Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Malang, Jawa Timur harus dipastikan bebas dari aktivitas perundungan.
"Masa pengenalan lingkungan sekolah tentu kami berharap tidak ada perundungan atau bullying, suasana itu perlu dibangun," kata Khofifah seusai menghadiri MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang, Jumat.
Ia menyampaikan suasana yang harmonis dan kondusif akan membantu mempercepat proses adaptasi para pelajar terhadap lingkungan baru, apalagi siswa dan siswi di Sekolah Rakyat Terintegrasi itu akan menjalani pendidikan dengan sistem sekolah berasrama.
MPLS, kata dia, sesungguhnya juga perlu memfokuskan kegiatan pada penguatan karakter, akhlak, dan kedisiplinan seluruh peserta didik.
Baca juga: MPLS Tahap II Sekolah Rakyat Wonosobo tampung 270 siswa baru
Khofifah menegaskan keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang harus benar-benar dipastikan melahirkan generasi unggul dan mampu memberikan dampak pada kemajuan bangsa hingga menjadi medium meningkatkan harkat serta martabat pelajar yang berasal dari keluarga kategori desil 1 dan 2.
"Kawan-kawan di dunia ini cara memutus mata rantai kemiskinan paling efektif, yakni melalui pendidikan," ujar dia.
Sementara Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang I, Warsito menyampaikan MPLS akan dimaksimalkan untuk mengenalkan setiap kegiatan dan lingkungan tempat belajar bagi siswa dan siswi.
"Jadi selama 40 hari anak-anak ini habitual atau untuk pembiasaan 40 hari dulu untuk siswa baru, mulai dari menata kasur, membersihkan, kemudian mencuci, dan pengenalan lainnya," kata dia.
Setelah itu, pihaknya akan memetakan bakat pelajar menggunakan metode talent DNA dan hasil dari proses yang dilakukan, salah satunya ditujukan sebagai acuan penempatan peserta didik di dalam program ekstrakurikuler.
Baca juga: Kotim resmikan operasional gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 01
Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang menampung ratusan murid, terdiri atas 59 pelajar SD, 118 pelajar SMP, dan 94 pelajar SMA.
Kemudian, ada 77 pelajar dari Sekolah Rakyat rintisan di Singosari, Kabupaten Malang yang juga menjalani masa pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi.
"Kemudian yang dari rintisan ada yang dari Lumajang terus Kediri, itu digabung dengan kami saat di sekolah rintisan, sekarang jadi satu di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang," ucapnya.
Sedangkan dari sisi kesehatan, para pelajar dipastikan oleh dia telah mendapatkan layanan cek kesehatan gratis (CKG) dari Puskesmas Bantur.
Pihaknya berharap para pelajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi ini mampu berdampak positif bagi masa depan para pelajar untuk menempuh kehidupan lebih baik di masa depan.
Baca juga: Wagub Aceh bertekad jadikan Sekolah Rakyat model pendidikan inklusif
"Masa pengenalan lingkungan sekolah tentu kami berharap tidak ada perundungan atau bullying, suasana itu perlu dibangun," kata Khofifah seusai menghadiri MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang, Jumat.
Ia menyampaikan suasana yang harmonis dan kondusif akan membantu mempercepat proses adaptasi para pelajar terhadap lingkungan baru, apalagi siswa dan siswi di Sekolah Rakyat Terintegrasi itu akan menjalani pendidikan dengan sistem sekolah berasrama.
MPLS, kata dia, sesungguhnya juga perlu memfokuskan kegiatan pada penguatan karakter, akhlak, dan kedisiplinan seluruh peserta didik.
Baca juga: MPLS Tahap II Sekolah Rakyat Wonosobo tampung 270 siswa baru
Khofifah menegaskan keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang harus benar-benar dipastikan melahirkan generasi unggul dan mampu memberikan dampak pada kemajuan bangsa hingga menjadi medium meningkatkan harkat serta martabat pelajar yang berasal dari keluarga kategori desil 1 dan 2.
"Kawan-kawan di dunia ini cara memutus mata rantai kemiskinan paling efektif, yakni melalui pendidikan," ujar dia.
Sementara Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang I, Warsito menyampaikan MPLS akan dimaksimalkan untuk mengenalkan setiap kegiatan dan lingkungan tempat belajar bagi siswa dan siswi.
"Jadi selama 40 hari anak-anak ini habitual atau untuk pembiasaan 40 hari dulu untuk siswa baru, mulai dari menata kasur, membersihkan, kemudian mencuci, dan pengenalan lainnya," kata dia.
Setelah itu, pihaknya akan memetakan bakat pelajar menggunakan metode talent DNA dan hasil dari proses yang dilakukan, salah satunya ditujukan sebagai acuan penempatan peserta didik di dalam program ekstrakurikuler.
Baca juga: Kotim resmikan operasional gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 01
Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang menampung ratusan murid, terdiri atas 59 pelajar SD, 118 pelajar SMP, dan 94 pelajar SMA.
Kemudian, ada 77 pelajar dari Sekolah Rakyat rintisan di Singosari, Kabupaten Malang yang juga menjalani masa pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi.
"Kemudian yang dari rintisan ada yang dari Lumajang terus Kediri, itu digabung dengan kami saat di sekolah rintisan, sekarang jadi satu di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Malang," ucapnya.
Sedangkan dari sisi kesehatan, para pelajar dipastikan oleh dia telah mendapatkan layanan cek kesehatan gratis (CKG) dari Puskesmas Bantur.
Pihaknya berharap para pelajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi ini mampu berdampak positif bagi masa depan para pelajar untuk menempuh kehidupan lebih baik di masa depan.
Baca juga: Wagub Aceh bertekad jadikan Sekolah Rakyat model pendidikan inklusif





