Setiap kali menikmati semangka, kita hampir selalu mengupas dan menyantap daging buahnya yang segar, lalu membuang kulitnya ke tempat sampah. Kebiasaan itu berlangsung turun-temurun, seolah-olah bagian putih di balik kulit hijau memang tidak memiliki nilai.
Padahal, studi terbaru menunjukkan bagian kulit dalam semangka itu menyimpan serat, mineral, dan vitamin yang layak dikonsumsi. Temuan tersebut menambah babak baru dalam perjalanan panjang semangka, buah yang telah menemani manusia selama ribuan tahun.
Analisis genom yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2021 menunjukkan, kerabat genetik terdekat semangka budidaya modern adalah semangka Kordofan (Citrullus lanatus subsp. cordophanus) yang tumbuh liar di kawasan Darfur, Sudan.
Penelitian itu menguatkan dugaan bahwa Afrika Timur Laut, khususnya Sudan dan Lembah Nil, merupakan pusat asal-usul sekaligus salah satu lokasi awal domestikasi semangka.
Melalui seleksi yang dilakukan manusia dari generasi ke generasi, buah liar tersebut berkembang menjadi semangka yang kita kenal sekarang: berukuran lebih besar, berdaging merah, lebih manis, bertekstur renyah, dan memiliki produktivitas lebih tinggi.
Menariknya, analisis genetik menunjukkan, nenek moyang semangka yang pertama kali dipilih petani purba kemungkinan sudah tak memiliki rasa pahit. Yang berubah selama ribuan tahun bukanlah hilangnya rasa pahit, melainkan meningkatnya rasa manis, ukuran buah, warna merah daging buah, serta ketahanannya terhadap penyakit.
Ironisnya, ketika manusia berhasil menyempurnakan semangka melalui proses domestikasi selama ribuan tahun, kita justru memanfaatkan hanya sebagian buah tersebut. Hampir sepertiga bagian semangka berupa kulit langsung menjadi limbah dapur.
Pandangan itu kini mulai berubah. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) untuk pertama kali memasukkan profil nutrisi resmi kulit semangka ke dalam Food Data Central, basis data yang jadi rujukan ahli gizi, peneliti, industri pangan, hingga pengembang resep di berbagai negara.
Dengan adanya data baku tersebut, para ahli gizi kini dapat menghitung kandungan nutrisi kulit semangka secara lebih akurat ketika menyusun resep, memberikan edukasi gizi, maupun merancang menu.
Bagi masyarakat Indonesia, kabar ini sesungguhnya mengingatkan kembali pada filosofi lama yang hampir terlupakan. Dalam banyak tradisi kuliner Nusantara, hampir tidak ada bagian tanaman terbuang sia-sia.
Daun singkong, batang pisang, bunga pepaya, kulit melinjo, hingga biji nangka dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Konsep yang kini populer dengan istilah whole food atau pemanfaatan pangan secara utuh sebenarnya telah lama dipraktikkan berbagai komunitas adat di Indonesia.
Semangka bukan hanya menyegarkan. Menurut USDA Food Data Central, setiap 100 gram daging buah semangka segar mengandung sekitar 30 kilokalori, 7,6 gram karbohidrat, 0,6 gram protein, 0,2 gram lemak, dan 0,4 gram serat pangan.
Buah tersebut juga mengandung sekitar 112 miligram kalium, 8,1 miligram vitamin C, vitamin A, serta likopen, pigmen merah yang dikenal sebagai antioksidan kuat.
Likopen telah banyak diteliti karena kemampuannya menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh. Bersama vitamin C dan vitamin A, senyawa tersebut menjadikan semangka lebih dari sekadar buah pelepas dahaga.
Manfaat semangka juga terlihat dari pola konsumsi warga. Analisis data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) yang dipublikasikan di jurnal Nutrients pada 2023 menemukan anak-anak dan orang dewasa yang mengonsumsi semangka cenderung memiliki kualitas pola makan lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya.
Mereka memiliki asupan serat, magnesium, kalium, vitamin A, vitamin C, likopen, dan karotenoid yang lebih tinggi, serta mengonsumsi lebih sedikit gula tambahan dan lemak jenuh.
" Kami mengakui ukuran sampelnya kecil (18 pria dan wanita muda yang sehat) dan riset lebih lanjut diperlukan. Meski demikian, studi ini menambah bukti manfaat konsumsi rutin semangka bagi kesehatan kardiometabolik,” kata Jack Losso, profesor di School of Nutrition and Food Sciences, Louisiana State University, yang menulis paper tersebut.
