Malang (beritajatim.com) – Upacara bendera baru saja usai pada Senin (2/8/2026). Di sudut kiri lapangan yang mulai lengang, Muhammad Michdhan Abdiyagsyah menepi. Siswa kelas XI itu membuka tutup botol tumbler, menenggak isinya sejenak, lalu kembali merapikan totebag kanvas yang tersampir di bahunya. Di tas itu tertulis sebuah pesan singkat: “Solidaritas Kosmis: Aku, Kamu, dan Bumi adalah satu.”
Dua bulan lalu, Michdhan mengaku tidak banyak tahu bahwa perilaku kecil sehari-hari bisa berdampak besar pada bumi. Baginya, isu lingkungan adalah urusan para ahli, bukan urusan anak sekolah. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan seluruh uang jajannya hanya untuk membeli makanan dengan kemasan plastik sekali pakai.
Semua itu berubah pada minggu pertama bulan Juli lalu. Setelah mengikuti lokakarya bertajuk “Ekoliterasi: Membangun Narasi Keberlanjutan di MAN 2 Malang” pada Rabu (15/7/2026), cara pandangnya bergeser.
“Sejak pelatihan minggu pertama bulan Juli, lalu saya ngonten di Instagram untuk kampanye soal hidup berkelanjutan, saya jadi malu kalau ke sekolah ga bawa tumbler dan bekal. Saya juga malu pada diri sendiri kalau sehabis wudhu atau sehabis buang air lalu tidak mematikan kran,” ujar Michdhan antusias.
Konten kampanye yang diunggah Michdhan di akun Instagram pribadinya mendapat antusias dari kawan di media sosialnya. Dalam salah satu videonya, ia mendokumentasikan cara sederhana merawat bumi dengan cara mengubah kebiasaan membeli minum air mineral kemasan dengan tumbler. Video itu memantik ratusan suka dan puluhan komentar dari teman-teman seangkatannya maupun lintas angkatan yang mulai menyadari keteledoran mereka.
Pengakuan serupa juga datang dari Zalfa Salsabila. Bedanya, Zalfa tinggal di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Malang. Keterbatasan akses teknologi di pesantren rupanya tidak menyurutkan niatnya, melainkan justru mendorongnya untuk semakin menghayati makna menjaga lingkungan.
“Di pesantren saya tidak bisa menggunakan handphone, paling hanya seminggu sekali, itupun saat orang tua berkunjung. Kemarin saat ada workshop dari kakak Dani saya ingin ikut kampanye di media sosial, tapi tidak bisa,” cerita Zalfa.
Keterbatasan itu ia siasati dengan cara lain. “Namun, keterbatasan itu bukan jadi halangan, saya tetap bisa menulis puisi lalu saya tempel di mading biar semua bisa membaca,” imbuhnya.
Kebiasaan Zalfa memakai tumbler juga terus ia bawa ke lingkungan pesantren. Ia menyadari, kebiasaan komunal kadang membuat orang abai pada hal-hal kecil seperti penggunaan listrik.
“Di pesantren santri seringkali lupa mematikan lampu saat tidak digunakan, saya berupaya sadar untuk hemat energi. Meski sebagai siswa kita tidak banyak tahu soal SDGs, apa itu sustainability life, setidaknya secara perilaku kecil kami coba menerapkannya,” jelas Zalfa yang siang itu tengah bersiap mengikuti pelajaran ilmu sosial.
Perubahan individu ini perlahan menggerakkan perubahan kolektif di tingkat kelas. Alfara Melingga Mulyono, siswa lainnya, merasakan betul bahwa kesadaran itu kini menjadi budaya baru di antara teman-temannya. Ada kepuasan batin tersendiri saat tahu tulisan mereka tentang alam tidak cuma berhenti di lembar tugas sekolah, tapi dikurasi untuk penerbitan Antologi Puisi ‘Bumi dalam Tubuh Puisi,’ dan dikampanyekan di Instagram.
