EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD), banjir yang melanda Kota Hengzhou, Daerah Otonom Guangxi, telah berlangsung hampir sebulan. Disebutkan bahwa banyak wilayah terdampak masih porak-poranda dan sebagian korban belum memiliki tempat tinggal. Partai Komunis Tiongkok (PKT) membongkar tenda-tenda pengungsian pada malam hari, melarang korban melakukan siaran langsung (live streaming) untuk meminta bantuan, serta memerintahkan penutupan dapur umum sementara, sehingga memicu kemarahan warga terdampak.
Korban Banjir Diklaim Dilarang Melakukan Siaran LangsungMenurut laporan tersebut, setelah banjir terjadi, upaya bantuan dari pemerintah dinilai lebih bersifat simbolis, sementara penyensoran informasi di internet justru dilakukan secara ketat. Disebutkan bahwa pemberitaan mengenai banjir di Hengzhou kini hampir tidak lagi muncul di media resmi maupun daftar topik populer di media sosial Tiongkok.
Seorang warga dari Desa Yabi, Kecamatan Yunbiao, mengunggah video yang memperlihatkan bahwa pada 3 Agustus, sejumlah polisi dan petugas pemerintah mendatangi lokasi bencana. Mereka diklaim meminta agar setiap siaran langsung mengenai kondisi banjir terlebih dahulu mendapat persetujuan dari pemerintah Hengzhou atau instansi terkait.
Selain itu, mereka juga disebut berusaha mengangkut persediaan dari dapur umum sementara dan memerintahkan agar dapur tersebut segera dibongkar.
Tindakan itu, menurut laporan, memicu kemarahan para korban banjir. Dalam video yang beredar, sejumlah warga tampak berdebat dengan seorang polisi.
Seorang perempuan yang sedang melakukan siaran langsung mengatakan: “Kalau memang mau menangkap, tangkap saja semuanya. Kami juga tidak tahu harus bagaimana lagi.”
Ia juga menjelaskan kepada para penonton siaran langsung:”Mereka bilang kalau ingin siaran langsung harus melapor dulu ke Hengzhou. Padahal kami hanya menayangkan kondisi banjir, kami tidak mengatakan apa-apa. Mengapa kami tidak boleh menyiarkannya? Mereka tidak ingin orang luar mengetahui keadaan Desa Yabi. Kami sudah sangat menderita, tetapi masih saja dibatasi. Sekarang mereka juga ingin menutup dapur umum. Kalau begitu, orang-orang yang kehilangan rumah mau makan apa?”
Di media sosial, banyak warganet mengungkapkan kemarahan mereka, di antaranya dengan komentar seperti:
- “Kalau begitu, makan saja di kantor pemerintah.”
- “Dilarang siaran langsung supaya orang tidak bisa mengatakan kenyataan.”
- “Seluruh warga desa harus bersatu. Rumah sudah hilang, tidak ada lagi yang perlu ditakuti.”
Laporan menyebutkan bahwa pada 6 Juli, beberapa bendungan dan waduk di Hengzhou mengalami kerusakan sehingga menyebabkan banjir besar di sejumlah desa.
Meskipun pemerintah menyatakan bahwa bantuan tersedia dalam jumlah cukup, beberapa korban mengaku kondisi di lapangan sangat berbeda.
Dalam sebuah video yang beredar, seorang korban banjir di Jalan Yanjiang, Kecamatan Yunbiao, mengatakan kepada relawan bahwa keluarganya hanya menerima sedikit bantuan sejak banjir terjadi.
Sambil menangis, perempuan tersebut mengatakan bahwa sejak 6 Juli hingga 3 Agustus, keluarganya hanya menerima mi instan, air minum, dan 5 jin (sekitar 2,5 kilogram) beras dari pemerintah.
Seorang relawan yang mendengar pengakuan itu tampak terkejut dan berkata: “Hanya 5 jin beras? Dari 6 Juli sampai sekarang? Wah, kalau begitu memang keterlaluan.”
Tenda Pengungsian Disebut Dibongkar pada Tengah MalamLaporan itu juga mengklaim bahwa selain belum mengizinkan warga membangun kembali rumah mereka dan belum menyalurkan kompensasi yang dijanjikan, pemerintah juga membongkar tenda-tenda pengungsian pada malam hari sehingga banyak korban kehilangan tempat berlindung.
Video yang beredar memperlihatkan bahwa setelah jebolnya Waduk Liulan, banyak tenda pengungsian berwarna biru didirikan di Desa Liulan, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
Menurut warga setempat, setiap tenda mewakili satu rumah yang hanyut diterjang banjir.
Namun, pada 2 Agustus, seluruh tenda tersebut diklaim dibongkar dan dipindahkan oleh petugas pemerintah dalam semalam.
Laporan juga menyebutkan bahwa pada saat yang sama, pemerintah memasang pagar seng di lokasi dan mengerahkan polisi untuk mencegah warga mendekat maupun mengambil gambar.
Seorang korban banjir mengatakan kepada relawan: “Mereka datang tengah malam untuk membongkar semuanya. Sekarang kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi dan harus menyewa rumah dengan uang sendiri.”
Korban tersebut juga mengatakan bahwa pemerintah pernah menjanjikan pembayaran kompensasi, tetapi hingga kini mereka belum menerimanya sehingga terpaksa bertahan dengan usaha sendiri.
Klaim Relawan Mengenai Kondisi di LokasiBeberapa relawan yang ikut membantu penanganan banjir sebelumnya mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ada desa yang “hanyut seluruhnya”, sementara desa lainnya tertutup lumpur.
Mereka juga mengklaim melihat banyak korban jiwa di lokasi dan memperkirakan jumlah korban meninggal “mungkin mencapai puluhan ribu”. Namun, mereka mengatakan tidak berani mengunggah informasi tersebut ke internet karena khawatir akun mereka akan diblokir. Berbagai informasi dan klaim di atas memicu perhatian serta diskusi di media sosial X di luar negeri.
Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui – NTDTV.com





