Suara gemericik air terdengar seperti biasa dari sebuah selokan di Jalan Nusa Indah IV, RT 08/RW 04, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Namun, pemandangan berbeda terlihat ketika mendekat.
Di atas saluran air itu terdapat kolam yang dipenuhi ikan lele. Selokan tersebut dibangun bertingkat. Bagian bawah tetap berfungsi sebagai saluran drainase, sementara bagian atas dimanfaatkan warga sebagai tempat budidaya lele.
Di tengah permukiman padat, ruang yang biasanya hanya menjadi jalur aliran air disulap menjadi sumber pangan sekaligus penggerak ekonomi warga.
Pengurus RT 08 Malaka Jaya Bidang Pembangunan, Waluyo (60), mengatakan kolam di atas saluran air itu memang diperuntukkan bagi budidaya lele secara komersial.
“Kalau yang di depan itu berarti untuk komersil. Kita budidayakan, kita besarkan pada saat sudah memungkinkan untuk kita jual, kita jual,” kata Waluyo saat ditemui kumparan, Sabtu (8/8).
Disesuaikan dengan Permintaan PembeliLele yang dipanen tidak langsung dijual begitu saja. Warga lebih dulu menyesuaikan ukuran ikan dengan kebutuhan pembeli.
Menurut Waluyo, setiap pembeli memiliki permintaan berbeda. Ada yang menginginkan satu kilogram berisi tujuh ekor, delapan ekor, hingga sepuluh ekor.
"Kita ambil sampelnya. Oh ini berarti bisa satu kilo isi tujuh, isi delapan, isi sepuluh. Kadang-kadang tinggal permintaan dari pembeli. Ada yang minta ‘saya minta sekilo yang isi tujuh, isi delapan’. Kita carikan,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas, lele diberi pakan pelet dan daun pepaya.
“Kalau yang di depan itu mungkin agak beda dengan lele yang di pasar. Karena kita betul-betul pure pelet dengan daun pepaya,” katanya.
Menurut Waluyo, sampel lele tersebut juga pernah diuji di laboratorium. Hasilnya menunjukkan kualitas ikan yang dibudidayakan tergolong baik sehingga warga menyebutnya sebagai "lele sehat".
“Diambil sampelnya, diujicoba di lab, ternyata memang termasuk kualitas lele yang bagus. Makannya kita bilang lele sehat,” ujarnya.
Ada Kolam Gizi untuk WargaBudidaya ikan di lingkungan itu tidak semata-mata bertujuan komersial.
Masih di kawasan yang sama, deretan akuarium berisi lele dan ikan hias berjajar di sisi jalan. Lele di kolam tersebut dipelihara khusus untuk program kolam gizi.
Setiap dua hingga tiga bulan sekali, ikan dipanen dan dibagikan kepada kelompok warga yang telah didata.
"Setiap dua, tiga bulan sekali kita panen, kita bagikan,” ujar Waluyo.
Penerima manfaat diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti lansia, balita, dan ibu hamil.
“Kita ada daftar yang lansia berapa, ibu hamil berapa, balita berapa orang. Nah dari daftar-daftar itu kita sudah tahu. Jadi walaupun untuk warga tidak begitu saja setiap warga bisa mengambil karena kita memang sudah dedikasikan untuk lansia, balita, ibu hamil,” tuturnya.
Diolah Menjadi Produk UMKMLele hasil budidaya juga dikembangkan menjadi berbagai produk olahan melalui pelaku UMKM setempat.
Selain dijual dalam kondisi segar, lele diolah menjadi produk marinasi, fillet, hingga abon.
“Penjualannya ada beberapa macam. Ada lele segar istilahnya, yang hanya dibersihkan, potong, tapi ada juga lele yang kita olah. Karena kita ada UMKM. UMKM itu dia akan mengolah lele, ada yang marinasi, ada yang fillet, ada yang untuk abon lele,” kata Waluyo.
Inovasi tersebut juga menarik perhatian banyak pihak. Menurut Waluyo, tidak sedikit tamu yang datang untuk melihat sekaligus mempelajari konsep pemanfaatan selokan bertingkat itu.
"Semoga terus berkembang, jadi tidak hanya berhenti di sini dan kita kembangkan. Karena banyak juga orang-orang yang mulai belajar dari sini. Jadi kalau tamu-tamu datang tuh mereka banyak yang belajar,” tuturnya.
Kini, selokan bertingkat di RT 08 Malaka Jaya tidak lagi sekadar menjadi saluran air. Di bagian bawah, air tetap mengalir sebagaimana mestinya.
Di bagian atas, ratusan lele dibesarkan. Sebagian dipanen untuk dijual, sebagian lainnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan melalui program kolam gizi. Di sudut lain, ikan hias mempercantik lingkungan.
Satu ruang, tetapi menghadirkan fungsi lingkungan, ekonomi, sekaligus ketahanan pangan bagi warga.