“Saya paling merasakan perubahan pada aksi kolektif bersama teman-teman di kelas. Sekarang kami punya kesepakatan tak tertulis untuk saling mengingatkan: kalau ada lampu atau colokan listrik yang tidak terpakai harus segera dicabut, dan kalau jajan di kantin sebisa mungkin menolak kantong plastik sekali pakai. Tumbler pemberian CIMB Niaga dan IIJ ini jadi pengingat fisik kami di meja kelas,” terang Alfara.
Pendekatan Sastra yang Membumi
Riak perubahan di MAN 2 Malang ini tentu tidak lepas dari peran para pendidik. Nirmala Susanti, S.Pd., guru Bahasa Indonesia sekaligus fasilitator kegiatan, mengungkapkan bahwa pendekatan yang digunakan adalah ekologi sastra.
Suasana hangat workshop “Ekoliterasi: Membangun Narasi Keberlanjutan di MAN 2 Malang.” (Foto: Dani Alifian)“Saya percaya bahwa menjaga lingkungan itu juga bisa dengan karya. Setelah workhsop akhirnya kita menerbitkan satu antologi puisi berjudul ‘Bumi dalam Tubuh Puisi,’ yang diterbitkan oleh Kali Pustaka dengan penulis sejumlah 35 siswa,” ujar Nirmala.
Sebagai guru yang mendampingi langsung di kelas, Nirmala melihat perubahan yang positif. Awalnya, anak-anak menganggap kegiatan memilah sampah atau menghemat air hanya sebagai teori. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan itu tumbuh menjadi kesadaran.
“Mereka sudah mulai saling mengingatkan untuk membuang sampah sesuai jenisnya, saling mengingatkan juga untuk tidak membuang sampah sembarangan di lingkungan kelas karena berkaitan dengan kebersihan dan kenyamanan. Mereka juga tampak lebih bijak dalam menggunakan air yang dulunya acuh. Bahkan mengaitkan kebiasaan tersebut dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” paparnya.
Bagi Nirmala, perubahan sikap ini jauh lebih bermakna karena menunjukkan pembelajaran tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tapi juga membentuk karakter. Pendekatan sastra yang dipadukan dengan isu lingkungan membuat proses belajar jauh lebih kontekstual. Melalui puisi dan cerita, siswa diajak merasakan dan mengekspresikan kepeduliannya.
“Kalau dari sisi guru, pendekatan ini juga tidak akan menambah beban administratif. Tema tentang kepedulian lingkungan itu bisa diintegrasikan ke dalam modul ajar bagian konten. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, teksnya bisa bertema lingkungan tanpa harus menyusun RPP atau perangkat baru. Pembelajaran tetap berjalan sesuai kurikulum, tetapi jadi lebih bermakna,” tambah Nirmala.
Sejalan dengan hal itu, Eka Ulfa Nur’Aini, S.Pd., Gr., guru Sosiologi MAN 2 Malang yang juga Fasilitator Praktik Lingkungan, menyebut bahwa melihat perubahan perilaku harian siswa di madrasah adalah hal yang membanggakan. Biasanya, materi lingkungan hanya menjadi catatan.
“Melalui pendampingan proyek ini, kami melihat aksi nyata yang tumbuh secara organik: anak-anak makin disiplin membawa tumbler sendiri, mematikan kipas angin dan lampu saat meninggalkan ruang kelas, serta membiasakan diri memilah sampah. Kebiasaan sederhana ini membuktikan bahwa kesadaran ekoliterasi mereka sudah mulai mengakar menjadi gaya hidup harian (sustainable lifestyle),” ujar Eka.
MAN 2 Malang Menuju Sekolah Adiwiyata
Inisiatif gerakan literasi hijau ini menjadi langkah strategis madrasah menuju predikat Sekolah Adiwiyata. (Foto: Dani Alifian)Penanaman nilai lingkungan ini sejalan dengan misi madrasah. Kepala MAN 2 Malang, Titien Sumartin, S.Pd., menilai gerakan inisiatif literasi hijau ini adalah langkah strategis.
