Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkap temuan awal investigasi terkait paper yang diunggah ke platform Social Science Research Network (SSRN) dan mencantumkan nama Presiden RI serta sejumlah pihak lain. Kementerian menegaskan keberadaan paper tersebut tidak dapat dijadikan bukti adanya nominasi resmi Nobel seperti yang ramai dibicarakan.
Tim investigasi yang dibentuk sejak 4 Agustus 2026 itu menyatakan sejumlah nama yang tercantum dalam paper mengaku tidak mengetahui, tidak pernah dimintai persetujuan, dan tidak terlibat dalam penyusunan maupun pengunggahan naskah tersebut. Temuan itu diperkuat dengan adanya permintaan maaf dari penulis utama berinisial DD atas peristiwa tersebut.
“Sejak dibentuk, tim telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mengumpulkan informasi dan dokumen, serta meminta klarifikasi dari pihak-pihak yang terkait,”tulis Kemindiktisaintek dalam pernyataan resmi yang dikutip Kamis (6/8).
Kementerian juga menemukan bahwa DD belum menyandang jabatan akademik guru besar maupun berafiliasi sebagai dosen di perguruan tinggi. Berdasarkan informasi yang dihimpun tim, yang bersangkutan baru menjalani sidang promosi doktor beberapa waktu lalu
Dalam siaran persnya, Kemdiktisaintek menilai perlu memberikan penjelasan mengenai SSRN agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Menurut kementerian, SSRN merupakan repositori atau platform publikasi preprint tempat peneliti membagikan naskah ilmiah, bukan lembaga yang berwenang dalam proses Nobel.
“Karena itu, keberadaan suatu paper di SSRN tidak berarti isi maupun klaim yang dimuat di dalamnya telah diverifikasi atau diakui oleh Komite Nobel,” tulis kementerian.
Kementerian juga menegaskan pencantuman nama seseorang dalam sebuah paper SSRN tidak otomatis menunjukkan bahwa yang bersangkutan mengetahui atau menyetujui pencantuman namanya sebagai penulis. Identitas penulis sepenuhnya diinput oleh pihak yang mengunggah naskah. Jika terdapat nama yang dicantumkan tanpa persetujuan, hal tersebut merupakan persoalan etika publikasi ilmiah yang harus diklarifikasi sesuai ketentuan.
Selain itu, penggunaan istilah nomination dalam judul paper juga tidak dapat dimaknai sebagai nominasi resmi Nobel. Kemdiktisaintek menjelaskan proses nominasi Nobel memiliki mekanisme tersendiri yang hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Identitas nominator maupun pihak yang dinominasikan juga dirahasiakan oleh Komite Nobel selama 50 tahun.
Dengan demikian, menurut kementerian, keberadaan paper di SSRN tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah memperoleh nominasi resmi Nobel.
Kemdiktisaintek menyatakan investigasi masih terus berjalan. Tim akan melanjutkan pendalaman secara objektif dan profesional. Apabila ditemukan pelanggaran etika akademik maupun ketentuan lain yang berlaku, kementerian akan mengambil langkah sesuai kewenangannya. Hasil investigasi akan diumumkan setelah seluruh proses klarifikasi selesai.
Sebelumnya Paper berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth setebal 69 halaman mencantumkan nama Prabowo Subianto sebagai penulis pertama, disusul Dian Damayanti dan sejumlah nama lain.
Afiliasi yang dicantumkan antara lain European Alliance for Innovation, Universitas Borobudur Jakarta, Management and science university, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, hingga Universitas Negeri Jakarta.
Isi paper tersebut secara khusus membangun argumen bahwa Program MBG dapat diposisikan bukan hanya sebagai program kesejahteraan sosial, tetapi juga sebagai model pembangunan ekonomi dan perdamaian. Program itu disebut dapat memperkuat ketahanan pangan, melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah, petani lokal serta rantai pasok berbasis teknologi.
Paper tersebut dipublikasikan di SSRN pada 31 Maret 2026 dengan keterangan tanggal penulisan 13 Februari 2026. Dalam halaman SSRN, Dian Damayanti tercantum menggunakan gelar Prof. Dr. dan memiliki afiliasi dengan European Alliance for Innovation, serta Universitas Borobudur Jakarta. SSRN juga mencantumkan Prabowo Subianto sebagai penulis dengan afiliasi Presiden Republik Indonesia.




