Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan hasil riset yang menyatakan reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan berpotensi meningkatkan mobilitas penumpang dan angkutan barang, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat pengembangan wilayah secara berkelanjutan.
Reaktivasi Dinilai Memiliki Prospek KuatPeneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN, Purwoko, mengatakan kajian dilakukan terhadap jalur yang telah lama tidak beroperasi dengan kondisi infrastruktur rel yang mengalami kerusakan serta sebagian trase yang telah beralih fungsi menjadi jalan dan kawasan permukiman.
Ia mengungkapkan, tim peneliti melakukan observasi lapangan terhadap jalur rel, stasiun, jembatan, dan fasilitas pendukung, serta mewawancarai PT Kereta Api Indonesia, pemerintah, operator, dan masyarakat untuk menilai kelayakan reaktivasi.
"Hasil kajian menunjukkan potensi pengoperasian kembali jalur cukup besar. Potensi tersebut didukung oleh pertumbuhan penduduk, meningkatnya mobilitas masyarakat, kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi, serta kebutuhan distribusi berbagai komoditas, seperti hasil pertanian, hasil perikanan, dan batu bara menuju PLTU Labuan yang selama ini masih mengandalkan angkutan jalan," ungkap Purwoko.
Purwoko menambahkan analisis juga menemukan sejumlah kekuatan yang mendukung reaktivasi, di antaranya kapasitas angkut kereta api yang besar, tarif yang relatif terjangkau, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Meski demikian, reaktivasi masih menghadapi tantangan berupa kerusakan infrastruktur, alih fungsi lahan rel, tingginya kebutuhan investasi pembangunan dan pemeliharaan, serta persaingan dengan moda transportasi lain.
Masuk PSN dan Ditargetkan Beroperasi pada 2029Berdasarkan analisis Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS), strategi pengembangan berada pada Kuadran I atau strategi agresif yang menunjukkan peluang pengembangan lebih besar dibandingkan hambatan sehingga proyek dinilai memiliki prospek kuat untuk direalisasikan.
Purwoko mengatakan implementasi reaktivasi perlu disertai peningkatan akses menuju stasiun, perbaikan kualitas layanan, integrasi dengan moda transportasi lain, serta sosialisasi kepada masyarakat.
Reaktivasi dan pembangunan jalur kereta api juga menjadi perhatian Presiden RI Prabowo Subianto yang menginginkan jaringan perkeretaapian Indonesia berkembang lebih pesat dan menjangkau wilayah yang lebih luas.
"Saya menanti peresmian revitalisasi stasiun-stasiun lain, termasuk launching Trans Sumatra Railway. Terima kasih," ungkap Presiden Prabowo.
Jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan sepanjang sekitar 56 kilometer diketahui dibangun pada 1906 dan berhenti beroperasi sekitar 1984 akibat bergesernya orientasi transportasi ke angkutan jalan.
Saat ini reaktivasi lintas tersebut telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029 dengan konstruksi segmen awal direncanakan dimulai pada 2027 dan keseluruhan proyek ditargetkan selesai serta beroperasi pada 2029.




