Komisi III Minta Polisi Usut Tuntas Kematian Mantan Istri Brigadir ISH di Medan

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Anggota Komisi III DPR Bimantoro Wiyono meminta Polda Sumatera Utara mengusut tuntas kasus meninggalnya perempuan berinisial WLG (35), mantan istri anggota Polri berpangkat Brigadir berinisial ISH, di Medan.

Ia meminta proses penyelidikan harus dilakukan secara profesional dan transparan. Bimantoro mengatakan, setiap kasus kematian yang memunculkan dugaan ketidakwajaran harus diungkap secara terang benderang agar memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi keluarga korban.

“Setiap kematian yang menimbulkan dugaan ketidakwajaran wajib diungkap secara terang benderang. Negara harus hadir memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi keluarga korban. Jangan sampai muncul ruang spekulasi yang justru menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum,” tegas Bimantoro dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).

Menurutnya, berbagai kejanggalan yang disampaikan pihak keluarga korban harus menjadi perhatian serius penyidik. Karena itu, polisi diminta tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian dan tidak hanya berpatokan pada satu dugaan semata.

Bimantoro mendorong penyelidikan dilakukan dengan pendekatan scientific crime investigation. Ia meminta seluruh alat bukti diperiksa secara menyeluruh, mulai dari hasil autopsi, olah tempat kejadian perkara (TKP), uji balistik, digital forensik, hingga pemeriksaan seluruh saksi yang mengetahui peristiwa tersebut.

Bimantoro juga meminta polisi mengusut asal-usul penggunaan senjata api yang diduga digunakan dalam peristiwa itu. Menurutnya, penyidik perlu memastikan apakah prosedur penyimpanan maupun penguasaan senjata tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Jangan ada fakta yang ditutup-tutupi. Seluruh alat bukti harus dibuka secara objektif dan profesional. Apabila ditemukan adanya unsur pidana maupun pelanggaran disiplin atau etik, maka harus diproses tanpa pandang bulu,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila dalam proses penyelidikan ditemukan dugaan keterlibatan anggota Polri, maka penanganan perkara harus dilakukan secara independen dan akuntabel agar tidak memunculkan kesan adanya perlindungan terhadap oknum tertentu.

Meski demikian, Bimantoro mengaku tetap menaruh kepercayaan kepada Polri untuk mengusut kasus tersebut secara terbuka dan profesional. Menurutnya, penanganan perkara ini akan menjadi salah satu tolok ukur komitmen institusi dalam melakukan pembenahan internal.

“Saya percaya Polri akan membongkar kasus ini secara transparan dan profesional. Masyarakat menunggu kepastian hukum yang berdasarkan fakta dan alat bukti. Dengan keterbukaan dalam proses penyelidikan, saya yakin kepercayaan publik terhadap institusi Polri akan semakin terjaga,” tegasnya.

Selain itu, Bimantoro meminta penyidik menjaga komunikasi dengan keluarga korban agar setiap perkembangan penanganan perkara dapat diketahui secara jelas dan tidak menimbulkan informasi yang simpang siur.

“Hak keluarga korban untuk memperoleh informasi yang jelas harus dihormati. Transparansi merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum,” pungkas dia.

Adapun Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan telah menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap luka-luka lebam pada tubuh mantan istri Brigadir ISH, berinisial WLG, yang diduga bunuh diri bukan merupakan bentuk kekerasan.

WLG menggunakan senjata api milik mantan suaminya, yang merupakan anggota polisi berpangkat Brigadir ISH, untuk melakukan bunuh diri.

Hal itu dijelaskan oleh Mistar Ritonga, dokter forensik RS Bhayangkara Medan. Kata Mistar, luka-luka lebam yang berada di tubuh WLG, termasuk punggung, kaki dan jari yang kebiru-biruan tersebut merupakan bentuk lebam mayat.

“Itu yang disebut dengan lebam mayat. Lebam mayat itu ialah penumpukan cairan darah di posisi tubuh terbawah. Jadi cerita gravitasi bumi itu dan itu pasti terbentuk. Dan itu salah satu juga menandakan bahwa ini kalau misalnya pada bayi dia itu menunjukkan salah satu bayinya lahir hidup atau lahir mati kalau dijumpai lebam mayat itu,” kata Mistar saat ditemui di Polrestabes Medan, Kamis (6/8).

“Jadi itu fisiologis, berbeda nanti dia lebamnya itu oleh karena kekerasan. Ini kan lokasinya dia pada posisi terbawah semua. Kalau dia kekerasan tuh di mana saja benturannya di situ. Memang warnanya sama, karena yang terlihat itu adalah sama-sama warna darah itu atau hemoglobinnya,” sambung Mistar.

Menurut Mistar, lebam-lebam pada mata WLG juga bukan merupakan kekerasan. Sebab, luka tembak senjata api yang digunakan oleh WLG membuat salah satu pembuluh darah atau sirkulus Willis mengalir darah pada kelopak matanya. Sehingga, kalau pembuluh darah tersebut pecah maka terjadi hematoma kacamata (lebam atau penumpukan darah).

Sebelumnya, WLG ditemukan tewas di rumahnya di Kelurahan Cinta Damai, Medan Helvetia, Kota Medan, Minggu (2/8). Ia bunuh diri dengan menembakkan pistol milik mantan suaminya yang anggota polisi berpangkat Brigadir berinisial ISH.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rani Zamala Akhirnya Wujudkan Mimpi Kuliah, Dapat Dukungan Besar dari Tanri Abeng University 
• 19 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Tidak Ada Kerugian Negara, Dua Karyawan Bank Sulselbar Tetap Divonis Korupsi
• 11 jam laluterkini.id
thumb
Veda Ega Pratama Asapi Pimpinan Klasemen di Moto3 Inggris 2026
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Terima Hibah Lahan 1,2 Hektare, Polda Sumsel Bangun Gedung Layanan BPKB
• 15 jam laludetik.com
thumb
Latihan Perang, Presiden Taiwan Dievakuasi dengan Kendaraan Lapis Baja
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.