Jakarta (ANTARA) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo mendukung penyelenggaraan festival budaya Bali yang diinisiasi oleh komunitas kesenian asal Jepang, Geinoh Yamashirogumi, sebagai sarana diplomasi untuk memperkuat hubungan antara Indonesia dan Jepang.
Festival Kecak Geinoh Yamashirogumi ke-48 digelar di Shinjuku, Tokyo, pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. Acara tersebut menampilkan permainan musik tradisional Bali, seperti jegog dan gamelan, serta sejumlah tarian tradisional seperti Legong dan Kecak, dengan melibatkan lebih dari 100 penggiat seni.
“KBRI Tokyo siap mendukung setiap kegiatan yang digelar. Semoga festival ini terus terselenggara sebagai simbol kerukunan budaya dan menginspirasi kolaborasi yang lebih erat antara kedua bangsa,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Jepang Nurmala Kartini P. Sjahrir dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.
Ia mengapresiasi Geinoh Yamashirogumi serta seluruh panitia festival atas komitmen mereka dalam memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Indonesia kepada masyarakat Jepang.
Ia pun menilai bahwa kelompok kesenian tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat persahabatan antara Indonesia dan Jepang melalui sektor budaya.
“Festival tahun ini bahkan lebih istimewa, karena mempertemukan artis Indonesia, terutama dari Bali, dengan para penampil berbakat dari Jepang, Georgia, dan Bulgaria,” ujarnya.
Dengan didampingi oleh Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula, Dubes Nurmala hadir menyaksikan langsung festival tersebut pada Kamis (30/7) bersama lebih dari 500 penonton.
Direktur Eksekutif Geinoh Yamashirogumi Akira Yajima optimis bahwa Festival Kecak dapat berperan sebagai platform penting untuk mempromosikan pertukaran budaya serta memperdalam pemahaman dan persahabatan antara Indonesia dan Jepang.
“Selama setengah abad sejak diresmikan pada 1976, Festival Kecak ini telah didedikasikan untuk membawa seni pertunjukan Indonesia yang kaya kepada penonton di Jepang… Suara dan ritme, suara-suara yang saling tumpang tindih, koreografi kolektif, semua ini dipandu oleh persepsi yang tak terucapkan,” imbuhnya.
Baca juga: KBRI Tokyo dukung literasi diaspora melalui peluncuran enam buku
Baca juga: KBRI Tokyo ajak WNI memperkuat harmoni dan taat hukum Jepan
Baca juga: Dubes Kartini apresiasi peran Sekolah Indonesia Tokyo
Festival Kecak Geinoh Yamashirogumi ke-48 digelar di Shinjuku, Tokyo, pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. Acara tersebut menampilkan permainan musik tradisional Bali, seperti jegog dan gamelan, serta sejumlah tarian tradisional seperti Legong dan Kecak, dengan melibatkan lebih dari 100 penggiat seni.
“KBRI Tokyo siap mendukung setiap kegiatan yang digelar. Semoga festival ini terus terselenggara sebagai simbol kerukunan budaya dan menginspirasi kolaborasi yang lebih erat antara kedua bangsa,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Jepang Nurmala Kartini P. Sjahrir dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.
Ia mengapresiasi Geinoh Yamashirogumi serta seluruh panitia festival atas komitmen mereka dalam memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Indonesia kepada masyarakat Jepang.
Ia pun menilai bahwa kelompok kesenian tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat persahabatan antara Indonesia dan Jepang melalui sektor budaya.
“Festival tahun ini bahkan lebih istimewa, karena mempertemukan artis Indonesia, terutama dari Bali, dengan para penampil berbakat dari Jepang, Georgia, dan Bulgaria,” ujarnya.
Dengan didampingi oleh Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula, Dubes Nurmala hadir menyaksikan langsung festival tersebut pada Kamis (30/7) bersama lebih dari 500 penonton.
Direktur Eksekutif Geinoh Yamashirogumi Akira Yajima optimis bahwa Festival Kecak dapat berperan sebagai platform penting untuk mempromosikan pertukaran budaya serta memperdalam pemahaman dan persahabatan antara Indonesia dan Jepang.
“Selama setengah abad sejak diresmikan pada 1976, Festival Kecak ini telah didedikasikan untuk membawa seni pertunjukan Indonesia yang kaya kepada penonton di Jepang… Suara dan ritme, suara-suara yang saling tumpang tindih, koreografi kolektif, semua ini dipandu oleh persepsi yang tak terucapkan,” imbuhnya.
Baca juga: KBRI Tokyo dukung literasi diaspora melalui peluncuran enam buku
Baca juga: KBRI Tokyo ajak WNI memperkuat harmoni dan taat hukum Jepan
Baca juga: Dubes Kartini apresiasi peran Sekolah Indonesia Tokyo





