-
-
-
-
-
Pemerintah terus memperkuat langkah antisipasi dampak El Niño dan musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, demi menjaga pasokan air bagi kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian. Berdasarkan informasi dari keterangan tertulis Humas Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tercatat telah menangani kekeringan di 492 lokasi se-Indonesia per 5 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, 105 lokasi di antaranya merupakan lahan persawahan seluas 22.210 hektare yang ditangani untuk menjaga produktivitas hasil pertanian. Sisanya, 387 lokasi berupa kawasan permukiman yang penanganannya bertujuan memenuhi kebutuhan air bersih bagi 155.228 jiwa penduduk. Secara keseluruhan, 442 lokasi dilaporkan sudah tuntas ditangani, sementara 50 lokasi lainnya masih berjalan prosesnya.
Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan, ketersediaan air menjadi elemen krusial dalam menopang pembangunan yang berkelanjutan, sehingga penanganan kekeringan mesti dijalankan dengan cepat, terarah, dan menyeluruh. "Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, air menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga," ujar Dody seperti dikutip dari laman Kementerian PU, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Kuasa Hukum Roy Suryo Jelaskan Sejarah dan Penguatan Lembaga Praperadilan di KUHAP Baru
Berbagai langkah tanggap darurat pun dijalankan, baik di sektor pertanian maupun permukiman. Di sektor pertanian, upaya yang ditempuh antara lain pemompaan air dari sungai menuju areal persawahan, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, perbaikan saluran tersier, pemasangan sandbag, optimalisasi saluran air, hingga instalasi pipa pengaliran.
Adapun di sektor permukiman, fokus penanganan diarahkan pada distribusi air bersih via truk tangki, pengeboran sumur baru, penyambungan jaringan pipa, serta kajian terhadap potensi sumber air alternatif. Untuk mempercepat respons di lapangan, pemerintah turut menyiagakan berbagai peralatan pendukung seperti pompa bergerak, armada truk tangki, dan balai-balai Kementerian PU yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Selain penanganan bersifat darurat, Kementerian PU juga secara rutin memantau kondisi sumber daya air serta mengatur operasional bendungan secara adaptif, guna menjaga stabilitas pasokan air baku, irigasi, dan kebutuhan masyarakat selama musim kemarau berlangsung.
Sebagai pelengkap strategi tersebut, pemerintah turut menerapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada kondisi-kondisi tertentu. Salah satu penerapannya dilakukan di Bendungan Jatiluhur pada 30 Juli 2026 lalu, sebagai upaya mitigasi tambahan untuk mengamankan ketersediaan air di wilayah yang dilayani bendungan tersebut.





