Deretan bangunan tua di kawasan Kota Tua, Jakarta, tak hanya menjadi magnet wisata sejarah. Di sela keramaian pengunjung, jasa pembacaan kartu tarot dan garis tangan masih bertahan sebagai sumber penghidupan bagi sebagian orang.
Dengan tarif mulai Rp 30 ribu, pengunjung bisa 'mengintip' masa depan. Mulai dari urusan jodoh, pekerjaan, hingga kondisi ekonomi.
Salah satu peramal tarot yang menekuni profesi ini ialah Hendi Efendi (50). Selama lebih dari 2 dekade, sejak pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, Hendi membuka lapak sederhana dan menunggu pengunjung yang penasaran dengan nasibnya.
Tarif yang dipatoknya relatif terjangkau. Satu pertanyaan dikenakan biaya Rp 30 ribu.
"Tarif ini aja. Rp 30 ribu [satu pertanyaan], 60 ribu [dua pertanyaan]" kata Hendi ketika ditemui di lapaknya, Selasa (4/8).
Kata Hendi, pelanggan yang datang mayoritas anak muda. Topik yang paling sering ditanyakan tak jauh dari urusan asmara.
"[Seputar] jodoh, cewek," ujarnya.
Saat akhir pekan atau musim liburan, jumlah pelanggan Hendi bisa meningkat. Dalam sehari, ia bisa melayani sekitar 30 orang. Meski begitu, pendapatannya tidak selalu besar setiap hari.
"Ya lumayan, 30 orang masuk lah," ucapnya.
Jika dirata-rata, Hendi mengaku mampu mengantongi keuntungan sekitar Rp 3 juta dalam sebulan dari jasa membaca tarot dan garis tangan.
kumparan sempat meminta Hendi meramal kondisi ekonomi Indonesia ke depan. Dari hasil terawangannya, situasi ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan.
"Prediksi saya sih lemah ya, karena susah sih, lapangan kerja susah, banyak di PHK," kata Hendi.
Tak jauh dari lapak Hendi, peramal lain bernama Darojat juga menikmati pasar yang sama. Ia mengaku pendapatan hariannya saat ramai berkisar Rp 200 ribu-Rp 300 ribu.
"Kalau ramai Sabtu-Minggu sama tanggal merah," kata Darojat.
Dalam sebulan, kata Darojat, pendapatannya berkisar Rp 3 juta dan pada periode tertentu bahkan bisa menembus Rp 4 juta.
Demi menarik pelanggan, Darojat menawarkan paket yang lebih hemat dibandingkan peramal lain. Cukup bermodal Rp 100 ribu, pelanggan bisa mengajukan 4 pertanyaan sekaligus dan bisa dibaca garis tangannya.
"Rp 100.000 [itu] 4 pertanyaan terus dibaca tangan juga. [Kalau] yang lain 30 ribu [cuma] 1 pertanyaan," jelas Darojat.





