Lipstick Effect vs Affordable Luxury, Apa Bedanya?

kompas.tv
10 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi belanja barang mewah. (Sumber: Envato/wayhomestudioo)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Istilah lipstick effect dan affordable luxury menjadi perbincangan di media sosial belakangan ini. Banyak warganet menilai fenomena ini berkaitan dengan kondisi ekonomi Indonesia, termasuk melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS.

Salah satu unggahan yang ramai datang dari akun Threads milik @fel******* yang menyoroti data belanja online sejak awal 2026. 

"Kenaikan pembelian lipstik dan sejenisnya cukup mewakili lipstick effect," tulis akun tersebut.

Baca Juga: BPS: Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Ditopang Konsumsi RT dan Belanja Pemerintah

Unggahan tersebut memicu diskusi, sebagian warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan lipstick effect dan affordable luxury. Keduanya sama-sama menggambarkan kecenderungan konsumen membeli produk yang dianggap mampu meningkatkan suasana hati tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar membeli barang mewah.

Meski sekilas terlihat serupa, lipstick effect dan affordable luxury memiliki makna yang berbeda. Lantas, apa perbedaan lipstick effect dan affordable luxury?

Apa Itu Lipstick Effect?

Mengutip Journal of Personality and Social Psychology, lipstick effect adalah fenomena ketika masyarakat tetap membeli barang-barang kecil yang memberikan kepuasan emosional meskipun kondisi ekonomi sedang melemah. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi, konsumen cenderung menunda pembelian barang bernilai besar seperti rumah, mobil, atau investasi jangka panjang. 

Sebagai gantinya, mereka tetap mengalokasikan pengeluaran untuk produk yang relatif terjangkau, tetapi mampu memberikan rasa senang atau penghargaan terhadap diri sendiri. Produk yang sering dikaitkan dengan fenomena ini antara lain lipstik, kosmetik, parfum, kopi kekinian, makan di restoran, atau produk perawatan diri.

Fenomena ini banyak ditemukan pada kelompok masyarakat kelas menengah yang mengalami tekanan daya beli. Alih-alih menghentikan konsumsi sepenuhnya, mereka mengalihkan pengeluaran ke bentuk "kemewahan kecil" sebagai kompensasi psikologis.

Istilah lipstick effect kerap dikaitkan dengan pemikiran Juliet Schor dalam bukunya The Overspent American (1998). Namun, istilah tersebut mulai populer setelah Leonard Lauder, pewaris perusahaan kosmetik Estée Lauder, mengamati lonjakan penjualan lipstik setelah tragedi Serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. 

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Desy-Afrianti

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • affordable luxury
  • Lipstick effect
  • Belanja barang mewah
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Pramusapa TransJ Dampingi Penumpang Disabilitas, Pramono Beri Apresiasi
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Praperadilan III soal Ganti Rugi Tak Diterima, Roy Suryo Siapkan Gugatan Baru
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Jabar Tetapkan 2 Tersangka Hoaks & Penghasutan terhadap Presiden di Medsos
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Penanganan Pasien AIDS-TBC Terhambat Stigma, Puskesmas di Yogya Perkuat Edukasi
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Periksa Pendiri IAW, Dalami Dugaan Pemberian Swasta kepada Pegawai Bea Cukai
• 2 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.