“Kami memang belum menyandang predikat Adiwiyata, tapi dengan kebiasaan yang terbangun ini saya yakin akhir tahun ini jika tidak awal tahun depan kita bisa segera memperoleh predikat sekolah Adiwiyata. Sebagai sekolah, yang memperoleh siswa mayoritas dari pesantren, kita terus berupaya agar siswa sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan,” jelas Titien.
Titien menegaskan pentingnya melibatkan keaktifan berpikir para siswa agar proses belajar tidak menjemukan. Hal ini penting untuk membawa dampak jangka panjang terhadap karakter siswa.
“Alhamdulillah, saya bersyukur kita mendapatkan kehadiran nilai lebih di pagi hari yang dingin ini untuk melaksanakan kegiatan raksasa berbasis sastra ekologis. Harapan saya, program literasi ini bisa memacu generasi Z sekarang yang cenderung menyukai hal-hal instan. Lewat penyajian materi dan judul yang menarik, ini akan membagikan minat mereka untuk berliterasi,” paparnya.
Lebih jauh, Titien mengingatkan para siswa tentang lima prinsip cinta universal yang harus diaplikasikan demi keberlanjutan lingkungan. “Kita berbicara tentang lima cinta. Satu, cinta kepada Allah dan Rasul. Dua, cinta kepada ilmu. Tiga, cinta kepada diri sendiri. Empat, cinta kepada lingkungan, dan lima, cinta terhadap tanah air. Nah, ini selain dihafalkan juga harus benar-benar diterapkan.”
Akademisi sastra dari Universitas Negeri Malang (UM) yang juga menjadi narasumber workhsop, Ahmad Junaidi, S.S., M.A., memberi apresiasi terhadap kegiatan ini. Ia kemudian mengurai pentingnya pemahaman ekologis kepada siswa.
“Ecocriticism sebagai sebuah metode kritis dalam penelitian sastra dan lingkungan mencoba merangsang tumbuhnya minat para pengarang untuk peduli terhadap lingkungan hidup melalui karya mereka. Sastra hijau bukan semata sastra yang bercorak romantisme yang sekadar memuja keindahan atau senja. Lebih dari itu, jenis apocalyptic dan precautionary tale dipandang memiliki efektivitas fungsi dari tujuan yang hendak dicapai,” urai Junaidi.
Ahmad Junaidi, narasumber workshop, menenkankan pentingnya pemahaman ekologis dan empat prinsip dasar ekoliterasi yang harus diterapkan dalam aksi nyata. (Foto: Dani Alifian)Ia menambahkan, mempelajari ekokritik membuka ruang interdisipliner yang mempertemukan sains, sejarah, antropologi, dan spiritualitas. “Dalam ekokritik, alam tidak selalu harmonis, melainkan memperlihatkan konflik, dinamika, dan ketidakpastian. Alam itu rumit, tidak semua yang hijau lantas serta-merta bisa disebut ekologis.”
Konteks ekokritik, menurut Dosen muda Fakultas Sastra UM itu ini menjadi penting jika melihat dinamika lingkungan di Malang Raya hari ini. Cuaca yang makin tak menentu, peralihan musim yang ekstrem, hingga menyusutnya lahan hijau di kawasan pinggiran harus dipandang sebagai alarm krisis.
“Teks sastra bertema lingkungan merespons keresahan itu. Melalui pembacaan yang kritis, siswa diajak menyadari bahwa bencana hidrometeorologi bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan produk dari relasi eksploitatif manusia terhadap ruang hidupnya,” paparnya.
Junaidi juga membedah empat prinsip dasar ekoliterasi gagasan Fritjof Capra. Pertama, ia menyebut alam merupakan guru. Caranya dengan Menjadikan sistem kerja alam sebagai cetak biru untuk mendesain teknologi dan institusi sosial. Manusia belajar dari bagaimana ekosistem mempertahankan dirinya tanpa merusak.
