sebelum mengeklik atau menyetujui tawaran apa pun, masyarakat diajak untuk menilai ulang.

”Ambil waktu untuk berpikir. Verifikasi melalui sumber resmi, cek profil perusahaan di LinkedIn, hubungi call center, dan bicarakan dengan keluarga,” jelas Putu.

Di era digital, literasi dan kebijaksanaan digital (digital wisdom) harus menjadi perisai utama. Sebab target TPPO saat ini telah meluas, mereka tidak lagi hanya menyasar kelompok yang lemah secara ekonomi, tetapi secara aktif menargetkan orang-orang yang "penuh harapan" (the hopeful) yakni mereka yang berpendidikan dan memiliki literasi digital, namun sedang mendambakan kehidupan atau karier yang lebih baik.

Dari desa ke layar ponsel

Kecanggihan modus perdagangan orang saat ini juga diungkap Priyadi Santoso, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Pekerja dan TPPO Kementerian PPPA. Saat ini pola rekrutmen telah bermigrasi total. Jika dahulu pelaku harus bertemu langsung, kini mereka cukup menggunakan media sosial dan akun palsu yang sulit dilacak.

Kenyataan ini diperkuat oleh data dari Abie Sancaya (National Programme Officer, United Nations Office on Drugs and Crime/UNODC), yang menyoroti munculnya scam centers di Asia Tenggara. ”Sindikat ini butuh orang untuk mengoperasikan penipuan daring, itulah mengapa targetnya meluas ke lulusan universitas yang memiliki literasi digital lumayan,” ungkapnya dalam sesi talkshow yang dipandu Shafira Ayunindya, National Project Officer, The International Organization for Migration (IOM) Indonesia.

Sejak 2022, IOM telah membantu lebih dari 660 korban yang terkait dengan penipuan daring (online scams) di Indonesia.

Baca JugaPerdagangan Orang Terus Berulang, Solusi Perlu Menyentuh Akar Masalah
Baca JugaPerdagangan Orang di Asia Tenggara, Kejahatan Kemanusiaan yang Tak Kunjung Usai

Di sisi lain, Rajmatha Devi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan, ada tantangan dalam pengawasan konten. Meski telah menindak sekitar 7.000 konten penipuan lowongan kerja, kecepatan penyebaran konten di platform seperti Facebook dan TikTok tetap menjadi tantangan besar.

Sementara itu, Putri Farkhah, Manager Program ICT Watch mengingatkan bahwa meski penetrasi internet mencapai 81 persen, literasi digital masyarakat masih ”bolong-bolong,”. Oleh karena itu, menurut pandangan ICT Watch atau Akademi Internet Sehat, edukasi sedari dini di sekolah menjadi sangat krusial.

Peringatan Hari Dunia Anti TPPO 2026 ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah panggilan bagi generasi digital untuk lebih kritis. Sebagaimana pesan dari Putu, ”Siapa pun bisa menjadi korban perdagangan orang. Tetapi dengan kemajuan teknologi, siapa pun juga bisa menjadi alasan mengapa perdagangan orang berakhir”.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Tetapkan 1 Tersangka Baru di Kasus TPPU Febrie Adriansyah
• 23 jam laludetik.com
thumb
Gelombang Pesilat yang Datangi Markas DC di Surabaya Sudah Bubar
• 23 menit lalukumparan.com
thumb
Kapolri Rotasi 146 Pati dan Pamen Polri: Kadiv Hubinter hingga Kapolres
• 7 jam laludetik.com
thumb
DPPKB Gowa Borong 15 Penghargaan pada Harganas ke-33 Sulsel, Bukti Keberhasilan Program Bangga Kencana
• 13 jam laluterkini.id
thumb
Darije Kalezic enggan lewatkan kesempatan kembali latih PSM Makassar
• 19 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.