Indonesia Bidik Posisi Anchor Agroindustri di BRICS

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia mulai membidik peran yang lebih strategis dalam kerja sama industri negara-negara BRICS. Pemerintah mengusulkan agar Indonesia menjadi anchor atau penggerak utama untuk sektor agro-based industry di antara negara anggota kelompok tersebut.

Usulan itu disampaikan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, dalam pembukaan Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Faisol mengatakan, gagasan tersebut sebelumnya telah disampaikan Indonesia dalam pertemuan para menteri perindustrian negara-negara BRICS. Usulan itu selanjutnya akan menjadi salah satu bahan pembahasan dalam deklarasi BRICS yang dijadwalkan berlangsung September 2026.

"Indonesia siap untuk menjadi anchor dari negara-negara BRICS khusus sektor agro-based industry," ujar Faisol.

Menurut Faisol, Indonesia memiliki modal sumber daya yang kuat untuk mengambil peran tersebut. Kekayaan sumber daya hayati dinilai dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri berbasis agro sekaligus membuka peluang kerja sama dengan negara-negara BRICS.

Ia menilai kerja sama tersebut penting untuk memperluas akses produk agroindustri Indonesia ke pasar internasional. Tidak hanya komoditas mentah, produk turunannya juga diharapkan dapat memiliki penetrasi yang lebih dalam di pasar global.

"Kenapa kami mengusulkan? Karena Indonesia memiliki kekuatan yang besar sekali untuk menjadi negara berbasis agro-industri yang bisa membantu berbagai bangsa dan berbagai negara untuk mengembangkan agro-industri seperti yang ada di Indonesia," katanya.

Pasar Artisan Global Terus Tumbuh

Faisol melihat peluang tersebut semakin terbuka seiring dengan pertumbuhan pasar makanan dan minuman artisan global.

Ia menyebut nilai pasar makanan dan minuman artisan pada 2025 diperkirakan mencapai US$332 miliar. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$627,3 miliar pada 2032.

Menurutnya, kondisi itu menjadi peluang bagi industri dalam negeri untuk memperkuat daya saing produk artisan sekaligus mengembangkan pasar ekspor.

Sejumlah subsektor dinilai memiliki prospek, mulai dari industri olahan kakao, teh, kopi, hortikultura, susu, hingga produk fermentasi berbasis sumber daya lokal.

Keragaman bahan baku yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu modal untuk mengembangkan produk-produk tersebut. Pengembangan industri juga dinilai dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Kopi hingga Kakao Punya Potensi Besar

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah industri pengolahan kakao. Faisol menyebut Indonesia saat ini merupakan produsen produk olahan kakao terbesar keempat sekaligus produsen biji kakao terbesar ketujuh dunia.

Potensi serupa juga terlihat pada industri kopi. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia. Pada 2025, ekspor kopi olahan Indonesia mencapai US$692 juta atau meningkat 4,36 persen.

"Industri pengolahan kopi, Indonesia menjadi produsen kopi terbesar keempat di dunia dengan mencapai peningkatan kinerja ekspor kopi olahan mencapai 692 juta US dolar pada tahun 2025 atau meningkat sebesar 4,36 persen," ujar Faisol.

Selain kopi dan kakao, industri pengolahan teh juga memiliki ruang untuk dikembangkan. Faisol menyebut pasar ekstraktif teh pada 2025 mencapai US$5,6 juta, sementara pasar suplemen teh hijau mencapai US$909,9 juta.

Dari sektor hortikultura, nilai ekspor produk Indonesia pada 2025 mencapai US$544,8 juta. Nanas kaleng menjadi salah satu komoditas yang paling diminati pasar ekspor.

Sementara itu, industri pengolahan susu dinilai memiliki peluang yang semakin besar, terutama untuk produk bernilai tambah seperti keju dan gelato atau es krim.

Tembakau Premium Jadi Produk Unggulan

Faisol juga menyoroti industri hasil tembakau yang dinilai memiliki daya saing di pasar internasional.

Indonesia saat ini tercatat sebagai eksportir produk hasil tembakau terbesar keenam dunia. Salah satu produk unggulannya adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah dikenal di pasar global.

"Industri hasil tembakau, kinerja ekspor industri hasil tembakau juga menunjukkan kemampuan yang kuat menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar keenam. Salah satu produk hasil tembakau unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah diakui pasar global," tutur Faisol.

Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri

Baca Juga: Setelah Raih BRICS Award 2025, Buku Puisi Esai Denny JA Akan Diterjemahkan ke 35 Bahasa

Baca Juga: Kemenperin Siapkan Insentif bagi Kawasan Industri yang Bertransformasi Hijau

Selain itu, industri berbasis fermentasi juga memiliki prospek pengembangan. Potensi pasar pangan fermentasi pada 2025 disebut mencapai US$188,33 juta dan diproyeksikan terus tumbuh hingga 2032.

Menurut Faisol, pengembangan produk artisan juga tidak berhenti pada sektor makanan dan minuman. Produk-produk tersebut berpotensi dikembangkan lebih jauh dan dikaitkan dengan subsektor ekonomi kreatif, seperti desain dan media.

Specialty Indonesia Jadi Ruang Kolaborasi

Faisol berharap Specialty Indonesia 2026 dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas.

Kolaborasi tidak hanya diarahkan kepada konsumen akhir, tetapi juga pelaku bisnis seperti hotel, restoran, katering internasional, hingga pihak yang dapat membantu memperkuat branding produk Indonesia.

Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri.

"Mari kita jadikan Specialty Indonesia 2026 sebagai momentum memperkuat kolaborasi, memperluas pasar, melahirkan inovasi, membangun industri makanan dan minuman artisan yang semakin diperhitungkan di pasar domestik dan pasar mancanegara," kata Faisol.

Menurutnya, penguatan industri berbasis sumber daya lokal pada akhirnya diharapkan dapat membuat industri nasional tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga semakin mampu bersaing di pasar global.

Dengan peran yang lebih besar di BRICS, Indonesia berharap potensi agroindustri nasional dapat dimanfaatkan untuk membangun kerja sama lintas negara sekaligus membuka akses pasar baru bagi produk bernilai tambah dari dalam negeri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Dia Putri Nusantara, Salah Satu Wakil Indonesia di Srikandi Merdeka Cup 2026
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Seluruh Kementerian dan Lembaga di Lingkungan Ditjen PKN I Raih Opini WTP dari BPK
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Pelajar Didata Usai Hendak Tawuran di Kebon Jeruk Jakbar, jika Mengulang Dipidana
• 55 menit lalukompas.com
thumb
Kaki gatal terus? Kenali 5 penyebab, cara mengatasi dan mencegahnya
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Keluarga Sutrimo Pertanyakan Formulir Kronologi-Dompet dan Hp yang Tak kembali
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.