Paquita Aurani, usia 22 tahun, sudah 3 bulan jadi anak magang di sebuah perkantoran di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Rumahnya di Ujung Aspal, Bekasi, Jawa Barat. Untuk menuju kantornya, setiap hari Paquita menggunakan transportasi umum LRT Jabodebek dan turun di stasiun di Dukuh Atas, salah satu pusat transit tersibuk di Jakarta.
Kepada kumparan, Paquita menceritakan kesehariannya itu. Katanya, perjalanannya usai turun kereta melelahkan karena harus jalan kaki cukup jauh dan memutar.
“Kalau turun di Dukuh Atas, untuk ke jalan utama harus nyeberang Sungai Ciliwung dulu. Ditambah harus masuk dan jalan jauh lagi ke Stasiun Sudirman. Udah begitu pun masih belum sampai kantor juga,” cerita Paquita saat dihubungi Selasa (4/8).
Dia bilang butuh waktu 15-20 menit dihitung dari turun kereta sampai tiba di jalan utama dekat kantornya.
Sementara Yaya, yang juga pelaju dari Depok menuju Dukuh Atas menggunakan LRT Jabodebek, menyampaikan cerita yang sama. Dia harus turun di stasiun akhir itu untuk melanjutkan perjalanan ke kantornya di kawasan Tanah Abang.
“Kalau mau lanjut moda transportasi lain seperti Transjakarta, MRT, dan KRL, minusnya harus jalan jauh lagi sekitar 15-20 menit atau 1 km-an mungkin,” kata Yaya kepada kumparan, Selasa (4/8).
Kawasan Dukuh Atas sendiri kini memang terbagi ke 4 kuadran karena adanya perpotongan Sungai Ciliwung dan Jalan Jenderal Sudirman. Hal itu diungkap oleh PT MRT Jakarta (Perseroda) saat menyampaikan perkembangan persiapan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas, Kamis (30/7) lalu.
Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta, Agus Trihan memaparkan, kuadran 1 adalah area sekitar Stasiun MRT Dukuh Atas dan Stasiun KA Bandara BNI City. Kuadran 2 adalah area di sekitar Jl Jenderal Sudirman dan Stasiun LRT Jabodebek Dukuh Atas.
Lalu kuadran 3, adalah kawasan yang tersambung dengan Kompleks Kota BNI. Sementara kuadran 4 adalah area sekitar Kompleks Landmark.
Rumitnya perpindahan antar area itu jadi salah satu alasan PT MRT Jakarta mempersiapkan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Selain jadi penghubung 4 area utama di Dukuh Atas, proyek yang diinisiasi bersama Pemprov DKI Jakarta itu nantinya juga akan mengintegrasikan 6 moda transportasi publik sekaligus.
“Kalau dari titik antar moda ini sebenarnya ada penghematan sekitar 2-3 menit. Tapi yang paling signifikan adalah dari sisi Landmark mau ke Shangrila (di Kompleks Kota BNI). Sekarang ini yang paling kacau karena dia harus dari bawah balik ke atas, ke selatan, dan itu saya ingat bisa menghemat sekitar 4-5 menit,” kata Agus.
Lelah Berkurang Stres pun Hilang
Untuk menghindari mood menjadi rusak karena perjalanan yang kurang menyenangkan, kini Paquita memilih untuk tidak setiap hari naik LRT Jabodebek dan turun di stasiun Dukuh Atas. Biasanya, ia selingi dengan naik Transjakarta untuk turun di halte yang paling dekat dengan kantornya.
“Pas berangkat rasanya jadi udah capek dan keringetan duluan sebelum sampai kantor. Aku suka pilih moda lain demi menjaga mood dan menghindari stres,” kata Paquita.
Pakar Psikologi Sosial dari Universitas Mercu Buana, Ahmad Naufalul Umam, menyebut bahwa pengalaman pulang-pergi (commuting) seseorang berpengaruh ke keadaan mentalnya. Bahkan Naufal menyebut, ada penelitian menunjukkan bahwa commuting jadi aktivitas yang di-rating atau dinilai paling tidak menyenangkan bagi para partisipan.
Naufal meyakini bahwa di sebuah perjalanan berat atau jauh, sepatutnya ada hal lain yang bisa membuat perjalanan tersebut menyenangkan. “Kalau udah jauh, enggak ada yang menyenangkan pula, udah deh, instan stres itu,” kata Naufal.
Menurutnya, proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas bisa dibilang jadi salah satu ikhtiar membuat commuting masyarakat jadi menyenangkan. Jarak tempuh yang berkurang hingga mudahnya mengakses pilihan kendaraan umum yang bisa mengurangi rasa lelah seseorang saat commuting. “Tentu kita selalu welcome pada segala upaya yg bisa bikin commuting ini bearable,” tambahnya.
Bakal Manjakan Para Pengguna
Agus Trihan menekankan bahwa nantinya Pedestrian Deck Dukuh Atas akan memanjakan para pejalan kaki. “Apalagi nanti kalau misalnya panas, hujan gitu ya, dengan adanya infrastruktur ini akan membuat perjalanan itu jadi lebih nyaman”.
Agus juga bilang bahwa deck ini juga akan didesain menarik, mengingat letaknya yang berada di pusat Kota Jakarta. Patung Sudirman yang berdiri di tengah jalan utama akan jadi salah satu spot yang bisa dipandang langsung dari atas Pedestrian Deck Dukuh Atas.
“Jadi lebar deck-nya sendiri ini ada area-area sisi utara dan selatan yang di atas Jalan Sudirman itu akan punya lebar yang sekitar 7 meteran, kayaknya di situlah orang akan bisa menikmati view yang oke menghadap ke HI atau Patung Sudirman,” jelas Agus.
Dengan penjelasan-penjelasan tersebut, kini para pelaju Jabodebek memiliki gambaran bagaimana nantinya Pedestrian Deck Dukuh Atas bisa bermanfaat. “Bakal membantu banget sih buat sobat transum, karena nggak perlu keluar-masuk stasiun, dan ada shades buat melindungi kita dari panas-hujan,” tutup Yaya.





