Polisi telah memeriksa 13 saksi terkait kasus meninggalnya AAF (13), pelajar SMP di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang diduga menjadi korban perundungan atau bullying. Mayoritas saksi yang diperiksa merupakan kakak kelas korban.
Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M. Faizal Wildan Umar mengatakan, dari 13 anak yang telah dimintai keterangan, sebagian besar merupakan senior korban di sekolah.
"Sudah 13 anak, mayoritas yang diperiksa kakak kelas korban," ujar Wildan, Rabu (6/8).
Meski demikian, polisi belum menetapkan pihak yang terlibat dalam kasus meninggalnya AAF. Penyidik masih melakukan pendalaman berdasarkan keterangan para saksi yang telah diperiksa.
"Mohon doanya semoga bisa kami selesaikan puzzlenya," kata Wildan.
Terkait penyebab kematian korban, Wildan mengatakan pihaknya masih menunggu hasil autopsi dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jawa Tengah. Polisi belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban sebelum hasil tersebut keluar.
"Hasil autopsi belum keluar, sekitar satu sampai dua minggu," ujarnya.
Sebelumnya, pelajar SMP berinisial AAF (13), warga Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan.
AAF meninggal dunia pada Minggu (2/8) malam setelah sempat menjalani perawatan selama satu hari di RS Mardhatillah Randudongkal. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada polisi karena menduga kematian AAF tidak wajar. Polisi hingga kini masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti peristiwa tersebut.





