TANGERANG, KOMPAS.com — Suasana menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia terasa berbeda di Komplek Puri Dewata Indah 1, Kelurahan Poris Plawad Utara, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.
Memasuki kawasan RW 06, pengunjung langsung disambut lorong merah putih sepanjang 400 meter yang membentang menutupi bagian atas jalan.
Bendera raksasa itu disangga deretan bambu, dihiasi lampu-lampu hias, serta dipadukan dengan gapura berbahan galon bekas hasil daur ulang Bank Sampah warga.
Baca juga: Berawal dari Ide Dadakan, Bendera Merah Putih 400 Meter di Tangerang Rampung dalam 20 Jam
Di balik kemeriahan yang viral di media sosial tersebut, tersimpan kisah tentang upaya warga mengubah citra lingkungan yang selama bertahun-tahun dikenal karena kondisi jalannya yang rusak.
Mendobrak Stigma "Jalan Jelek"Ketua RW 06 Puri Dewata Indah, Momon Simon (45), mengatakan ide menghadirkan berbagai dekorasi unik berawal dari keresahannya terhadap stigma yang melekat pada kawasan tempat tinggalnya.
Menurut dia, selama bertahun-tahun Puri Dewata Indah lebih dikenal karena akses jalannya yang rusak dibandingkan kehidupan warganya.
"Dulu Puri Dewata Indah ini enggak ada yang tahu. Kalau ditanya tinggal di mana, orang bilangnya 'Royal 1? Oh, yang jalannya jelek ya?' Selalu yang jelek-jeleknya itu terbawa," kata Momon saat ditemui di lokasi, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: Sosok di Balik Terowongan Bendera Merah-Putih 400 Meter, Warga Harus Siap Gila karena RW-nya Gila
Sejak dipercaya memimpin RW pada 2022, Momon bertekad menghapus citra negatif tersebut.
Berbagai ide yang tak biasa pun diwujudkan, mulai dari membangun gerbang sebagai identitas kawasan hingga membentangkan bendera merah putih sepanjang 400 meter untuk memeriahkan HUT RI tahun ini.
"Saya pengin Puri Dewata Indah ini punya identitas sendiri dan dikenal positif. Biar begitu dicari di Google Maps atau Gojek, orang langsung tahu," tuturnya.
Kepemimpinan "Gas Pol" yang Menular ke WargaMomon mengakui gaya kepemimpinannya kerap dianggap nekat. Namun, pendekatan yang spontan dan berorientasi pada eksekusi itu justru berhasil membangun semangat gotong royong di kalangan warga.
"Saya selalu bilang ke warga, kalau mau dipimpin sama saya, siap-siap warganya ikut 'gila' dan nekat. Karena saya kalau ada program enggak pernah pakai rencana panjang, pakai insting saja. Kuncinya cuma satu: ada kemauan dan jalankan yang benar," ujar Momon.
Menurut Momon, seluruh proses pembuatan lorong bendera dilakukan secara swadaya.
Tiang penyangga memanfaatkan bambu sisa pembangunan rumah warga sehingga biaya yang dikeluarkan dapat ditekan.
Baca juga: Sulap Gang Jadi Lorong Merah Putih dengan Bendera 400 Meter, Warga: Bangga Jadi Contoh
Proses pembuatan bendera pun berlangsung dalam waktu singkat. Kain merah dan putih dibeli dalam bentuk gulungan serta potongan sisa, lalu disambung oleh sang istri yang juga menjabat sebagai Ibu RW hingga mencapai panjang 400 meter.





