PADANG, KOMPAS — Sedikitnya 62 sekolah di Kota Padang, Sumatera Barat, terendam banjir, Senin (3/8/2026) kemarin. Akibatnya, proses belajar-mengajar di sekolah terdampak terpaksa diliburkan sementara untuk proses pembersihan sisa material banjir.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Yopi Krislova Selasa (4/8/2026), mengatakan, banjir merendam 27 PAUD, 29 SD, dan 6 SMP. Angka tersebut, kata dia, masih berpotensi bertambah.
“Hari ini sekolah tersebut libur sementara karena sekolah dalam proses pembersihan yang dibantu dinas lingkungan hidup dan instansi lainnya,” kata Yopi, Selasa siang.
Menurut Yopi, sejumlah peralatan dan perabotan sekolah terendam banjir. Namun, banjir tidak sampai merusak ruangan kelas
Di antara 62 sekolah terdampak, dua di antaranya relatif lebih parah, yaitu SMPN 41 Padang dan SMPN 27 Padang. Di kedua sekolah itu, banjir menyisakan lumpur tebal di halaman dan ruangan kelas.
“Sekolah yang kondisinya tidak terlalu parah, guru bersama siswa dan warga sekolah membersihkan sisa banjir. Mudah-mudahan besok proses pembelajaran bisa kembali dilaksanakan,” ujar Yopi.
Melalui kepala sekolah, kata Yopi, pihaknya sedang mendata peralatan dan perabotan sekolah yang rusak akibat banjir. Data itu akan jadi dasar untuk menganggarkan bantuan pada APBD perubahan 2026.
Sementara itu, Wali Kota Padang Fadly Amran menginstruksikan agar sekolah yang tidak parah terdampak banjir bisa kembali menggelar proses belajar-mengajar pada Rabu (5/8/2026). “Besok saya perintahkan, anak-anak sudah bisa bersekolah,” katanya.
Di SMPN 41 Padang, Kecamatan Kuranji, kawasan sekolah masih diselimuti lumpur tebal, baik halaman maupun ruang kelas dan bangunan lainnya. Para guru, segelintir siswa, dan petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, serta dinas lingkungan hidup membersihkan sekolah.
Kepala SMPN 41 Padang Amridas menjelaskan, Sungai Guo yang berada di belakang sekolah meluap pada Senin (3/8/2026) siang. Mujurnya, sekolah dengan 409 siswa dan 38 guru dan tenaga kependidikan itu telah memulangkan siswa sejak pukul 12.00 WIB sebagai langkah preventif.
“Setengah jam setelah siswa pulang, air bah datang,” kata Amridas, Selasa siang. “Empat guru sempat terjebak hingga pukul 21.00 WIB karena akses pulang dari berbagai arah terendam banjir.”
Menurut Amridas, banjir pada Senin siang tingginya 40-60 sentimeter. Ketinggian banjir kemarin memang tidak setinggi banjir 27 November 2026, yang mencapai 126 cm, tetapi lumpur yang ditinggalkan sangat tebal, 10-15 cm.
“Untuk besok, siswa mungkin belum bisa sekolah. Proses pembersihan, dengan bantuan para petugas, mungkin butuh sekitar tiga hari,” kata Amridas.
Amridas menjelaskan, selain meninggalkan lumpur tebal, banjir juga merusak sejumlah alat elektronik, seperti laptop dan printer, serta beberapa dus buku dan arsip sekolah.
Para guru telah berupaya menyelamatkannya, tetapi karena banjir datang mendadak, tidak semua dapat dipindahkan ke tempat tinggi. Bahkan, ada pula printer yang sudah ditaruh di atas lemari, jatuh ke genangan karena lemari rebah akibat banjir.
“62 pasang bangku dan meja hanyut terbawa banjir,” ujar Amridas. “Pagar di belakang sekolah juga roboh.”
Amridas berharap, berbagai pihak membantu pihak sekolah membersihkan sisa material banjir agar siswa dapat segera kembali sekolah. Selain itu, ia berharap ada bantuan untuk mengganti bangku dan meja yang hilang, pagar yang roboh, dan peralatan elektronik yang rusak.
“Selain itu, kami berharap pula ada pembangunan turap di sepanjang aliran sungai yang berbatasan dengan tanah sekolah,” kata Amridas. “Kalau bisa, sekolah ini juga direstrukturisasi, ditinggikan dari tapak, dibangun kembali dengan terencana melalui detail desai teknis.”





