HARIAN.FAJAR.CO.ID, BANDUNG — Piala Presiden 2026 memasuki fase paling menentukan. Empat tim terbaik yang berhasil melewati fase grup kini hanya berjarak satu pertandingan dari partai final.
Persib Bandung akan menghadapi Persija Jakarta, sementara Persebaya Surabaya berjumpa Arema FC pada babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung Selasa (4/8/2026). Dua pertandingan tersebut menggunakan format satu laga, sehingga setiap kesalahan dapat langsung berujung pada kegagalan melangkah ke final.
Jika melihat performa sepanjang fase grup, Persib Bandung dan Persebaya Surabaya muncul sebagai dua tim yang paling layak diperhitungkan.
Persib tampil konsisten untuk mengamankan posisi juara grup. Sementara Persebaya menunjukkan perkembangan signifikan sepanjang turnamen dan menutup fase grup dengan catatan sempurna.
Bajul Ijo menyapu bersih tiga pertandingan Grup B dengan sembilan poin. Kemenangan terakhir atas Port FC dengan skor 2-1 menjadi salah satu indikator penting bahwa permainan Persebaya mulai berkembang di bawah Bernardo Tavares.
Menariknya, dua gol Persebaya ke gawang Port FC lahir melalui permainan terbuka.
Hal tersebut menjadi perkembangan penting bagi Bernardo Tavares. Sebelumnya, Persebaya lebih banyak memanfaatkan situasi bola mati untuk menciptakan gol.
Kini, variasi serangan mulai terlihat.
Pada awal babak kedua, Bernardo melakukan perubahan dengan memasukkan Walber Mota, Ramadhan Sananta, Alex Martins, dan Francisco Rivera. Pergantian tersebut langsung memberikan dampak.
Pada menit ke-47, Alex Martins berhasil menuntaskan umpan Francisco Rivera untuk membawa Persebaya berbalik unggul 2-1.
Gol tersebut menjadi gambaran bahwa organisasi serangan Persebaya mulai menemukan bentuk yang diinginkan Bernardo.
Pelatih asal Portugal tersebut memang sejak awal menekankan bahwa Persebaya tidak boleh menjadi tim yang hanya mengandalkan bola mati.
“Kita tidak bisa hanya menjadi tim yang bermain hanya mengandalkan bola mati,” ujar Bernardo.
Menurutnya, Persebaya harus memiliki kekuatan dalam seluruh fase permainan, mulai dari bertahan, menyerang, transisi hingga situasi bola mati.
“Kita harus kuat di semua momen dalam pertandingan: saat bola mati, saat bertahan, dalam organisasi menyerang, organisasi pertahanan, dalam transisi menyerang, dan transisi bertahan,” lanjutnya.
Perkembangan tersebut membuat Persebaya semakin menarik untuk diperhitungkan.
Namun, Bernardo masih memiliki pekerjaan rumah. Saat menghadapi Port FC, Persebaya memang mampu mencetak dua gol dari open play, tetapi belum sepenuhnya mampu mengontrol pertandingan.
Bahkan setelah Port FC kehilangan satu pemain karena kartu merah Bruno Moreira pada menit ke-61, Persebaya masih mendapatkan tekanan hingga penghujung laga.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa Persebaya masih perlu meningkatkan penguasaan bola dan ketenangan ketika sudah berada dalam posisi unggul.
Bernardo menyadari persoalan tersebut.
“Di beberapa momen kita bisa mencetak gol ketiga dan keempat, dan kita menderita di menit-menit akhir karena terkadang dalam keputusan, kita bermain lebih menggunakan hati daripada menggunakan kepala untuk berpikir,” katanya.
Persoalan tersebut bisa menjadi ujian ketika Persebaya menghadapi Arema FC.
Derby Jawa Timur selalu menghadirkan tekanan berbeda. Pertandingan tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknis, tetapi juga kemampuan pemain mengendalikan emosi.
Di atas kertas, Persebaya memang lebih diunggulkan berdasarkan perjalanan mereka di fase grup. Namun, Arema memiliki peluang membuat kejutan karena semifinal hanya dimainkan satu pertandingan.
Artinya, momentum dan efektivitas di depan gawang dapat menjadi pembeda.
Sementara itu, semifinal lainnya mempertemukan dua rival besar, Persib Bandung dan Persija Jakarta.
Pertandingan ini diprediksi menjadi duel paling ketat karena kedua tim memiliki kualitas pemain serta sejarah rivalitas yang panjang.
