REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tetap positif di atas level lima persen di tengah berbagai tantangan global. Ia optimistis pada semester II 2026 ekonomi akan tumbuh lebih tinggi sehingga mencapai target APBN 2026 sebesar 5,4 persen sepanjang tahun ini dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asia Tenggara.
Airlangga menuturkan Indonesia menghadapi berbagai tantangan selama masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seperti konflik global yang belum mereda, baik di Timur Tengah maupun di Eropa Timur. Tantangan lainnya adalah perkembangan perang dagang serta disrupsi teknologi.
Baca Juga
Konsumsi Pemerintah Tumbuh 15,97 Persen, Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026
Indef: Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen Masih Solid, tetapi Tantangan Pengangguran Besar
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Melambat, Ini Catatan Ekonom CORE
"Di tengah kondisi seperti itu, walaupun berbagai lembaga melihat pertumbuhan ekonomi global hanya tumbuh rata-rata di atas tiga persen, Indonesia masih mampu tumbuh di kuartal II sebesar 5,29 persen (year on year/yoy)," kata Airlangga dalam konferensi pers mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal II di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menyebut pada kuartal II 2026 tidak terdapat momentum besar seperti Lebaran. Karena itu, capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen (yoy) dinilai positif dan akan terus diupayakan meningkat pada kuartal-kuartal berikutnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Angka ini cukup baik. Kita sepanjang semester I 2026 tumbuh sebesar 5,45 persen (yoy) dan pertumbuhan ini menjaga tren tujuh tahun pertumbuhan di atas lima persen," ujar Airlangga.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen pada semester I 2026 disebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).
"Pertumbuhan 5,45 persen sepanjang satu semester ini salah satu yang top di ASEAN," ungkapnya.
Namun, dibandingkan Vietnam, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih rendah. Pertumbuhan ekonomi Vietnam tercatat mencapai sekitar delapan persen.
"Kemudian kalau kita lihat pertumbuhan secara daerah, ini yang menarik, Bali dan Nusa Tenggara tumbuh di atas nasional, yaitu 6,1 persen. Ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata sudah bisa bergerak untuk menyejahterakan wilayah Bali dan Nusa Tenggara, baik dari wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara," jelasnya.
Sementara itu, Pulau Jawa masih menjadi pusat pertumbuhan dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 56,4 persen. Pertumbuhannya lebih tinggi daripada tingkat nasional, yakni mencapai 5,65 persen.
"Artinya supply chain itu menjadi penggerak perekonomian nasional," tegasnya.
Berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan berkontribusi sebesar 18,5 persen dengan pertumbuhan 4,52 persen. Sementara itu, sektor jasa akomodasi dan makan minum tumbuh 10,6 persen.
"Tentunya ini didukung oleh program andalan Bapak Presiden yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan juga program terkait dengan industri perhotelan dan industri perjalanan. Yang juga patut dicatat adalah sektor konstruksi yang tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 6,68 persen," ujarnya.
Airlangga menyebut pertumbuhan sektor konstruksi tersebut sejalan dengan target pembangunan tiga juta rumah yang didukung melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan kredit perumahan.
"Termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), untuk pertama kalinya kita dorong dan diluncurkan. Semula anggarannya Rp 37,5 triliun dinaikkan menjadi Rp 50 triliun. Ini juga akan menjadi pendorong pada kuartal dan semester kedua," tegasnya.
Selain itu, lanjut Airlangga, pemerintah juga mempercepat belanja modal, terutama di kawasan industri dan pembangunan berbagai sektor unggulan, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Airlangga menegaskan pemerintah akan menggencarkan berbagai program yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, baik melalui belanja pemerintah, investasi, maupun konsumsi masyarakat.
"Tentu kita menargetkan tahun ini sesuai dengan APBN sebesar 5,4 persen. Jadi kita harus menjaga momentum pertumbuhan di atas lima persen pada semester II. Kita mengharapkan investasi sebagai penggerak, kemudian belanja pemerintah, daya beli masyarakat, serta ekspor dan impor," tutup Airlangga.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)