Keberadaan mobil China di Inggris makin kokoh dalam beberapa tahun terakhir dan berhasil menguasai pangsa pasar otomotif di negara tersebut.
IDXChannel—Kehadiran mobil listrik China di pasar Inggris menekan penjualan otomotif manufaktur setempat, mendorong pelaku usaha untuk berlomba-lomba memasang harga diskon untuk bersaing dengan merek China.
Mobil-mobil impor yang didatangkan dari China dapat dijual dengan harga yang lebih rendah. Keberadaan mobil China di Inggris makin kokoh dalam beberapa tahun terakhir dan berhasil menguasai pangsa pasar otomotif di negara tersebut.
Berkat harga jual yang kompetitif dengan model mobil listrik dan plug-in hybrid. CEO Society of Motor Manufacturers and Traders Mike Hawes mengatakan mobil China menambah tekanan dari segi volume.
“Dari segi volume, manufaktur lokal menghadapi tekanan yang luar biasa karena China dapat memproduksi mobil yang bagus dengan biaya yang lebih murah,” tuturnya, dilansir dari CNA (31/7/2026).
Hawes juga mengatakan saat ini manufaktur otomotif lokal tengah memasang harga diskon untuk meningkatkan daya saingnya. Merek China kini menguasai 15 persen dari total pendaftaran kendaraan baru di Inggris.
Adapun merek yang menguasai pasaran adalah MG (SAIC Motor), BYD, Chery (JAECOO), dan OMODA. Namun, persaingan yang kian ketat hanyalah salah satu di antara banyak faktor yang menyebabkan kontraksi pada manufaktur otomotif lokal.
Sebagai catatan, industri manufaktur otomotif lokal di Inggris merosot 7,5 persen pada paruh pertama 2026. Faktor lain yang turut memengaruhi industri otomotif lokal adalah ketidakpastian aturan perdagangan dan tingkat investasi yang rendah.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Inggris, tetapi juga di negara-negara Eropa lainnya. Pangsa pasar merek China terus bertambah meskipun Uni Eropa memasang tarif pada mobil listrik buatan China pada 2024.
Salah satu merek Eropa yang cukup terpukul akibat persaingan dengan merek China adalah Volkswagen (VW), merek otomotif asal Jerman yang belum lama ini mengumumkan pemangkasan biaya demi menjaga daya saing di pasaran.
Sementara Inggris, yang telah meninggalkan Uni Eropa pada 2020, belum menerapkan tarif impor yang sama. Hawes mengatakan investigasi terhadap mobil impor China harus dimulai dengan komplain dari pihak manufaktur otomotif setempat.
Hingga saat ini, kata Hawes, belum ada pelaku industri otomotif setempat yang mengajukan keberatan atas impor mobil China di Inggris.
(Nadya Kurnia)