Persija datang dengan modal empat poin dari tiga pertandingan Grup B. Macan Kemayoran menang 4-1 atas PSMS Medan, bermain imbang 2-2 melawan Port FC, sebelum kalah tipis 0-1 dari Persebaya.
Kehadiran Shin Tae-yong juga membuat Persija memiliki dimensi berbeda.
Pelatih asal Korea Selatan tersebut tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memanfaatkan Piala Presiden sebagai ajang untuk melihat perkembangan pemain dan membangun kedalaman skuad.
“Tentu saja kami ingin memberikan kesempatan kepada semua pemain. Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar semua pemain mendapatkan kesempatan bermain,” ujar Shin Tae-yong.
Namun, menghadapi Persib di semifinal tentu membutuhkan pendekatan berbeda.
Tidak ada ruang bagi Persija untuk melakukan kesalahan seperti di fase grup. Persib memiliki kualitas untuk menghukum setiap kehilangan konsentrasi, terutama dalam pertandingan dengan tekanan tinggi.
Persib sendiri memiliki modal konsistensi yang membuat mereka menjadi salah satu kandidat kuat juara.
Jika mampu melewati Persija, Maung Bandung akan mendapatkan keuntungan psikologis karena berhasil menyingkirkan rival utama sebelum mencapai final.
Berdasarkan performa fase grup, kedalaman skuad dan konsistensi permainan, AI memprediksi Persib mampu mengalahkan Persija dengan skor tipis 2-1.
Sementara itu, Persebaya diprediksi mampu mengatasi Arema FC dengan skor yang sama, 2-1.
Jika prediksi tersebut terealisasi, maka final Piala Presiden 2026 akan mempertemukan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya.
Partai tersebut berpotensi menjadi pertandingan yang menarik karena kedua tim memiliki karakter berbeda.
Persib mempunyai pengalaman dan kedalaman skuad yang membuat mereka cukup stabil dalam pertandingan besar. Sementara Persebaya membawa energi baru setelah menunjukkan perkembangan permainan terbuka sepanjang fase grup.
Persebaya juga memiliki keuntungan dari sisi momentum.
Sembilan poin dari tiga pertandingan menunjukkan konsistensi yang sangat baik. Selain itu, keberhasilan mencetak gol melalui open play memberikan sinyal bahwa permainan Green Force tidak lagi mudah dibaca.
Namun, final memiliki tekanan yang berbeda.
Dalam pertandingan perebutan trofi, pengalaman mengelola tekanan, kualitas pemain pengganti, kemampuan menjaga konsentrasi serta efektivitas memanfaatkan peluang dapat menjadi faktor penentu.
Di titik inilah Persib dinilai sedikit lebih unggul.
AI memprediksi Persib Bandung akan mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 2-1 pada partai final dan mengangkat trofi Piala Presiden 2026.
Prediksi tersebut tentu bukan jaminan hasil akhir. Sepak bola selalu memiliki ruang bagi kejutan, terlebih seluruh pertandingan semifinal dan final dimainkan dalam situasi yang sangat menentukan.
Namun, jika seluruh indikator dari fase grup dijadikan dasar, Persib memiliki kombinasi yang cukup lengkap untuk menjadi kandidat terkuat.
Persebaya memiliki momentum dan perkembangan permainan yang sangat positif. Arema memiliki potensi kejutan. Persija memiliki Shin Tae-yong dan pengalaman menghadapi pertandingan besar.
Tetapi Persib memiliki konsistensi, kedalaman skuad, pengalaman, serta kemampuan mengelola pertandingan yang membuat Maung Bandung berada satu tingkat di atas kandidat lainnya.
Piala Presiden 2026 akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk memperebutkan trofi pramusim.
Bagi empat semifinalis, turnamen ini juga menjadi ujian terakhir sebelum menghadapi kompetisi Super League 2026/2027.
Persib dan Persebaya kini memiliki peluang terbesar untuk membawa pulang trofi.
Jika prediksi berjalan sesuai skenario, Persib Bandung akan keluar sebagai juara, Persebaya Surabaya menjadi runner-up, sedangkan Persija Jakarta dan Arema FC harus puas memperebutkan posisi ketiga.
Namun, jawaban sesungguhnya baru akan hadir di lapangan.
Satu kesalahan, satu momen individual, atau satu keputusan taktik dapat mengubah seluruh prediksi.
Dan ketika semifinal dimulai pada 4 Agustus, semua statistik akan kehilangan arti. Hanya performa selama 90 menit yang menentukan siapa yang berhak melangkah ke final Piala Presiden 2026.





