New Tang Dynasty TV melaporkan bahwa pada Kamis 30 Agustus 2026, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, mengalami gelombang masuk imigran ilegal terbesar dalam sejarahnya. Dalam waktu hanya 24 jam, sekitar 60.000 imigran ilegal memasuki wilayah tersebut, mengguncang Eropa. Banyak pihak mempertanyakan apakah kebijakan imigrasi Spanyol yang dinilai terlalu longgar dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong meningkatnya arus penyelundupan manusia. Presiden Donald Trump juga memperingatkan bahwa jika pengendalian perbatasan gagal, Amerika Serikat dapat mengalami krisis serupa.
EtIndonesia.com Pada Kamis 30 Agustus 2026, puluhan ribu imigran ilegal memasuki Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, hanya dalam semalam. Kota kecil yang berbatasan langsung dengan Maroko itu seketika menjadi pusat krisis migrasi di Eropa.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, mengatakan: “Menyebut peristiwa kemarin sebagai sebuah ‘serangan’ berarti mengakui bahwa integritas wilayah Spanyol telah dilanggar.”
Kota Ceuta hanya memiliki sekitar 83.000 penduduk. Karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Maroko, wilayah ini telah lama menjadi salah satu pintu masuk utama bagi para migran ilegal dari Afrika menuju Eropa.
Wali Kota Ceuta menyatakan bahwa sekitar 60.000 orang melintasi perbatasan dalam waktu 24 jam. Ini merupakan gelombang masuk migran terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah kota Ceuta.
Selain jumlahnya yang sangat besar, lebih dari 10.000 orang juga dilaporkan mempertaruhkan nyawa dengan berenang atau menggunakan perahu untuk mencapai Ceuta melalui jalur laut.
Perwakilan pemerintah Spanyol di Ceuta mengatakan bahwa 57 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan wilayah Spanyol. Jumlah korban tewas dan luka diperkirakan bisa lebih tinggi.
Sejumlah pengamat menilai bahwa gelombang besar imigran ilegal yang muncul secara tiba-tiba ini berkaitan dengan kebijakan imigrasi Spanyol yang selama ini dianggap terlalu longgar.
Berbeda dengan banyak negara Eropa yang memperketat aturan imigrasi, pemerintah Spanyol pada awal tahun ini memberikan amnesti kepada ratusan ribu imigran ilegal dengan memberikan status izin tinggal yang sah.
Pada Juli tahun ini, Mahkamah Agung Spanyol juga memutuskan bahwa setiap imigran ilegal yang memasuki Spanyol melalui jalur laut tidak boleh langsung dideportasi. Mereka harus terlebih dahulu menjalani proses verifikasi identitas dan pemeriksaan permohonan suaka sebelum keputusan akhir diambil.
Putusan tersebut dinilai dapat meningkatkan keinginan para penyelundup dan migran untuk memilih jalur laut menuju Spanyol.
Gelombang migrasi yang terjadi secara mendadak ini juga memicu kekhawatiran banyak negara Eropa mengenai keamanan perbatasan.
Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, mengatakan: “Jelas ini pertama-tama merupakan urusan pemerintah Spanyol, tetapi masuknya migran ke Ceuta memang sangat mengkhawatirkan.”
Pemerintah Prancis mengumumkan akan memperketat pengawasan di perbatasannya dengan Spanyol. Sementara itu, sejumlah politisi di Italia menyerukan agar status Spanyol dalam Kawasan Schengen dievaluasi kembali.
Peristiwa ini juga mendapat perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia memperingatkan bahwa gelombang besar imigran ilegal seperti yang terjadi di Spanyol juga dapat terjadi di Amerika Serikat.
“Kemarin saya melihat apa yang terjadi di Spanyol. Itu benar-benar sebuah bencana. Rasanya seperti sebuah negara dibanjiri oleh ratusan ribu orang. Jika Partai Republik tidak memenangkan pemilu, hal yang sama juga akan terjadi di Amerika Serikat—bahkan dalam skala yang lebih besar, lebih parah, dan lebih mudah terjadi,” katanya.
Saat ini, menurut sejumlah laporan media, sebagian besar imigran ilegal yang melintasi perbatasan tersebut telah mulai kembali ke Maroko.
Laporan disusun oleh Meng Yu, New Tang Dynasty Television.





