Pantau - Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilization Forces/PMF) di Irak memicu peningkatan ketegangan di Timur Tengah setelah sedikitnya 20 anggota PMF tewas dan 32 lainnya terluka.
Serangan yang berlangsung pada Rabu (29/7) dini hari menyasar sejumlah markas PMF di Baghdad, Basra, dan Nineveh.
Komando Pusat Amerika Serikat (Central Command/CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap lebih dari 30 serangan drone yang disebut diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dalam 72 jam terakhir.
"Pesawat tempur AS dan Arab Saudi menyerang beberapa lokasi logistik dan persenjataan teroris di berbagai wilayah Irak timur sebagai respons tegas terhadap lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dalam 72 jam terakhir," demikian pernyataan CENTCOM.
CENTCOM juga menyebut kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran telah melancarkan lebih dari 600 upaya serangan terhadap warga negara dan fasilitas Amerika Serikat sepanjang Februari hingga April serta memperingatkan akan memberikan respons militer lanjutan apabila serangan terus berlanjut.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi sebelumnya melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah drone yang berasal dari wilayah Irak dan menargetkan fasilitas minyak di negara tersebut.
Sejumlah analis menilai operasi gabungan Washington dan Riyadh menandai perubahan signifikan dalam strategi keamanan kawasan sekaligus memperkuat koordinasi pertahanan kedua negara.
Kepresidenan Irak mengecam serangan tersebut sebagai agresi dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara serta menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog.
Para pakar memperingatkan serangan itu berpotensi mengganggu stabilitas Irak dan meningkatkan risiko konfrontasi yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran melalui kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.
Perlawanan Islam di Irak membantah menargetkan fasilitas Arab Saudi dan menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan tersebut, sementara Gerakan al-Nujaba juga berjanji melakukan pembalasan.




