PROBOLINGGO, DISWAY.ID – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan operasi terpadu untuk menangani kebakaran hutan yang masih terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Hingga Rabu 5 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, api di Blok Watu Gede masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api, dan relawan terus bekerja di lapangan untuk membatasi penyebaran api sekaligus melindungi kawasan konservasi dari kerusakan yang lebih luas.
Kebakaran melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, serta semak belukar.
BACA JUGA:Kemarau Panjang Sampai Oktober 2026, Jakarta Siaga Krisis Air hingga Kebakaran dan ISPA
Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, mulai dari medan yang curam, perbukitan terjal, vegetasi yang mudah terbakar, hingga keterbatasan sumber air.
Untuk mendukung operasi, pasokan air dilakukan secara bertahap menggunakan truk tangki menuju lokasi yang masih dapat dijangkau petugas.
Deteksi awal kebakaran berasal dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) milik Kementerian Kehutanan yang mengolah data titik panas (hotspot) dari berbagai satelit, termasuk NASA-MODIS.
BACA JUGA:Pramono Bakal Kejar Ganti Rugi ke Pengelola TPS Liar di Kramat Jati yang Kebakaran
Setelah terdeteksi pada Selasa 4 Agustus 2026, informasi tersebut langsung diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan sehingga proses pemadaman dapat segera dilakukan.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa kebakaran di kawasan konservasi harus segera ditangani karena berdampak pada kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasan dipulihkan. Kami juga mengajak masyarakat ikut mencegah kebakaran dengan menjaga aktivitas di sekitar kawasan serta segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda kebakaran,” ujarnya, Kamis 6 Agustus 2026.
BACA JUGA:Kebakaran KM Mutiara Sentosa II, Menhub Dudy Purwagandhi Pastikan Evakuasi Berjalan Optimal
Demi keselamatan pengunjung dan mendukung proses pemadaman, Balai Besar TNBTS menutup sementara akses wisata melalui pintu Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta pintu Senduro di Kabupaten Lumajang sejak 3 Agustus 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.
Sementara itu, akses melalui Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan masih dibuka secara terbatas hanya sampai kawasan Lautan Pasir. Adapun kawasan Savana ditutup sepenuhnya bagi wisatawan.
- 1
- 2
- »