” Selain L-sitrulin dan L-arginin, semangka merupakan sumber kaya antioksidan, vitamin C, dan likopen—yang semuanya dapat membantu mengurangi stres oksidatif serta berperan dalam pencegahan penyakit jantung," tuturnya.
Studi ini menambah bukti manfaat konsumsi rutin semangka bagi kesehatan kardiometabolik.
Meski demikian, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak membuktikan hubungan sebab-akibat. Para peneliti menekankan perlunya studi lanjutan demi memastikan apakah konsumsi semangka secara langsung berkontribusi pada mutu pola makan yang lebih baik.
Kini perhatian para ilmuwan tidak lagi hanya tertuju pada daging buahnya. Menurut profil nutrisi terbaru USDA, satu porsi sekitar 50 gram kulit semangka mentah yang dipotong dadu hanya mengandung sekitar 10 kalori. Meski rendah energi, bagian ini menyediakan sekitar satu gram serat pangan, 140 miligram kalium, dan empat miligram vitamin C.
Jumlah tersebut memang tidak menandingi kandungan vitamin maupun likopen pada daging buah. Namun, kandungan seratnya jauh lebih tinggi, sementara kandungan kaliumnya bahkan sedikit lebih besar dibandingkan daging buah jika dihitung berdasarkan berat yang sama.
Dengan kata lain, kulit semangka bukan pengganti daging buah, melainkan pelengkap. Daging buah tetap menjadi sumber utama air, vitamin, dan antioksidan, sedangkan bagian putih kulitnya menambah asupan serat dan mineral.
" Kami telah lama mendorong konsumen untuk memanfaatkan seluruh bagian semangka, mulai dari daging buahnya yang manis hingga kulitnya yang serbaguna," ujar Megan McKenna, Direktur Senior Pemasaran dan Layanan Makanan National Watermelon Promotion Board, seperti dilaporkan Medicalxpress pada Rabu (5/8/1016).
Menurut McKenna, profil nutrisi resmi USDA memberikan dasar ilmiah yang dibutuhkan para ahli gizi dan tenaga kesehatan untuk memasukkan kulit semangka ke dalam resep maupun rekomendasi gizi dengan lebih percaya diri.
Lebih dari sekadar soal gizi, pemanfaatan kulit semangka berkaitan erat dengan upaya mengurangi limbah pangan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan sekitar sepertiga pangan yang diproduksi di dunia hilang atau terbuang setiap tahun.
Pemborosan tersebut berarti hilangnya air, energi, pupuk, lahan, dan tenaga kerja yang telah digunakan selama proses produksi. Semangka termasuk buah dengan proporsi kulit yang cukup besar.
Pada banyak varietas, sekitar sepertiga berat buah terdiri atas kulit. Jika seluruh bagian tersebut dibuang, jumlah limbah organik yang dihasilkan tentu tidak sedikit.
Padahal, bagian putih di balik kulit hijau memiliki tekstur renyah yang menyerupai mentimun muda. Kulit semangka dapat diolah menjadi acar, diserut sebagai campuran salad, dimasukkan ke dalam smoothie, ditumis bersama sayuran lain, atau dijadikan relish sebagai pelengkap hidangan.
Di Indonesia, peluang pemanfaatannya bahkan lebih luas. Bagian putih kulit semangka dapat diolah menjadi sayur bening, asinan, tumisan, hingga manisan, sebagaimana masyarakat memanfaatkan kulit pepaya, kulit jeruk, atau kulit melinjo.
Pengakuan USDA terhadap kulit semangka sesungguhnya bukan sekadar penambahan data dalam sebuah basis informasi pangan. Ia mengingatkan bahwa solusi untuk mengurangi limbah makanan sering kali dimulai dari perubahan cara pandang kita terhadap pangan itu sendiri.
Selama ini kita menganggap hanya bagian manis yang layak dimakan. Padahal, seperti ditunjukkan perjalanan panjang semangka sejak didomestikasi di Afrika hingga kini, tiap bagian buah memiliki cerita dan manfaatnya masing-masing. Saatnya kita berhenti melihat kulit semangka sebagai sampah, melainkan sebagai bagian pangan yang terabaikan.





