Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menjelaskan konsep Saadatuna sebagai syarah atas Mabadi Khaira Ummah, prinsip dasar pembentukan umat terbaik yang digagas mantan Ketua PBNU KH Mahfudz Shiddiq.
Ia menjelaskan terdapat lima prinsip utama dalam Mabadi Khaira Ummah, yakni ash-shidqu (kejujuran), al-amanah wal wafa bil ahdi (amanah dan menepati janji), al-adalah (keadilan), al-istiqamah (konsistensi), dan taawun (tolong-menolong dalam kebaikan).
“Prinsip pertama, ash-shidqu, menjadi fondasi utama karena kejujuran merupakan syarat dasar dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Sebelum segala sesuatu, nomor satu itu kejujuran. Makanya KH Mahfudz Shiddiq itu menempatkan ash-shidqu nomor satu paling dulu,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan kejujuran tidak memutarbalikkan fakta. Menurutnya, hubungan sosial maupun aktivitas ekonomi tidak akan berjalan baik apabila diwarnai ketidakjujuran. “Yang bisa kita upayakan adalah bagaimana supaya yang jujur beneran tetap bisa menang, walaupun kejujurannya tidak terlihat,” ujarnya.
Prinsip kedua adalah al-amanah wal wafa bil ahdi, yakni menjaga amanah dan memenuhi janji. Ia menegaskan amanah merupakan titipan yang harus dijaga, bukan dimiliki atau dimanfaatkan di luar peruntukannya.
Baca juga: Waketum MUI Marsudi Syuhud siap maju calon Ketum PBNU
Gus Yahya, sapaannya, mencontohkan data warga NU merupakan amanah yang tidak boleh diperjualbelikan ataupun digunakan untuk kepentingan lain.
“Data warga ini amanah, bukan milik pengurus. Jadi ndak bisa diperjualbelikan. Ndak bisa dipinjam untuk politik atau apa. Dan itu harus ada jaminan,” katanya.
Karena itu PBNU membangun sistem teknologi yang menjamin keamanan data warga agar hanya digunakan untuk kepentingan kemaslahatan mereka.
Prinsip ketiga yakni al-adalah atau keadilan. Gus Yahya mengatakan keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga seluruh pengurus dan warga NU, tanpa memandang wilayah, memperoleh kesempatan dan fasilitas yang sama.
Karena itu PBNU berupaya membangun sistem yang mampu menghadirkan keadilan, sehingga seluruh pengurus dan warga memperoleh kesempatan serta fasilitas pada waktu yang sama.
Prinsip keempat adalah al-istiqamah atau konsistensi. Ketum mengatakan pembangunan organisasi harus berlangsung secara berkesinambungan dan tidak berhenti dalam satu periode kepengurusan.
Baca juga: PBNU tegaskan tak beri toleransi terhadap kekerasan di pesantren
“Yang baik tak harus tuntas di tangan satu orang, tak boleh terputus pada satu periode,” katanya.
Ia menilai fondasi yang telah dibangun perlu diteruskan hingga tuntas agar tidak mangkrak atau kehilangan arah karena penerus tidak memahami rancangan besarnya.
Prinsip terakhir adalah taawun, yakni tolong-menolong dalam kebaikan. Menurut Yahya, semangat saling membantu telah menjadi watak warga NU sejak lama, bukan sekadar program organisasi.
Ia mengatakan yang perlu dibangun organisasi adalah sistem yang mampu mempertemukan pihak yang membutuhkan bantuan dengan pihak yang dapat memberikan pertolongan secara cepat.
Gus Yahya menegaskan taawun merupakan nilai dasar ajaran Nabi Muhammad SAW, yang menjadi landasan untuk saling menjaga dan menguatkan antarsesama.
Baca juga: PBNU tetapkan 501 pengurus sebagai peserta sementara Muktamar ke-35
Ia menjelaskan terdapat lima prinsip utama dalam Mabadi Khaira Ummah, yakni ash-shidqu (kejujuran), al-amanah wal wafa bil ahdi (amanah dan menepati janji), al-adalah (keadilan), al-istiqamah (konsistensi), dan taawun (tolong-menolong dalam kebaikan).
“Prinsip pertama, ash-shidqu, menjadi fondasi utama karena kejujuran merupakan syarat dasar dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Sebelum segala sesuatu, nomor satu itu kejujuran. Makanya KH Mahfudz Shiddiq itu menempatkan ash-shidqu nomor satu paling dulu,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan kejujuran tidak memutarbalikkan fakta. Menurutnya, hubungan sosial maupun aktivitas ekonomi tidak akan berjalan baik apabila diwarnai ketidakjujuran. “Yang bisa kita upayakan adalah bagaimana supaya yang jujur beneran tetap bisa menang, walaupun kejujurannya tidak terlihat,” ujarnya.
Prinsip kedua adalah al-amanah wal wafa bil ahdi, yakni menjaga amanah dan memenuhi janji. Ia menegaskan amanah merupakan titipan yang harus dijaga, bukan dimiliki atau dimanfaatkan di luar peruntukannya.
Baca juga: Waketum MUI Marsudi Syuhud siap maju calon Ketum PBNU
Gus Yahya, sapaannya, mencontohkan data warga NU merupakan amanah yang tidak boleh diperjualbelikan ataupun digunakan untuk kepentingan lain.
“Data warga ini amanah, bukan milik pengurus. Jadi ndak bisa diperjualbelikan. Ndak bisa dipinjam untuk politik atau apa. Dan itu harus ada jaminan,” katanya.
Karena itu PBNU membangun sistem teknologi yang menjamin keamanan data warga agar hanya digunakan untuk kepentingan kemaslahatan mereka.
Prinsip ketiga yakni al-adalah atau keadilan. Gus Yahya mengatakan keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga seluruh pengurus dan warga NU, tanpa memandang wilayah, memperoleh kesempatan dan fasilitas yang sama.
Karena itu PBNU berupaya membangun sistem yang mampu menghadirkan keadilan, sehingga seluruh pengurus dan warga memperoleh kesempatan serta fasilitas pada waktu yang sama.
Prinsip keempat adalah al-istiqamah atau konsistensi. Ketum mengatakan pembangunan organisasi harus berlangsung secara berkesinambungan dan tidak berhenti dalam satu periode kepengurusan.
Baca juga: PBNU tegaskan tak beri toleransi terhadap kekerasan di pesantren
“Yang baik tak harus tuntas di tangan satu orang, tak boleh terputus pada satu periode,” katanya.
Ia menilai fondasi yang telah dibangun perlu diteruskan hingga tuntas agar tidak mangkrak atau kehilangan arah karena penerus tidak memahami rancangan besarnya.
Prinsip terakhir adalah taawun, yakni tolong-menolong dalam kebaikan. Menurut Yahya, semangat saling membantu telah menjadi watak warga NU sejak lama, bukan sekadar program organisasi.
Ia mengatakan yang perlu dibangun organisasi adalah sistem yang mampu mempertemukan pihak yang membutuhkan bantuan dengan pihak yang dapat memberikan pertolongan secara cepat.
Gus Yahya menegaskan taawun merupakan nilai dasar ajaran Nabi Muhammad SAW, yang menjadi landasan untuk saling menjaga dan menguatkan antarsesama.
Baca juga: PBNU tetapkan 501 pengurus sebagai peserta sementara Muktamar ke-35