“ Kedua keberlanjutan komunitas praktik. Dengan membangun komunitas yang meniru sifat ekosistem, di mana setiap anggota saling bergantung dan berkolaborasi demi keberlangsungan bersama,” lanjutnya.
Lalu yang ketiga belajar berpijak pada dunia nyata. Mengutip Capra, Pendidikan ekoliterasi dimulai dari interaksi langsung dengan lingkungan sekitar yang konkret, menggunakan masalah lingkungan lokal sebagai laboratorium hidup.
“Terakhir pembangunan hidup berakar pada kearifan lokal. Pengetahuan mendalam tentang tempat tinggal, termasuk tradisi budaya lokal, merupakan fondasi penting untuk menjaga ekosistem,” jelasnya.
Bukan Sekadar Formalitas Administratif
Inisiatif nyata di MAN 2 Malang ini selaras dengan arahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang. Kepala DLH Kabupaten Malang, Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, S.T., M.T., menyebut gerakan ini sesuai dengan Peraturan Menteri LHK Nomor 52 Tahun 2019 tentang Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS). Aturan tersebut menekankan pencapaian target Perilaku Peduli Lingkungan Hidup Siswa (PPLHS) melalui aksi nyata harian, seperti penghematan energi dan pengelolaan sampah.
“Selama ini, tantangan terbesar sekolah Adiwiyata adalah bagaimana menjaga agar gerakan lingkungan tidak terjebak dalam formalitas seremonial dokumen administratif semata. Saya rasa model kolaborasi berbasis modul dan advokasi digital ini sangat layak dijadikan percontohan dan kami rekomendasikan untuk direplikasi di sekolah-sekolah lain se-Kabupaten Malang, karena terbukti efektif membentuk karakter agen green student tanpa menambah beban birokrasi bagi para guru,” tegas Ahmad Dzulfikar.
Sebagai informasi, berlangsungnya perubahan di atas terjadi berkat dukungan Sustainability Fellowship dari CIMB Niaga serta The Indonesian Institute of Journalism (IIJ) dari bulan Juli hingga Agustus 2026. Sebanyak 90 siswa kelas XI MAN 2 Malang telah resmi dilantik menjadi Agen Green Student.
Penyerahan simbolis tote bag kepada perwakilan siswa sebagai tanda resmi pelantikan mereka menjadi Agen Hijau. (Foto: Dani Alifian)Dengan luas area madrasah yang mencapai 6.789 meter persegi, dinamika aktivitas harian tentu mengonsumsi energi dan menghasilkan sampah. Melalui proyek edukasi berbasis Project Based Blended Learning (PjB2L) ini, siswa dilatih kepekaan emosionalnya lewat sastra ekologis untuk mengikis cara pandang antroposentrisme.
Pasca-workshop, pada minggu pertama Agustus 2026 dilakukan proses kurasi naskah cerpen dan puisi siswa. Karya tulis terbaik serta konten Instagram edukatif berkinerja visual paling unggul mendapatkan apresiasi.
Lebih dari itu, modul fisik dari proyek ini diwariskan kepada guru sosiologi dan bahasa Indonesia sebagai materi ajar reguler. Sementara para Agen Green Student mengemban tugas menularkan wawasan ekologis ini kepada adik tingkat mereka secara berkelanjutan.
Foto bersama narasumber, panitia, guru, dan para Agen Green Student MAN 2 Malang usai kegiatan. (Foto: Dani Alifian)Di ujung hari, saat gema bel pulang berdentang di sudut lorong madrasah MAN 2 Malang, anak-anak muda itu berjalan keluar dengan pandangan baru. Mereka menyadari, misi menyelamatkan bumi barangkali terlalu muluk bagi bahu belia mereka. Namun, dengan memastikan lampu kelas padam, menolak kantong plastik, dan menjaga air tetap mengalir seperlunya dari ujung keran, mereka tengah merawat kehidupan. Sebab, dari bangku sekolah yang bersahaja di sudut Turen inilah, solidaritas kosmis dan harapan untuk bumi yang lebih baik, kembali disemai. (dan/aje)




